kembali berjumpa. seperti janji sebelumnya, kali ini akan dijelaskan mengenai beberapa hal yang benar-benar aku pelajari dari pengalaman sakit kemarin. seperti yang berulang kali dijelaskan dalam berupa kata dan makna, meski bertubi-tubi memang banyak sekali yang telah aku pelajari dari ujian-ujian ini. alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mempercayakan amanah kehidupan.
berikut beberapa yang mudah-mudahan bisa jadi pelajaran.
Makan itu beneran penting.
dahulu aku pikir makan itu ketika lapar. kalau tak lapar, tak mengapa menunda makan. lapar itu agar memenuhi asupan nutrisi. maka selagi jumlahnya cukup, tak mengapa men-skip jadwal makan untuk merapelnya nanti-nanti. ditambah kebiasaanku meminum teh botolan, kadar gula dalam darah akan tetap terjaga sehingga lapar tidak lagi pada waktunya. padahal asupan nutrisi bukan gula saja. ada protein, karbohidrat, vitamin, ah aku sebagai dokter muda memang sudah lebih mengetahuinya, tapi tidak melaksanakannya.
dahulu aku makan sekadarnya, pesan nasi selalu setengah porsi, kadang mi, bahkan kerap fast food delivery. ga merasa salah skip jadwal makan sehari-dua, hanya bermodalkan coklat, teh, atau roti saja. bukan, bukan karena tak bisa masak berupa-rupa, bukan pula tak berdaya belinya. lebih karena waktu saja. laiknya robot, aku umpama saja bekerja sini sana, kesibukan ini menderu bak debu di jalanan yang seru, lantas lupa kalau badan ini bukan milikku. ia hanya titipan Allah yang harusnya aku jaga, seperti baju yang kusuka dan buku yang kurawat.
dan dari hanya tidak makan, begitu banyak gangguan kesehatan akan datang. lihat, hipoalbumin, anemia kronik, hiperkoagulasi, bahkan tuberkulosis paru, dispepsia akut, dan sudden deafness e.c iskemi semuanya ini bermula dari makan tidak teratur. hihi, baiklah mama papa semuanya, aku menyesal. tidak lagi-lagi meremehkan yang satu ini.
makan, itu beneran penting. seperti obat, badan kita juga punya peak time. amat disarankan makan sesuai waktu dan kadarnya. amat disarankan mengikuti amanat Rasul kebanggaanNya; "makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang". sungguh Allah tidak suka yang berlebih-lebihan. kalau hari ini makan pagi pukul 07.00, maka keesokan hari tak boleh lupa makan pagi harus pukul 07.00 lagi. lapar tidak lapar, sempat tidak sempat, harus sempat, harus makan.
Mengeluh itu bukan tidak boleh.
berat bagiku mengungkap sakit ini pada orang tua. biasanya meski berat, aku menahan setiap keluhan dan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian. beberapa bulan pertama memang hanya mual muntah yang dirasakan, tetapi frekuensinya semakin lama semakin mengherankan. bermula dari hanya pagi hari, hingga akhirnya setiap masuk makanan. awalnya hanya pusing biasa kayak kelelahan, hingga kemudian menjadi sempoyongan dan pandangan kabur ketika berjalan. mulanya hanya ga enak badan kayak meriang, ternyata teman bilang badanku panas dan benar saja 39-40 derajat celcius hingga menggigau ketika tertidur. pertamanya cuma becanda Tiara kurusan, pas diukur ternyata turun 10 kg dalam 6 bulan.
berdasarkan saran seorang teman, maka saya memutuskan menceritakan. ketika orang tua datang, mereka kerap kali mengulang-ulang frasa ini;
"bagaimana semua ini bermula?"
"mengapa tidak kamu ceritakan dari sejak biasa saja?"
"apa yang kini kamu rasakan?"
yang bahkan tak mampu aku jelaskan. pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di langit-langit kamar seumpama ganjalan pada tenggorokanku yang menahan tangisan. begitu pula dengan dokter dan tenaga kesehatan, mereka ikut-ikutan memberikan saran;
"harusnya kamu membawa kasus ini lebih awal"
"ini kegawatdaruratan, untung kita masih bisa bantu selamatkan pendengaran"
"kamu kan dokter muda, kok gak cerita-cerita padahal tahu penyakitnya?!"
tertohok. terharu sih sebenernya. begitu banyak yang peduli dan mau menampar diri ini. menyadarkan bahwa sesekali mengeluh itu bukan tidak boleh. menceritakan apa yang aku rasakan bukan dosa besar. berbagi perasaan juga bukan kesalahan. mungkin satu waktu akan memberatkan, tapi hei, itulah tugas keluarga dan teman. saling merepotkan saling memberatkan harusnya tidak menjadi beban daripada akhirnya semakin menyusahkan.
menjadi terbuka bukanlah kelemahan. tidak ada salahnya memilih orang-orang kepercayaan dan menceritakan. karena dengan berbagi ternyata aku memeroleh kekuatan. sebab dengan mendengarkan ternyata aku mendapat pemahaman. yang baik, yang benar, tentang kehidupan. mengeluh itu, bukan tidak boleh. terbukalah, tentukan mana yang bermanfaat diceritakan, karena sesungguhnya kamu tidak sendirian, karena jika memang teman harusnya mereka tak keberatan.
Menjalin pertemanan itu investasi yang tinggi.
dulu aku pemilih. bukan saja makanan tapi juga teman. jangan salah paham, bukan aku pilih-pilih teman in a bad way, tapi mama mengajarkan bahwa pertemanan itu sama dengan kebanyakan hal di dunia. tidak abadi, tidak selamanya senang, dan tidak boleh berlebihan. maka jadilah, aku memilih sekali kata, sikap, dan rasa dalam pertemanan. sedikit sekali yang berhasil benar-benar memasuki lingkaranku ketika itu.
setelah terpisah dengan orang tua, menjelajah negri orang, bertemu berbagai macam kepribadian. aku sungguh-sungguh tertarik menjalin banyak pertemanan. awalnya kupikir betapa tidak adilnya dunia ini karena tidak berlaku ibarat cermin. ketika kita melakukan kebaikan terhadap teman, belum tentu teman akan membalas dengan kebaikan pula. ketika kita melakukan kejahatan padanya, tak pasti teman tak akan berlapang dada.
karena berbuat kebaikan itu kewajiban. mendapat balasannya adalah keberuntungan.
dengan melaksanakan kewajiban, sudah barang tentu hak akan terpenuhkan. dan seringan-ringannya balasan kebaikan adalah pandangan manusia, sementara semulia-mulianya ialah kasih sang Maha Penyayang. tak usah berharap, tak usah berekspektasi, karena berteman dalam kebaikan itu adalah memang investasi yang tinggi.
seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, ketika aku sakit, begitu buaanyaak teman-teman yang peduli. berdatangan setiap hari. bahkan sampai hampir menitikkan kesedihan di pipi. sampai-sampai suster kesal dan membatasi jam jenguk kami. haha. terima kasih teman-teman :")
ada D.U yang dengan sabar menemani hingga menginap meski di tengah hecticnya stase kulit, selalu datang hampir setiap hari bahkan di minggu ketiga stase berat ini.
ada H.U yang dengan segala koneksinya yang luar biasa membantuku masuk rumah sakit swasta ternama, yang memapahku ketika mama belum tiba hingga sampai di kencana
ada G.N yang begitu perhatian meminjamkan bacaan, menyuapi makanan, menyodorkan minuman, mendengarkan keluhan dan menceritakan keseharian agar aku tidak bosan
ada I.F yang entah dengan apa mampu melawan rasa malu dan segan karena terus diledeki teman-teman bahkan orang tuaku, membantu memperjuangkan keberlanjutan studiku, membawa becanda-becandaan yang meski gak lucu tapi mengesankan
ada J.P a.k.a Panda yang sengaja datang terakhir paling malam agar tak jelas matanya berkaca-kaca, yang hanya duduk-duduk mengamati bermodal senyuman memperhatikan setiap perkembangan
ada R.N yang meski hanya sesekali datang mengalirkan beribu semangat dan berjuta kekuatan, mengajak berfoto meski aku sedang lusuh berpenampilan
ada I.S yang selalu bersama sobinya I.F hanya datang untuk membaca koran, atau menonton siaran, atau kabur dari pelajaran, tetapi selalu setia mendengar apa-apa yang mama keluhkan
ada F.A yang jauh-jauh dari Jogja datang begitu saja bahkan meski kami telah tak bersapa begitu lama, yang tetap bertahan meski sudah kudiamkan, yang tetap mendoakan meski sudah kubuat menangis tertahan
banyak lagi. masih banyak lagi.
dan aku begitu bersyukur. terima kasih ya :) semoga kita selamanya berteman aamiin
Menjadi kuat itu bukan tentang tidak menangis.
kalau yang ini benar-benar masih sulit dipahami. tetapi selama proses pembelajaran ini memang aku menangis beberapa kali. suatu hal yang amat kubenci. bukan, bukan ketika didiagnosis tuberkulosis, bukan pula ketika dinyatakan tidak bisa wisuda bersama yang lainnya karena ketertinggalan jadwal akademik, tidak pula saat berganti-ganti jenis obat karena alergi/toksik yang begitu signifikan, atau ketika dibicarakan teman di belakang tentang hal yang sama sekali tidak pernah kamu lakukan di tengah semua usaha pertahanan.
tapi ketika,
seorang teman dekat membalas pesan,
"Kamu kuat, Ti"
buncah semua tangisku ketika itu. teringat begitu banyak yang telah kulalui dan begitu panjang yang akan aku hadapi. teringat begitu banyak mungkin dosa diri ini sehingga Allah memilihkan jalan duniawi alih-alih menghukum diri di akhirat nanti. terharu diberi kepercayaan besar olehNya dan teman bahwa aku bisa, aku kuat. ini tidak akan menghentikanku begitu saja. masih banyak orang di luar sana yang bahkan untuk melihat saja susah, bernafas saja sulit. masih banyak yang bisa aku lakukan agar menjadi hamba yang terbaik, manusia yang bermanfaat. dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mampukanlah aku ya Allah :) menjadi kuat seperti yang Kau inginkan.
Mengikhlaskan itu pekerjaan besar.
ikhlas itu ilmu tinggi. wuii aku masih belum mengerti. ujiannya bisa kapan aja. perhitungannya di akhir masa. jadi sekali kamu lupa atau ria, maka habis pahala yang telah ditimbun semasa.
adalah manusiawi bila deg-degan menghadapi ujian. adalah sudah sesuai kodratnya bila cemas ketika baru mencoba suatu pelajaran. dan ini kurasakan setiap membuka lembar amplop hasil pemeriksaan dari laboran, atau ketika mendengar keterangan dari si tenaga kesehatan, atau saat mendengar tanggapan dan menanggapi pertanyaan sejawat sekawan. rasanya seperti akan naik roller coaster, adrenalin membuncah, keringat dingin membasah, hingga sesaat kemudian lepas, melaju begitu keras,
ketika sudah selesai, sudah jatuh, sudah terjadi, sudah berlalu..
ketika kamu mungkin sedikit sedih, sedikit marah, sedikit bertanya..
untuk kemudian belajar mengerti, mulai memahami, dan mentadabburi diri..
rasanya lega. ikhlaskan saja. lepaskan saja. karena ketika sudah terjadi, itu artinya Allah yang ingini. cukup yakin dan percaya pada rencana besar dan benarNya. maka semua akan baik-baik saja, insya allah.
aamiin :)