Saturday, November 27, 2010

tentang satu bintang

minggu, 12 September 2010, malam terakhir sebelum keberangkatanku kembali ke ibukota.

dalam naungan langit malam itu, aku berdiri dipinggir sawah-sawah yang mulai menghijau dan rumah-rumah yang masih semarak akan gegap gempita perayaan kemenangan. sahut menyahut adzan seperti harmoni alam yang mengiringi renunganku.

langit malam di tanah kelahiranku itu sangat indah, terutama malam ini. bulan sabit, seolah menjadi pemeran utama, bersinar terang benderang, ditemani beribu bintang yang juga berkelap-kelip indah. sungguh, tak dapat ku ungkap dengan kata-kata betapa indahnya malam ini, dan betapa aku bersyukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan bagiku untuk dapat menikmati goresan kuasaNya.

yang sedari tadi menjadi perhatianku adalah tentang satu bintang. Satu bintang yang begitu terang, sangat berdekatan dengan bulan, seolah tak ingin kalah oleh sinarnya. Satu bintang yang setiap malam selama bertahun-tahun ini terus menjadi perhatianku, bukan, bukan karena cahayanya ataupun letaknya yang sangat berdekatan dengan bulan, tapi memang karena hanya bintang itu saja yang dapat aku lihat. Meski bintang-bintang lainnya bersinar seterang apapun, semuanya sama saja bagiku, kecuali satu bintang. Bintang yang dalam terangnya aku bahagia, dan yang dalam redupnya aku pun berduka. Bintang yang begitu jauh dari genggam jangkauan tanganku, namun entah mengapa begitu dekat dari letak sudut hatiku

Bintang yang mungkin tak pernah sekalipun sadar
bahwa aku
ada

Tuhan, bintang itu ciptaanmu, aku tahu. biarkan ia terus menjauh bersama bulan dan bantulah aku mengikhlaskannya. bantulah aku untuk tidak lagi hanya menatap satu bintang itu saja, karena bila terus begini akan begitu KELAM lah duniaku.
Cukupkanlah bagiku hanya Engkau saja yang menerangi hati.

No comments:

Post a Comment