Saturday, December 4, 2010

pelangi

4 Desember 2010

bodoh.bodoh.
kukutuki diri ini berulang kali.

mungkin dunia bingung.
tentang hidupku yang selalu terlihat biru, damai dan indah.
tapi itu hanya terlihatnya saja, bertahun-tahun waktu sebenarnya yang ada hanya lah hitam.
mengapa? bukankah kuning lebih ceria? atau pink penuh cinta? sekalian saja merah gempita?

haha. kutertawakan diri ini yang ternyata bodoh.
menghabiskan detik-detik warna kehidupannya hanya untuk bergelap-gelap ria dalam malam.
duduk, berdiri atau terlentang, menengadahkan kepala, menatap langit kelam. hingga keram leher dan sakit mata.
haha. kutertawakan diri ini yang ternyata lemah.
menghabiskan ruang-ruang pikir cemerlangnya hanya untuk merenung-renung ria dalam asa.
tangis, tawa atau marah, membalik-balik memori, dengan hanya membaca satu nama. hingga lelah.

ya.bodoh.lemah.cukup sudah.

aku ingin kembali.menjadi cerdas.kuat.
lupakan saja langit malam itu dan semua yang datang bersamanya,
lupakan saja asa ruang pikir itu dan semua yang ada di dalamnya,

saatnya aku menyadari

bahwa hariku kini adalah PELANGI
merah untuk gempita, gelak tawa dan riangku bersama teman-teman yang luar biasa
jingga untuk kebijaksanaan, pesona dan teladanku untuk adik-adik yang kucinta
kuning untuk ceria, canda dan senyum lebarku bersama mama papa terbaik yang pernah ada
hijau untuk taat, tunduk dan penghambaan diriku pada Sang Pencipta
biru untuk damai, indah dan tenangku dalam pelukan sahabat-sahabat jiwa
nila untuk keteguhan, semangat dan tekadku dalam meraih mimpi-mimpi dan asa
ungu untuk cinta, kerelaan dan pengorbananku untuk seseorang yang akan Tuhan pilihkan untukku nantinya


kini
yang aku tahu
akan selalu ada pelangi
setelah badai merusak segalanya
maka tugasku adalah mewarnainya
terima kasih Tuhan, untuk semua. :)


*selamat tinggal hitam, kelam, malam, dan bintang

Saturday, November 27, 2010

redupnya satu bintang

Rabu, 25 November 2010

ketika otakku mulai lelah dengan geopolitik,geostrategi,pancasila,ham,apalah.pelajaran yang membuat pemikiranku mengawang bebas antara terapung dan tenggelam.ku berhenti sejenak, duduk, dan memulai kebiasaan lama yang kulakukan dalam kelamnya hari.merenung

membuka lembaran memori.yang tertumpuk, terhimpit, berdebu dalam fana ku.membalik-balik hari kemarin, warna-warni masa lalu.hingga kutemukan satu potret.potret kelabu yang entah kenapa tidak berdebu.ku amati tiap titik potret itu dengan ragu-ragu.mengingat kembali momen redupmu

saat kemilau gemintang lainnya begitu terang.menyambut gembira pesta perayaan bersama rembulan.satu bintang disitu malah meredup dan kelam.tak ada kata.namun aku lebih dari sekedar mengerti untuk memahami.bahwa terangnya hilang hanya karena kejora mendadak pergi.kejora yang selalu paling terang.dikelilingi gemintang lain yang ingin bersenang-senang.membuatnya redup, seperti sedih dan menyadari.sadar diri tentang kejora yang terlalu menyilaukan.

aku tahu.aku disini, cuma setitik kecil dalam jarak ribuan tahun cahaya dari satu bintang itu.terlalu jauh bahkan untuk sebuah pesawat luar angkasa tempuh dengan kecepatan supernya.namun redupnya, bahkan melebihi kecepatan cahaya, menghantarkan beribu luka ke bawah rusuk terakhirku.membuat segumpal hati disitu remuk redam, tenggelam dalam tangisan.

namun, seperti biasa, yang perlu dan boleh kulakukan hanya berusaha tersenyum, mengalihkan pandangan dari langit malam itu, dan mengirimkan pesan singkat kepada Tuhan.

cuma satu bintang

10 November 2010, di kamar kos ku...

Telah tiba saat dimana mulai kutemukan lagi irama kehidupanku.saat dimana suara rapuhku kembali menyenandungkan melodi indah itu.saat dimana diri ini mulai berdiri dan bahkan berlari di atas kakinya sendiri.saat dimana tangan lemah ini telah mulai berani berkarya kembali.saat dimana, aku kuat dalam pertahananku.sendiri.

Sesaat itu, semua terasa menyenangkan.hilang.aku tenang, fokus bahkan semangat merencanakan keseluruhan hidupku.mimpi2 itu serasa dekat.
Sesaat itu rasanya, Tuhan mengenggam erat hati dan pikiranku.menyempurnakan fungsi keduanya.dan tidak ada lagi ragu,cemas,atau apapun itu, sesaat dimana Ia mengenggam diri ini erat.

Namun, kusadari.ketika melihat kembali dengan lebih teliti.selama ini aku hanya berlari, berusaha menjauhi.
sayangnya, bumi ini bundar.karenanya, ketika menatap langit kelam itu masih di atas sana, selalu kutemukan satu bintang.dan pertahananku selalu runtuh karenanya.

Ingin kumaki diri ini, diri yang begitu bodoh
"ITU CUMA SATU BINTANG!!!BODOH!"

cuma satu bintang, tapi seluruh hati ini berbunga hanya karena senyumnya
cuma satu bintang, tapi seluruh jiwa ini remuk hanya karena sedihnya
cuma satu bintang, tapi.

Allah.
segerakanlah matahari
datangkanlah pagi
usir semua kebodohan ini
Allah.
genggamlah kembali
rengkuhkanlah sayap2 malaikatMu pada diri ini
hingga tak kusadari lagi lelapnya mentari dan kelamnya hari.
hingga tak kutatap lagi, tak kulihat lagi, atau biarkan bumi berhenti berotasi.

tentang satu bintang

minggu, 12 September 2010, malam terakhir sebelum keberangkatanku kembali ke ibukota.

dalam naungan langit malam itu, aku berdiri dipinggir sawah-sawah yang mulai menghijau dan rumah-rumah yang masih semarak akan gegap gempita perayaan kemenangan. sahut menyahut adzan seperti harmoni alam yang mengiringi renunganku.

langit malam di tanah kelahiranku itu sangat indah, terutama malam ini. bulan sabit, seolah menjadi pemeran utama, bersinar terang benderang, ditemani beribu bintang yang juga berkelap-kelip indah. sungguh, tak dapat ku ungkap dengan kata-kata betapa indahnya malam ini, dan betapa aku bersyukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan bagiku untuk dapat menikmati goresan kuasaNya.

yang sedari tadi menjadi perhatianku adalah tentang satu bintang. Satu bintang yang begitu terang, sangat berdekatan dengan bulan, seolah tak ingin kalah oleh sinarnya. Satu bintang yang setiap malam selama bertahun-tahun ini terus menjadi perhatianku, bukan, bukan karena cahayanya ataupun letaknya yang sangat berdekatan dengan bulan, tapi memang karena hanya bintang itu saja yang dapat aku lihat. Meski bintang-bintang lainnya bersinar seterang apapun, semuanya sama saja bagiku, kecuali satu bintang. Bintang yang dalam terangnya aku bahagia, dan yang dalam redupnya aku pun berduka. Bintang yang begitu jauh dari genggam jangkauan tanganku, namun entah mengapa begitu dekat dari letak sudut hatiku

Bintang yang mungkin tak pernah sekalipun sadar
bahwa aku
ada

Tuhan, bintang itu ciptaanmu, aku tahu. biarkan ia terus menjauh bersama bulan dan bantulah aku mengikhlaskannya. bantulah aku untuk tidak lagi hanya menatap satu bintang itu saja, karena bila terus begini akan begitu KELAM lah duniaku.
Cukupkanlah bagiku hanya Engkau saja yang menerangi hati.

terima kasih untuk hadirmu

Kamis, 21 Oktober 2010
di kamar kost ku yang hening

baru saja ditelpon oleh seorang yang teramat kusayangi karena Allah

Awalnya, aku mulai putus asa. Kehidupan baru ini membuat jiwaku serasa meronta, melawan tanpa daya. Semua mulai tak terkendali dan aku yang dulu perlahan pergi. Diri ini serasa bukan milikku lagi. Melihat begitu banyak hal 'aneh' yang terjadi bertubi-tubi dan dianggap 'lumrah' disini, aku mulai resisten, resisten atas semua keanehan itu dan yah, biasa saja. Hidupku ini serasa tak berbentuk lagi, tidur di siang hari saat seharusnya aku melahap nikmat semua ilmu dan terbangun di malam hari untuk kemudian tergesa mempersiapkan diri. belajar di saat seharusnya aku terlelap dalam mimpi, dan bermimpi di saat seharusnya aku belajar.

Aku benci begini. Aku ingin kembali. menjadi diriku yang dulu lagi. menjadi selalu lebih baik dikemudian hari. Aku benci dan mulai meragukan semua ini. Meragukan apakah keputusan yang kubuat ini adalah mimpi yang pada realitanya, tak seharusnya kumiliki??aku sendiri pun tak mengerti. Aku ragu apakah aku dapat bertahan begini bila terus sendiri??

Namun, hikmah itu datang dari seorang yang teramat kusayangi karena Allah
sosok luar biasa yang lebih muda dariku, namun sesungguhnya bersikap jauh lebih dewasa dibanding aku..
sosok indah yang terlihat lebih halus perasaannya, namun sesungguhnya ia lah yang selalu menguatkanku...

sosok yang sangat kusyukuri kehadirannya dalam hidupku



terima kasih saudariku, atas hadirmu, dan atas sebuah KALIMAT yang pada akhirnya selalu dapat membuat aku yakin, bahwa diri ini akan selalu berdiri lagi setelah jatuh berulang-ulang dan bertahan lagi setelah kalah berkali-kali...

sebuah kalimat,
"Apapun yang terjadi, bagaimanapun pendapat orang lain, aku tetap bangga sama kamu"

anauhibbukafiLLah ukhti


Juga untuk saudari-saudariku yang lain. terima kasih untuk warna kalian yang indah, dalam lukisan kehidupanku ini. Semoga aku pun berkesempatan untuk menjadi warna yang indah dalam lukisan kehidupan kalian.
Y Allah, bahagiakanlah saudari-saudari yang teramat kusayangi. amin.
^^

dan ketika aku lelah

sewaktu kita kecil, bahkan mungkin hingga kini, acapkali kita terheran dan terkadang mengeluh dengan banyaknya bentuk dan jumlah ibadah yang mesti kita lakukan.apa lagi di saat bulan suci ramadhan sperti ini. dulu kita bertanya, mengapa ibu memaksa maksa kita mengikuti TPA atau pesantren ramadhan yang membosankan itu. apalagi ayah yang dengan kerasnya tidak memperdulikan mata kita yang susah payah menahan kantuk, terus mendorong untuk pergi tarawih berbelas-belas rakaat.huff.

mungkin, dulu kita begitu.
tapi aku, terus bertanya, haruskah? mengapa?
hingga suatu hari aku temukan jawabanku.

di barisan panjang salat tarawih suatu malam, kutemui sesosok perempuan berkerudung merah muda. dia tidak cantik. tapi yang menarik perhatianku padanya adalah senyum itu. kuperhatikan, di tengah ibu2 yang menguap lebar sepanjang ceramah, atau nenek2 yang bersandar hingga tertidur menunggu takbir, bahkan adik2 kecil yang tertawa girang dan makan sate dikala ustadz berteriak-teriak marah, ia tersenyum. memegang qur'an mungil ditangannya dan terus membaca. di saat ustadz mulai berceramah, ia berhenti, dan memperhatikan, tersenyum sesekali dan membuka-buka lembar qur'annya, mencari rujukan pasti. di saat tarawih pun, walau terkadang matanya tak kuasa untuk tetap terjaga, ia bersikeras, menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali tersenyum menatap lembut ujung sajadah. aku heran dan bertanya akan arti senyum itu.

tanpa ragu, usai salat, ku ulurkan tanganku dan ku ucap salam. ia membalas dan kembali tersenyum. kami berkenalan dan lalu berbincang. hingga akhirnya kutanyakan apa arti semua senyuman itu. dan kau tahu? jawabnya...

"ukhti, senyum itu adalah bentuk sindiranku pada diri sendiri dan bentuk syukurku padaNya. kita manusia kadang lelah dan merasa bahwa kelelahan itu adalah satu bentuk keterbatasan kita yang sudah menjadi suratan, hingga kita menyerah dan berhenti. namun, rasanya bukan begitu. dan ketika aku lelah, yang terpikir olehku adalah...
'pernahkah Ia lelah memberiku udara dan semua?'
'pernahkah Ia lelah mengiringi detak jantung dan denyut nadiku?'
atau 'PERNAHKAH IA LELAH MENCINTAIKU?'
maka di saat itulah aku tersenyum. menyindir diriku sendiri yang menjadikan lelah sebagai alasan semu untuk bermalas-malasan, dan mensyukuri semua cintaNya padaku yang tak pernah lelah, menyerah, bahkan berhenti"

subhanallah, tuhan. bulu kudukku merinding. mendengar jawabnya. dan menyadari telah seberapa sering aku mengeluh lelah dalam sujudku. ya allah, tak kenal lelah engkau mencintaiku, sedangkan aku? untuk sujud beberapa belas kali saja aku mengeluh. betapa bodohnya diri ini. tapi aku bersyukur untuk menyadari hal itu kini.


*kutulis dengan beberapa perubahan. semoga dapat menjadi renungan
maaf jika terdapat keslahan.

pahlawan kami

mungkin ini cuma rangkaian huruf acak yang tak punya arti, namun aku harap kita semua membacanya dengan hati hingga menjadi berarti..

jumat, 21 Agustus 2010
dalam keadaan mata tertutup, di tengah bentakan dan hardikan senior, aku berdiri dalam sebuah ruangan
yang bisa kurasakan hanya dngin dan bau yang menyengat
yaa,sebenarnya aku tau ini tempat apa
sudah lama aku tahu, bahkan sebelum acara ini dimulai
namun keadaan nya menjadi berbeda saat aku berada dalam situasi sesungguhnya
sesaat, bentakan dan smua ocehan mereka berhenti, hening
dan dingin

mereka memerintahkanku untuk membuka mata
dan yang kulihat hanya sebuah meja besi dengan sesosok tubuh kaku di atasnya
ini bukan pertemuan ku yang pertama dengan mereka, namun sungguh baru kali ini ku dapat mengerti arti pertemuan kami

mereka
pahlawan kami
terbujur kaku di atas meja2 besi, disusun seperti sarden beku di dalam lemari, digenangi formalin sebanyak-banyaknya tanpa henti, hingga biru dan kaku tubuh itu

yang kusadari saat ini adalah bahwa
dalam hening
bahkan dalam gelapnya dunia mereka kini
aku tau bahwa ternyata telah begitu banyak hal yang mereka berikan
telah begitu bergunanya mereka bagi dunia kami
telah begitu bermanfaatnya mereka bagi orang banyak
justru jka hendak dikatakan, merekalah yang telah menyelamatkan banyak nyawa
merekalah yang lebih berjasa dibanding kami

dan saat itu aku bertekad
untuk memperjuangkan pengorbanan mereka agar tidak sia-sia
wahai para dokter-dokter muda
pengorbanan mereka dan semua tanggung jawabnya, terletak ditanganmu