Saturday, October 29, 2011

cahaya. 2


“Ya Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi yang lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan ? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, atau kah kepada musuh yang akan menguasai diriku ? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.“


ini adalah sepotong doa Rasulullah ketika beliau merasa sangat kepayahan.

hari ini, aku mengikuti sebuah kajian. agak jauh sih tempatnya, tapi karena diwajibkan dan aku tsiqoh, ya aku datang. awalnya aku kira akan seperti biasa saja, bahas, tanya, jawab, selesai. hambar. tawar. namun ternyata, kajian ini mengingatkaku pada sebuah doa, yang semenjak dulu aku jadikan senjata untuk tetap kuat, yang semenjak dewasa aku baca tulis ulang resapi setiap hari untuk tetap bertahan, yang belakangan karena gegap gempitanya duniaku mulai kulupakan, yang beberapa waktu kemarin tak lagi lisanku ucapkan.

pipiku hangat, wajahku memerah, dan tangisku seperti biasa tumpah.
aku merasa jadi hamba tercengeng di dunia. malu.
tapi biarkan saja. biarkan saja.
aku sedang rindu padaNya
padaNya yang ku cinta sepenuh jiwa
padaNya yang dengan tega telah kulupakan beberapa masa
padaNya yang masih saja kumintai nikmat berjuta juta

Allah. awa sayang banget :")

Sunday, October 16, 2011

maaf, bintang

sementara otak ku harus terus memikirkan milestone atau dosis-dosis albendazole dan mebendazole.



aku hanya ingin memastikan, harusnya aku minta maaf.

untuk perasaan yang sembarangan menentukan bahwa hanya kamu seorang yang bersinar terang. untuk pengharapan yang seenaknya menetapkan bahwa tidak apa-apa hanya melihatmu dari kejauhan. untuk  jiwa yang tak tenang hanya karena satu kalimat dalam pesanmu. untuk pipi yang memerah karena salam sapa selamat pagimu.

untuk ketidaksanggupanku melihat tangismu.
untuk membuncahnya kebahagiaanku merasakan tawamu.

untuk kesetiaan tidak bertuan.
yang harusnya (sudah) aku hentikan.

Tuesday, October 4, 2011

Saya dan Mama

Saya kangen sama mama saya. tiba-tiba aja. saya kangen wangi tubuhnya yang saya peluk-peluk setiap pagi. saya kangen empuk punggungnya yang saya sandari setiap hari.



Mama doakan saya ya. saya mau ujian :]

Friday, September 16, 2011

kampus gemilang

Haha, didepan nasi ayam, mengepul hangat menghalangi kaca baca

Selamat datang, di kampus perjuangan. kampus gemilang. yeee. dulu begitu kakak menyambutku, ya kakak-kakak itu, yang jaket kuning dengan seberkas hijau didadanya. yak, sebelah sana, berdiri tegap dengan tegas tengah-tengah lapangan multifungsi, menatap gagah taman iluni. kampus gemilang, dulu ini hanya impianku, tapi kini aku tenggelam didalam gempitanya. gemerlap dan kilau warna-warninya benar-benar menyesakkan dada. goosebump. ayo kita periksa, kenapa mereka begitu gegap.

ceritaku mulai dari sini, yak agak kekiri. ini tempat pertamaku dan para 'anak tahun pertama' berlari-lari (sst, kami takut kakak kakak itu menangkap jejak kami yang tak memakai seberkas nama di dada, haha). tempat dimana setahun lalu, aku benar-benar duduk sendiri dekat pojokan ruang Pak Rusli. menatap lirih buku mabim yang tak kunjung habis ku keluhi. Namun ini menjadi semakin benar-benar kuhargai, karena buku ini yang membuatku terikat hati dengan mereka, si angkatan paling JAYA. haha, ya kan, kerlap kerlip lentera kampusku? awalnya mereka begitu saja, kerlap, kerlip, kerlap, kerlip. tak peduli sekitar dan pasti akan terang sendiri, maju paling depan dalam antrian fotokopi dan tanpa berhenti mengacuhkan sapaan pagi. aku jadi cemas. tapi aku ternyata berlebihan, haha, jangan-jangan aku sendiri yang memang geli.
salahku.
kerlap-kerlip tidak begitu.

mereka peduli sekitar.
mereka senantiasa menghargai pemimpinnya, saling mendengar dan terbuka ketika kami bersama. mereka tak henti turut berbelasungkawa ketika hapeku hilang untuk kesekian (juta) kalinya. mereka juga tulus setia mengucapkan selamat dan berkat ketika hari jadiku tiba. mereka ingat, meski tak semua hari jadi mereka kuingat pula. sungguh, aku terpesona kemilau mereka. terimakasih ya. :)

mereka tidak terang sendiri.
pernah dengar seorang jenius rela bermalam-malam di perpustakaan "suram" hanya demi berbagi sebagian ilmu yang susah payah ditata rapi ke gyrus dan sulcus teman2nya? atau pernah dengar seorang cewek manis penuh karisma serta cowok tangguh penuh wibawa rela mengorbankan waktu dan tenaga dan pikiran dan dana dan suara dan apa saja untuk kepentingan akademik bersama? pernah? tidak? disini cari ada, di angkatan yang kuyakin akan benar-benar JAYA. bersama.

haha. tidak, mereka juga tidak menyerobot antrian fotokopi. itu hanya lelucon ku saja.

hm. tapi mereka memang berlalu ketika kusapa pagi. lari-lari. untuk kemudian kembali dan menggelitik atau merengkuh dari belakang (kalau yang ini kerlip-kerlip ya. kalau si kerlap-nya, gak boleh! :P)

masih banyak lagi. PSAU, PSAF, Mabim, Mabim Rohani, KSI, SDI, Baksos Angkatan, Pemilihan Ketua Angkatan (hai, kapten!), PDOKM, Ekspo awal dan akhir, Eval Mabim, PDPT yang lucu, P2K2 yang seru, Riset yang baru-baru, EBP3KH yang dramatis, SelGen yang berlapis, Biomol yang romantis, Neurosains yang bengis namun manis.

terlalu banyak cerita mereka yang berkilauan dimataku, tak bisa kutuliskan satu-satu.

setahun masa telah berlalu saja. taman kimia itu sepertinya lelah kita gaduhi setiap pulang sekolah. fotokopi dan warnet itu juga, ia resah kita sesaki dengan tugas-tugas LTM pagi hari. haha. jangan tanya Pak Rusli, kurasa ia ingin kita segera saja pergi, agar tak ada lagi si angkatan nakal yang suka nanya "Absen tadi mana ya pak?" atau "Kuliahnya jadi dibatalin kan pak?" dengan muka memelas.

seru ya?
Kimia dan pagi hari, ketika kita bersama.

Hai. meski kini anatomi tak punya taman sendiri. atau Pak Rusli berganti tugas dengan Pak Epri. atau rambut-rambut gelap kita mulai menumbuhkan anak ubannya (hah?). kita tetap bersama kan ya?
tenang saja. bukan masalah pendidikan, rektor, organisasi, kepemimpinan, kompetisi, uang, persahabatan atau bahkan cinta yang akan benar-benar memberatkan kita. bukan bukan, bagiku sih bukan. semua berat, benar. hei, tapi kita tetap bersama kan ya? :)



kalau begitu tidak apa-apa.

- teruntuk angkatan yang aku sangat bangga menjadi salah satu bagiannya -


september; deraian hujan

Disamping kotak sulap penuh gambar dan suara, gaduh mengganggu imajiku



hai. hai. hola
datang juga kau september. aku menantimu, kau tahu. mengapa begitu lama ha? terbenam dalam jalanan becek lembeknya desember? atau terganggu angin dan guguran dedaun-dedaun Juni? aaah. biar sajalah, yang penting engkau sudah disini, tiba dengan gempita. horee \^u^/

hai hai september. satu tahun bukan lamanya kita tak berjumpa? atau aku hanya euforia dan tak sadar bahwa engkau sudah disini semenjak kemarin, lusanya dan semasa. apakah waktu terhenti? atau aku saja yang bermimpi tak ingin kau pergi. aaa. biar sajalah, yang penting engkau bersamaku kini, jumpa dan ceria. yeeaa \^o^/



eh eh september. kini aku dewasa lho. sudah hampir kepala dua (atau tiga?). aku sudah bisa menyentuh kelopak penuh rambut disamping pipi gemukku. aku sudah bisa menggapai langit-langit pintu depan ruang tidurku, eh itu tinggi lho, setidaknya sejengkal diatas kepala jerapah (?) eh salah. aku juga sudah bisa menyisir rambut temali ku sendiri, meski agak sulit dibagian ujungnya (ya, kau tahu sendiri bagaimana mereka, buat ribut saja, tak mau kupangkas sehelai pun temannya). aku senang sekali. sedih sekali. eh?

harusnya aku bagaimana ya september? deraian hujan diluar sana selalu saja memacu dopamin dalam tubuh mungil ini. tak bisa kutahan laju kaki yang tertuntun hati, menari-nari dibawahnya. meski basah, ah, itu tak pernah jadi masalah. dulu. saat aku masih kecil.
kini aku sudah dewasa
kata mereka
harusnya aku duduk saja, perhatikan. atau jika terpaksa, pasang payung, jaket dan syalnya, maka aku boleh menyentuh.
sentuh?
padahal aku tak pernah alpa, meraba rasakan melodi rinai dan gerimisnya. padahal aku tak pernah lupa, menghidu resapi wewangi dan deraian tiap tetesnya. tapi aku sudah dewasa, kata mereka.

haruskah aku duduk saja?
ataukah aku boleh kesana? deraian hujan memanggil-manggil jiwa kehidupanku.

- dilema hari ulang tahun -

cahayamu-sempurnaku

Dibawa gemuruh langit malam, menanti pagi tak tenang.


bulan suci itu pergi saja, begitu, tak menantiku perbaiki hati dan diri sedikit lebih lama lagi. Eh, mungkin aku yang santai, terlalu lalai seakan hidupku memang terbengkalai seperti belalai (?). Aaah. iya, aku yang pasai. Aku harap datang lagi, bersama bulan suci yang akan selalu lebih kuhargai. bagai badai. hanya tiba sekali kali.

tapi seru sekali. adrenalinku berlari-lari selama sebulan berharga yang kulalui. tidak, aku tidak mendaki gunung merapi. ooh, bukan pula menjelajahi hutan dan semua ngarai. hanya saja, bertemu matahari dan bintang-bintang selalu membuatku sempurna kembali. mereka selalu saja.
menghangatkan.

hei, jangan menatapku begitu, ini bukan tentang yang satu itu. (memangnya hanya dia yang bintang?! :P)

matahariku itu, tak bisa dibandingkan dengan semesta. ia yang paling terang, meski demikian, sinarnya tak pernah sedikit pun menyakitiku. dalam siang, tumpahlah segala sinar yang mampu ia berikan. biar, biarkan saja helium dan semua yang ada didalamnya terbakar, biar biar saja, biar aku sempurna, katanya. bakar bakar saja, agar aku tak gamang, serunya.

matahariku itu, tak ada duanya di jagad raya. hei jangan hiraukan bentuknya. memang hanya segumpal bola, seakan sama dengan planet dan derivat benda langit lainnya. bagiku, bukan. bukan sama, tapi sangat istimewa. karena, dalam malam, meski ia jauh di mata, namun sesungguhnya tak semikrodetik pun ia tinggal ku sendiri. meski dengan cara berbeda, sinarnya selalu saja. ada disana. meski dengan wujud tak biasa, hadirnya senantiasa. temaniku bersama.

aah. matahari. aku sungguh rindu. hingga pagi dimana langit enggan lagi berdiri gemilang dan bumi enggan lagi seharmoni dengannya,
tolong.
jangan tinggalkan aku ya?

- teruntuk mama tersegalanya yang kupunya. :) -

bintang-bintang?? haha. tunggu ceritanya.

Thursday, July 14, 2011

Pipi :D


Awa :
"akhir-akhir ini perut sama otak awa sering dilema, ma.
ceritanya udah jam 2 siangan...
si perut bilang "GUE UDAH KENYANG, please jangan makan"
tapi terus si otak bilang "INI UDAH JAM MAKAN, dan gue butuh energi!!"
haha. karena otak yang lebih berkuasa, akhirnya awa makan deh ma. hahaha XD pipi awa mulai gendut, ma. apa aku diet aja y,kayak teman2?"

Mama :
"hei hei. inget ya, awa.
kamu blh minjam buku di teman atau perpustakaan karena mau menghemat duit beli buku. atw kamu boleh make baju adek atau baju mama yang mama krimin karena mau menghemat duit beli baju. tp kamu harus makan klo emang mau makan. gak boleh dihemat sedikitpun kalau untuk makan"


:D love u ma.