Tuesday, January 20, 2015

Sebuah Jawaban.

Selesai. Kita selesai.


Dalam lingkaran waktu yang pun kita tak tahu pada dimensi apa. Dalam putaran masa yang ternyata hanya menertawakan kita bermain rasa. Aku, menyesal. 

Pagi ini telah aku putuskan. Aku akan memasukkan surat permohonan itu. Dan telah kupertimbangkan matang-matang, baiknya tak usah cerita mama papa dulu. Nanti terlanjur lahir harapan atau larangan. 

Bismillah. 

"Hana, sudah yakin dengan pilihan ini?" tutur Pak Tino sembari merapikan letak kaca matanya. 
"Bismillah pak. Mudah-mudahan diridhai Allah" 

"Sudah pertimbangkan matang-matang? Ini, jauh. Dan, jurusan favorit. Kamu tentu, perlu berjuang keras sekarang atau nantinya" 

Tentu. Hanya senyuman jawabku atas pertanyaan Pak Tino itu. Retoris. 

"Baiklah" 
*** 

to: Hana 
Kira-kira sepuluh menit lagi aku tiba. di depan IGD yang biasa kan ya? mau nitip sesuatukah? 

Pesan singkat dari Dika tiba. Hari ini, aku akan bertemu ibunya. Aku gugup. 

to: Mas Dika
Iya. Tapi ini masih ada beberapa lagi. Kamu nunggu gagpapa ya? Nitip es milo.

Ibunya, ehm, lebih tepat disebut mamanya sudah lama ingin berjumpa denganku katanya. Ia dengan gembira bertutur bahwa sang mama begitu penasaran dengan paras Hana yang satu ini. Karena dulu, memang kami telah kenal lama dalam pribadi yang berbeda. Aku yang dulu. 

Aku yang main basket. 
Aku yang tidak suka rok bunga-bunga. 
Teman Andra, 
Adik Mas Dika. 
***

Ibu kota.
Di sinilah aku akan mengejar mimpi itu. Yang kata bibiku tak usah dipupuk jauh-jauh karena aku tak akan mampu. Yang kata papaku boleh dijalani asalkan aku menjaga diri. Yang kata mama segeralah kembali..

Yang bagiku adalah masa menempa diri.

Karena setelah waktu-waktu ini aku tidak mau lagi, mengingkari apa yang Ia anugerahi. Cukup disimpan sendiri tentang masa lalu atau apapun itu yang mengancam masa depanku. Cukup. Dicukupkan.

Dalam perjalanan panjang menjadi seorang pemimpi ini,
Ia mengenalku.
Iya, aku tak pernah berusaha lebih dari itu. Bahkan jika tidak diingatkan teman untuk berlaku 'proper', mungkin telah kujauhi, lagi, yang satu ini.

Andika Rana Pratama.
Kata orang-orang begitu sempurna. Tapi aku tidak peduli, awalnya.
Hingga ia berusaha, begitu lama. Hingga ia memilihku, sesungguh-sungguhnya.
***

"Hana"
"Tante, lama gak ketemu" ucapku menguat-nguatkan hati. mengambil telapak tangan kanannya dan merundukkan muka, mencium lembut ujung jarinya. salim.
"Ya ampun Hana, beda banget ya. Udah lama gak ketemu kita. Tante kira Dika becanda kalau Hana yang dulu, sekarang cantik dan luar biasa. Habis Dika gitu sih ya, mana ada yang mau sama dia,"

di kantor banyak, Tante.. kecuali saya.

"Haha. Tante juga. Selalu seperti biasanya, memesona,"
"Ah kamu bisa saja," jawabnya tersipu, "Duduk, Tante ambilin minum ya sebentar. Atau kamu mau ambil aja di kulkas? seperti dulu, seperti biasanya, Milo dingin kan?"

jangan-jangan Dika kebanyakan cerita. tapi dia gak gitu sih orangnya.
Tante Rahma ingatannya keren juga.

"Ndak usah repot-repot Tante. Ini tadi Mas Dika udah bawain"
"Yap, ndak usah Ma. Ini dia cuma mau ketemu katanya"

Hah? Kata Dika mamanya yang mau ketemu. Kuinjak ujung sepatunya!
***

"Maafin Dika, ya Na. Pasti bikin kaget ya"
Banget, Tante. Untung papa saya enggak jantungan, bisikku dalam hati. 

"Haha, iya Tante gagpapa"
"Enggak kok, Ma. Dia malah senang"
Kulirik tajam senyumnya, dengan sudut mata. Jika tidak di hadapan Tante Rahma, sudah melayang injakkan kedua untuk sepatu bututnya itu. Atau kaleng milo ini saja sekalian. 

"Lah kamu tuh yang aneh, nduk. Masa iya ngelamar ndak ngajak-ngajak Mama Papa. Main ngeloyor aja pergi sendiri"
Nah!

"Untung Hana, Mama udah kenal lama. Begitu konfirmasi kalau kamu adalah Hana teman kecil Andra, tante langsung yakin. Meski gak bisa nemenin, tante restuin. Berkat dukungan Andra jg masnya memantapkan hati,"
Apa maksudnya?
*** 

Bukankah kita adalah bagian dari konstelasi semesta? Kamu di ufuk sana sementara aku dalam jarak pandangmu saja ternyata tak bisa mengubah apa-apa. Kita berbeda. Dalam banyak hal dalam banyak cerita.

Selesai. Adalah cara terbaik berkompromi.

Alih-alih melengkapi, menggenapi, mengakhiri, sepertinya lebih tepat jika terdefinisi sebagai; menyempurnakan :)

No comments:

Post a Comment