Cerahmu hujanku
Pantaimu gunungku
Katamu spasiku
Dua nama dalam dua jiwa
Dua kota dengan jarak yang membuat kita berdoa
Agar Tuhan selalu sayang kita
Di bawah sisi berbeda langit yang sama
Dalam tangis yang selalu kusesali
Dalam tawa yang kerap kau suguhi
Dengan kekagumanku pada irama mengaji
Dan keteguhanmu bahwa pahala-dosa cukup dalam hati
Kita
Bagai rel kereta
Bersandingan dipaksa rasa
Padahal kita saling tahu
Tak pernah (akan) ada titik temu
Kan?
Tuesday, October 28, 2014
Sunday, August 17, 2014
Yang Kupelajari
Assalamulaikum :D
kembali berjumpa. seperti janji sebelumnya, kali ini akan dijelaskan mengenai beberapa hal yang benar-benar aku pelajari dari pengalaman sakit kemarin. seperti yang berulang kali dijelaskan dalam berupa kata dan makna, meski bertubi-tubi memang banyak sekali yang telah aku pelajari dari ujian-ujian ini. alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mempercayakan amanah kehidupan.
berikut beberapa yang mudah-mudahan bisa jadi pelajaran.
Makan itu beneran penting.
dahulu aku pikir makan itu ketika lapar. kalau tak lapar, tak mengapa menunda makan. lapar itu agar memenuhi asupan nutrisi. maka selagi jumlahnya cukup, tak mengapa men-skip jadwal makan untuk merapelnya nanti-nanti. ditambah kebiasaanku meminum teh botolan, kadar gula dalam darah akan tetap terjaga sehingga lapar tidak lagi pada waktunya. padahal asupan nutrisi bukan gula saja. ada protein, karbohidrat, vitamin, ah aku sebagai dokter muda memang sudah lebih mengetahuinya, tapi tidak melaksanakannya.
dahulu aku makan sekadarnya, pesan nasi selalu setengah porsi, kadang mi, bahkan kerap fast food delivery. ga merasa salah skip jadwal makan sehari-dua, hanya bermodalkan coklat, teh, atau roti saja. bukan, bukan karena tak bisa masak berupa-rupa, bukan pula tak berdaya belinya. lebih karena waktu saja. laiknya robot, aku umpama saja bekerja sini sana, kesibukan ini menderu bak debu di jalanan yang seru, lantas lupa kalau badan ini bukan milikku. ia hanya titipan Allah yang harusnya aku jaga, seperti baju yang kusuka dan buku yang kurawat.
dan dari hanya tidak makan, begitu banyak gangguan kesehatan akan datang. lihat, hipoalbumin, anemia kronik, hiperkoagulasi, bahkan tuberkulosis paru, dispepsia akut, dan sudden deafness e.c iskemi semuanya ini bermula dari makan tidak teratur. hihi, baiklah mama papa semuanya, aku menyesal. tidak lagi-lagi meremehkan yang satu ini.
makan, itu beneran penting. seperti obat, badan kita juga punya peak time. amat disarankan makan sesuai waktu dan kadarnya. amat disarankan mengikuti amanat Rasul kebanggaanNya; "makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang". sungguh Allah tidak suka yang berlebih-lebihan. kalau hari ini makan pagi pukul 07.00, maka keesokan hari tak boleh lupa makan pagi harus pukul 07.00 lagi. lapar tidak lapar, sempat tidak sempat, harus sempat, harus makan.
Mengeluh itu bukan tidak boleh.
berat bagiku mengungkap sakit ini pada orang tua. biasanya meski berat, aku menahan setiap keluhan dan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian. beberapa bulan pertama memang hanya mual muntah yang dirasakan, tetapi frekuensinya semakin lama semakin mengherankan. bermula dari hanya pagi hari, hingga akhirnya setiap masuk makanan. awalnya hanya pusing biasa kayak kelelahan, hingga kemudian menjadi sempoyongan dan pandangan kabur ketika berjalan. mulanya hanya ga enak badan kayak meriang, ternyata teman bilang badanku panas dan benar saja 39-40 derajat celcius hingga menggigau ketika tertidur. pertamanya cuma becanda Tiara kurusan, pas diukur ternyata turun 10 kg dalam 6 bulan.
berdasarkan saran seorang teman, maka saya memutuskan menceritakan. ketika orang tua datang, mereka kerap kali mengulang-ulang frasa ini;
"bagaimana semua ini bermula?"
"mengapa tidak kamu ceritakan dari sejak biasa saja?"
"apa yang kini kamu rasakan?"
yang bahkan tak mampu aku jelaskan. pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di langit-langit kamar seumpama ganjalan pada tenggorokanku yang menahan tangisan. begitu pula dengan dokter dan tenaga kesehatan, mereka ikut-ikutan memberikan saran;
"harusnya kamu membawa kasus ini lebih awal"
"ini kegawatdaruratan, untung kita masih bisa bantu selamatkan pendengaran"
"kamu kan dokter muda, kok gak cerita-cerita padahal tahu penyakitnya?!"
tertohok. terharu sih sebenernya. begitu banyak yang peduli dan mau menampar diri ini. menyadarkan bahwa sesekali mengeluh itu bukan tidak boleh. menceritakan apa yang aku rasakan bukan dosa besar. berbagi perasaan juga bukan kesalahan. mungkin satu waktu akan memberatkan, tapi hei, itulah tugas keluarga dan teman. saling merepotkan saling memberatkan harusnya tidak menjadi beban daripada akhirnya semakin menyusahkan.
menjadi terbuka bukanlah kelemahan. tidak ada salahnya memilih orang-orang kepercayaan dan menceritakan. karena dengan berbagi ternyata aku memeroleh kekuatan. sebab dengan mendengarkan ternyata aku mendapat pemahaman. yang baik, yang benar, tentang kehidupan. mengeluh itu, bukan tidak boleh. terbukalah, tentukan mana yang bermanfaat diceritakan, karena sesungguhnya kamu tidak sendirian, karena jika memang teman harusnya mereka tak keberatan.
Menjalin pertemanan itu investasi yang tinggi.
dulu aku pemilih. bukan saja makanan tapi juga teman. jangan salah paham, bukan aku pilih-pilih teman in a bad way, tapi mama mengajarkan bahwa pertemanan itu sama dengan kebanyakan hal di dunia. tidak abadi, tidak selamanya senang, dan tidak boleh berlebihan. maka jadilah, aku memilih sekali kata, sikap, dan rasa dalam pertemanan. sedikit sekali yang berhasil benar-benar memasuki lingkaranku ketika itu.
setelah terpisah dengan orang tua, menjelajah negri orang, bertemu berbagai macam kepribadian. aku sungguh-sungguh tertarik menjalin banyak pertemanan. awalnya kupikir betapa tidak adilnya dunia ini karena tidak berlaku ibarat cermin. ketika kita melakukan kebaikan terhadap teman, belum tentu teman akan membalas dengan kebaikan pula. ketika kita melakukan kejahatan padanya, tak pasti teman tak akan berlapang dada.
karena berbuat kebaikan itu kewajiban. mendapat balasannya adalah keberuntungan.
dengan melaksanakan kewajiban, sudah barang tentu hak akan terpenuhkan. dan seringan-ringannya balasan kebaikan adalah pandangan manusia, sementara semulia-mulianya ialah kasih sang Maha Penyayang. tak usah berharap, tak usah berekspektasi, karena berteman dalam kebaikan itu adalah memang investasi yang tinggi.
seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, ketika aku sakit, begitu buaanyaak teman-teman yang peduli. berdatangan setiap hari. bahkan sampai hampir menitikkan kesedihan di pipi. sampai-sampai suster kesal dan membatasi jam jenguk kami. haha. terima kasih teman-teman :")
ada D.U yang dengan sabar menemani hingga menginap meski di tengah hecticnya stase kulit, selalu datang hampir setiap hari bahkan di minggu ketiga stase berat ini.
ada H.U yang dengan segala koneksinya yang luar biasa membantuku masuk rumah sakit swasta ternama, yang memapahku ketika mama belum tiba hingga sampai di kencana
ada G.N yang begitu perhatian meminjamkan bacaan, menyuapi makanan, menyodorkan minuman, mendengarkan keluhan dan menceritakan keseharian agar aku tidak bosan
ada I.F yang entah dengan apa mampu melawan rasa malu dan segan karena terus diledeki teman-teman bahkan orang tuaku, membantu memperjuangkan keberlanjutan studiku, membawa becanda-becandaan yang meski gak lucu tapi mengesankan
ada J.P a.k.a Panda yang sengaja datang terakhir paling malam agar tak jelas matanya berkaca-kaca, yang hanya duduk-duduk mengamati bermodal senyuman memperhatikan setiap perkembangan
ada R.N yang meski hanya sesekali datang mengalirkan beribu semangat dan berjuta kekuatan, mengajak berfoto meski aku sedang lusuh berpenampilan
ada I.S yang selalu bersama sobinya I.F hanya datang untuk membaca koran, atau menonton siaran, atau kabur dari pelajaran, tetapi selalu setia mendengar apa-apa yang mama keluhkan
ada F.A yang jauh-jauh dari Jogja datang begitu saja bahkan meski kami telah tak bersapa begitu lama, yang tetap bertahan meski sudah kudiamkan, yang tetap mendoakan meski sudah kubuat menangis tertahan
banyak lagi. masih banyak lagi.
dan aku begitu bersyukur. terima kasih ya :) semoga kita selamanya berteman aamiin
Menjadi kuat itu bukan tentang tidak menangis.
kalau yang ini benar-benar masih sulit dipahami. tetapi selama proses pembelajaran ini memang aku menangis beberapa kali. suatu hal yang amat kubenci. bukan, bukan ketika didiagnosis tuberkulosis, bukan pula ketika dinyatakan tidak bisa wisuda bersama yang lainnya karena ketertinggalan jadwal akademik, tidak pula saat berganti-ganti jenis obat karena alergi/toksik yang begitu signifikan, atau ketika dibicarakan teman di belakang tentang hal yang sama sekali tidak pernah kamu lakukan di tengah semua usaha pertahanan.
tapi ketika,
seorang teman dekat membalas pesan,
"Kamu kuat, Ti"
buncah semua tangisku ketika itu. teringat begitu banyak yang telah kulalui dan begitu panjang yang akan aku hadapi. teringat begitu banyak mungkin dosa diri ini sehingga Allah memilihkan jalan duniawi alih-alih menghukum diri di akhirat nanti. terharu diberi kepercayaan besar olehNya dan teman bahwa aku bisa, aku kuat. ini tidak akan menghentikanku begitu saja. masih banyak orang di luar sana yang bahkan untuk melihat saja susah, bernafas saja sulit. masih banyak yang bisa aku lakukan agar menjadi hamba yang terbaik, manusia yang bermanfaat. dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mampukanlah aku ya Allah :) menjadi kuat seperti yang Kau inginkan.
Mengikhlaskan itu pekerjaan besar.
ikhlas itu ilmu tinggi. wuii aku masih belum mengerti. ujiannya bisa kapan aja. perhitungannya di akhir masa. jadi sekali kamu lupa atau ria, maka habis pahala yang telah ditimbun semasa.
adalah manusiawi bila deg-degan menghadapi ujian. adalah sudah sesuai kodratnya bila cemas ketika baru mencoba suatu pelajaran. dan ini kurasakan setiap membuka lembar amplop hasil pemeriksaan dari laboran, atau ketika mendengar keterangan dari si tenaga kesehatan, atau saat mendengar tanggapan dan menanggapi pertanyaan sejawat sekawan. rasanya seperti akan naik roller coaster, adrenalin membuncah, keringat dingin membasah, hingga sesaat kemudian lepas, melaju begitu keras,
ketika sudah selesai, sudah jatuh, sudah terjadi, sudah berlalu..
ketika kamu mungkin sedikit sedih, sedikit marah, sedikit bertanya..
untuk kemudian belajar mengerti, mulai memahami, dan mentadabburi diri..
rasanya lega. ikhlaskan saja. lepaskan saja. karena ketika sudah terjadi, itu artinya Allah yang ingini. cukup yakin dan percaya pada rencana besar dan benarNya. maka semua akan baik-baik saja, insya allah.
aamiin :)
Saturday, May 24, 2014
Yang Kurindukan
Assalamualaikum :D
judulnya menarik Anda untuk membaca? haha. jangan kecewa karena isinya mungkin tak seperti yang Anda duga wkwk. ya, sudah lama tak menulis sebebas ini. banyak hal terjadi. ujian dan tantangan datang bertubi-tubi, tapi gak ada yang melebihi nikmatNya dalam syukur ini. alhamdulillah alhamdulillah untuk segalanya.
catch up info, beberapa waktu yang lalu, tepatnya 10 April 2014 aku masuk RS. sebuah RS negri dengan pengelolaan a la swasta menampungku di kamar 508 yang lama-lama tak kusukai. diagnosis kerja; Sudden Deafness e.c iskemi pembuluh darah. dugaannya akibat dehidrasi dan malnutrisi
"Dek, temen kamu kok busung lapar amat sih!" celotehan suster di IGD RS kepada kak Hali :p
Hb ku 8, Trombosit 100.000, ga inget berapa tapi albuminku rendah dan darahku kental. jadilah rawat inap menjadi putusan dokter saat itu.
"Ini kegawatdaruratan THT, kamu harusnya bawa sejak hari kesatu," ya dok maafkan saya belum baca buku, balasku pada dokter penanggungjawab yang juga dosen THT-ku itu. Ya kami sedang stase THT, dan aku mengalami ini pada hari kesatu.
Selama 16 hari perawatan, banyak yang terjadi. Sedikit yang mau kuceritakan kini adalah tentang hal-hal yang kurindukan. Sisanya yang banyak nanti ya :)
Aku rindu sekali...
1. Sujud
Selama di RS aku hanya diperbolehkan tiduran. bed rest istilah mereka. maka jadilah shalat pun di tempat tidur. karena selang infus dan selimut dan kondisi badan, posisi telentang adalah yang paling memungkinkan. tayamum jadi pilihan. dari shalat ke shalat, aku rindu sekali sujud. menundukkan dalam-dalam keakuanku, menempelkan serendah-rendahnya kepala yang kerap jadi besar dan keras ini. aku rindu sekali sujud. yang lama. yang khusuk. yang akrab sampai nangis. Maka sujud pertamaku pascaperawatan, sungguh nikmat. makasih atas nikmat kesempatan sujud ya Allah :)
2. Nasi kapau
Selama dirawat, mama menemaniku di Jakarta. maaf merepotkan ya Ma, aku j,anji akan berusaha lebih baik lagi. Nah beliau ini selama di RS, makan siang acap kali beli nasi Padang atau nasi kapau. kebetulan di depan RS ada rumah makan Padang yang cukup ternama dan enak rasanya, RM Kurnia. kalau temanku datang, mama sering nitip atau minta temani beli. baunya semerbak ke seluruh kamar. haa pasti rasanya enak sekali. tapi aku masih dalam perawatan, issh, nasi biasa pun aku tak boleh. hari demi hari hanya nasi tim yang lunak dan daging, dan daging, dan daging. haha. aku rindu nasi kapau.
3. MA
Media Aesculapius ini entah sejak kapan jadi bagian penting dalam hidupku. kata mama, ketika delirium hari-hari pertama di RS aku sering menggigau tentang MA. mengkhawatirkan adik-adik juniorku di sana yang kehilangan kakaknya. mencemaskan program-program yang harusnya kulaksanakan tepat waktu. anak-anak MA sungguh bikin rindu, bayangkan saja.
- anggota tahun pertama, angkatan yang paling dekat dengan PU, bak anak-anak kesayanganku, datang menjenguk ketika aku masih tidak sadarkan diri (tidur) haha. ramaai sekali kata mama, mungkin benar-benar datang satu angkatan. mereka membawa bunga mawar warna pink dan meninggalkan surat. makasih adik-adik, kalian tahu, bahkan hingga kering pun bunga itu kusimpan dalam buku dan hatiku :)
- anggota tahun kedua, angkatan yang paling aktif dan dapat diandalkan, bagai tangan kanan yang siap diperbantukan dan diminta tolong kapan saja datang menjenguk tak kalah ramainya. salah satu yang kutahu paling cuek dan lucu sampai bilang "gue yang ga punya hati ini aja lemes lihatnya, kak Tiara cepet sembuh ya". haha mr. IW, I will, I will really do. lainnya malah mention akun-akun Islam di twitter, minta supaya didoain akunya cepat sembuh. It's heartbreaking, Ms. DW. funny, but thank you for doing such lovely thing. makasih adik-adik, aku nitip MA di tangan kalian sementara ya.
- anggota tahun ketiga, hahha ini sih datangnya misah-misah. maklum kita udah klinik jadwal beda-beda. Ms. DU (dan Ms. G yang super baik) yang sampai nginap beberapa hari menemani, Ms. HU yang nganterin pertama kali ke IGD sampai mengandalkan segala koneksinya dan tetap datang meski flu, Mr. J yang berlinang air mata melihat kondisi awalku dan datang hampir setiap minggu untuk mengamati perkembangan, Mr. H yang meski ga datang tetap dan selalu support lewat line dengan segala kelucuannya, Mr. M yang pas aku pulang malah becandain "kok Tiara udah balik aja?". hei, kalian, aku gatau lagi mesti bilang apa karena makasih udah terlalu mainstream, tapi kalian amat berarti. tetap ada ya buat MA, bertahanlah.
- anggota tahun keempat, ini sih ga bisa disebut satu per satu jasanya buat MA. bahkan di tengah jadwal kuliah dn jaga yang padat, menjelang UKDI dan sibuknya ngurus seminar PLD, masih sempetin datang jenguk dan doain. haa kakak-kakak :') terharu. Ms. V dan Mr. I yang larang-larang aku pegang handphone biar ga follow up MA, Ms. R a.k.a kak P yang amat lucu dan penuh gosip sunggguh menghibur, dan banyak lainnya bahkan sampai yang bawa kue dan donat. meski kuenya kadang ga kuhabiskan, makasih kakak-kakak. aku sayang kalian.
see? sampai-sampai susternya masang tulisan di depan pintu kamarku "Demi kesehatan dan kenyamanan Nn. Tiara Kemala Sari, jam besuk dan jumlah pengunjung dibatasi yakni pukul 10.00-12.00 dan 15.00-19.00 maksimal sekian (lupa) orang. Terima kasih" hahaha. padahal sebenernya boleh jam berapa aja.
aku rindu. banyak yang kurindukan. tapi kira-kira tiga hal itu yang paling kurindukan.
mungkin semua harus dimulai dari awal lagi. tapi ini ujian, dan Allah yakin aku mampu melaluinya, maka siapalah aku berani meragukan takdir Tuhannya? yuk, semangat dan berpikir positif. bismillah :D
judulnya menarik Anda untuk membaca? haha. jangan kecewa karena isinya mungkin tak seperti yang Anda duga wkwk. ya, sudah lama tak menulis sebebas ini. banyak hal terjadi. ujian dan tantangan datang bertubi-tubi, tapi gak ada yang melebihi nikmatNya dalam syukur ini. alhamdulillah alhamdulillah untuk segalanya.
catch up info, beberapa waktu yang lalu, tepatnya 10 April 2014 aku masuk RS. sebuah RS negri dengan pengelolaan a la swasta menampungku di kamar 508 yang lama-lama tak kusukai. diagnosis kerja; Sudden Deafness e.c iskemi pembuluh darah. dugaannya akibat dehidrasi dan malnutrisi
"Dek, temen kamu kok busung lapar amat sih!" celotehan suster di IGD RS kepada kak Hali :p
Hb ku 8, Trombosit 100.000, ga inget berapa tapi albuminku rendah dan darahku kental. jadilah rawat inap menjadi putusan dokter saat itu.
"Ini kegawatdaruratan THT, kamu harusnya bawa sejak hari kesatu," ya dok maafkan saya belum baca buku, balasku pada dokter penanggungjawab yang juga dosen THT-ku itu. Ya kami sedang stase THT, dan aku mengalami ini pada hari kesatu.
Selama 16 hari perawatan, banyak yang terjadi. Sedikit yang mau kuceritakan kini adalah tentang hal-hal yang kurindukan. Sisanya yang banyak nanti ya :)
Aku rindu sekali...
1. Sujud
Selama di RS aku hanya diperbolehkan tiduran. bed rest istilah mereka. maka jadilah shalat pun di tempat tidur. karena selang infus dan selimut dan kondisi badan, posisi telentang adalah yang paling memungkinkan. tayamum jadi pilihan. dari shalat ke shalat, aku rindu sekali sujud. menundukkan dalam-dalam keakuanku, menempelkan serendah-rendahnya kepala yang kerap jadi besar dan keras ini. aku rindu sekali sujud. yang lama. yang khusuk. yang akrab sampai nangis. Maka sujud pertamaku pascaperawatan, sungguh nikmat. makasih atas nikmat kesempatan sujud ya Allah :)
2. Nasi kapau
Selama dirawat, mama menemaniku di Jakarta. maaf merepotkan ya Ma, aku j,anji akan berusaha lebih baik lagi. Nah beliau ini selama di RS, makan siang acap kali beli nasi Padang atau nasi kapau. kebetulan di depan RS ada rumah makan Padang yang cukup ternama dan enak rasanya, RM Kurnia. kalau temanku datang, mama sering nitip atau minta temani beli. baunya semerbak ke seluruh kamar. haa pasti rasanya enak sekali. tapi aku masih dalam perawatan, issh, nasi biasa pun aku tak boleh. hari demi hari hanya nasi tim yang lunak dan daging, dan daging, dan daging. haha. aku rindu nasi kapau.
3. MA
Media Aesculapius ini entah sejak kapan jadi bagian penting dalam hidupku. kata mama, ketika delirium hari-hari pertama di RS aku sering menggigau tentang MA. mengkhawatirkan adik-adik juniorku di sana yang kehilangan kakaknya. mencemaskan program-program yang harusnya kulaksanakan tepat waktu. anak-anak MA sungguh bikin rindu, bayangkan saja.
- anggota tahun pertama, angkatan yang paling dekat dengan PU, bak anak-anak kesayanganku, datang menjenguk ketika aku masih tidak sadarkan diri (tidur) haha. ramaai sekali kata mama, mungkin benar-benar datang satu angkatan. mereka membawa bunga mawar warna pink dan meninggalkan surat. makasih adik-adik, kalian tahu, bahkan hingga kering pun bunga itu kusimpan dalam buku dan hatiku :)
- anggota tahun kedua, angkatan yang paling aktif dan dapat diandalkan, bagai tangan kanan yang siap diperbantukan dan diminta tolong kapan saja datang menjenguk tak kalah ramainya. salah satu yang kutahu paling cuek dan lucu sampai bilang "gue yang ga punya hati ini aja lemes lihatnya, kak Tiara cepet sembuh ya". haha mr. IW, I will, I will really do. lainnya malah mention akun-akun Islam di twitter, minta supaya didoain akunya cepat sembuh. It's heartbreaking, Ms. DW. funny, but thank you for doing such lovely thing. makasih adik-adik, aku nitip MA di tangan kalian sementara ya.
- anggota tahun ketiga, hahha ini sih datangnya misah-misah. maklum kita udah klinik jadwal beda-beda. Ms. DU (dan Ms. G yang super baik) yang sampai nginap beberapa hari menemani, Ms. HU yang nganterin pertama kali ke IGD sampai mengandalkan segala koneksinya dan tetap datang meski flu, Mr. J yang berlinang air mata melihat kondisi awalku dan datang hampir setiap minggu untuk mengamati perkembangan, Mr. H yang meski ga datang tetap dan selalu support lewat line dengan segala kelucuannya, Mr. M yang pas aku pulang malah becandain "kok Tiara udah balik aja?". hei, kalian, aku gatau lagi mesti bilang apa karena makasih udah terlalu mainstream, tapi kalian amat berarti. tetap ada ya buat MA, bertahanlah.
- anggota tahun keempat, ini sih ga bisa disebut satu per satu jasanya buat MA. bahkan di tengah jadwal kuliah dn jaga yang padat, menjelang UKDI dan sibuknya ngurus seminar PLD, masih sempetin datang jenguk dan doain. haa kakak-kakak :') terharu. Ms. V dan Mr. I yang larang-larang aku pegang handphone biar ga follow up MA, Ms. R a.k.a kak P yang amat lucu dan penuh gosip sunggguh menghibur, dan banyak lainnya bahkan sampai yang bawa kue dan donat. meski kuenya kadang ga kuhabiskan, makasih kakak-kakak. aku sayang kalian.
see? sampai-sampai susternya masang tulisan di depan pintu kamarku "Demi kesehatan dan kenyamanan Nn. Tiara Kemala Sari, jam besuk dan jumlah pengunjung dibatasi yakni pukul 10.00-12.00 dan 15.00-19.00 maksimal sekian (lupa) orang. Terima kasih" hahaha. padahal sebenernya boleh jam berapa aja.
aku rindu. banyak yang kurindukan. tapi kira-kira tiga hal itu yang paling kurindukan.
mungkin semua harus dimulai dari awal lagi. tapi ini ujian, dan Allah yakin aku mampu melaluinya, maka siapalah aku berani meragukan takdir Tuhannya? yuk, semangat dan berpikir positif. bismillah :D
Firasat pada Senja
"Ada makna dibalik setiap pertanda. Firasat ini.."
"Australia"
Katanya, begitu saja. Tak menghiraukan gemetar kakiku yang tak henti sedari pertamanya pertemuan tak biasa ini. Andra, kita tak biasa bertemu bila tak senja. Andra, kita tak biasa bertemu bila tak main basket. Maka pertemuan malam ini sungguh tak biasa dan entah kenapa membuatku gamang.
Maka benarlah firasat itu, engkau bukan sedang gila ngidam bermain basket di malam hari. "Hana, Australia", ulangmu sekali lagi, buyarkan genangan hujan di pelupuk bola mataku.
"Ya, ya, aaa Australiaaa. Banyak kangguru, tentu. Aku ikut senang," kupamerkan gigi kelinci yang selama ini kerap kau ejek itu, An.
"Na..," ujarmu pelan dengan tatapan super aneh. Alismu turun, tapi matamu terang bagai bulan lengkap sempurna seperti biasa.
"Kenapa? Bukankah engkau amat menginginkannya. Sekolah teknik di Australia. Maka, apalagi yang kau khawatirkan, bro?" cobaku sedikit bercanda sembari mengamit lengan bak lobak raksasanya. Lalu aku mengoceh tak tentu arah tentang nanti akan saling mengunjungi, berkirim foto, dan tentu menelpon lewat skype. Bola mataku tak lagi fokus bergerak-gerik kesana kemari menghindari jatuhnya hujan malam ini.
Dia hanya diam, menatapku dalam-dalam.
***
Kami berjanji akan tetap saling komunikasi. Ia berjanji akan menelponku sesekali meceritakan hujan dan senja di sana. Enam tahun, karena ia akan melanjutkan S2, "itu tidak lama, hahaha" ujar kami berdua menghibur lara.
Dan inilah harinya
Aku tak tau akan seperti apa, hanya saja ada sesuatu yang kurasa namun tak kupercaya. Tak ingin kupercaya.
***
Keluarga adalah segalanya bagiku. Meski tomboy, anak basket, suka hip-hop, gadis 18 tahun ini memang anak manja. Tak segan peluk mama dari belakang ketika memasak atau tak peduli dengan wajah bersungut papa ketika malas-malasan mandi, sudah biasa. Keluarga adalah segalanya, dalam keluarga ini, tak akan ada yang ditinggal atau dilupakan. Begitu janjinya sebagai anak pertama.
Tapi, status itu.
Anak pertama.
Ternyata tak semudah mengatakannya. Semua tak seindah itu ketika kamu beranjak dewasa dan menyadari tanggung jawabnya. Tak ada keluarga yang sempurna. Bak gelas kaca.
Maka ketika gelas itu pecah,
Tugasmulah menyatukan satu demi satu serpihannya.
Terluka sudah biasa. Gelas ini harus satu. Karena tak ada yang sempurna, yang ada hanya mereka yang bersikeras mempertahankan dan memperbaikinya.
Jika semua ini rusak,
Bukan tempat sampah tempatnya. Bukan pula tukang servis atau pedagang loak di pojok pasar sana. Tapi telapak tanganmulah, lebar pundak dan hatimulah, tempat berlabuhnya. Beristirahat sejenak dan bertahan. Menyelesaikan permasalahan dengan senyuman.
Aku bukan anak yang baik. Aku bukan kakak yang sempurna. Maka, akulah perubahan.
***
"Kau yakin?"
"Apa, menjadi ketua keputrian Rohis SMA kita? Haha, Di. Ayolah, kau sahabatku semenjak SD. Kapan aku tak bersungguh-sungguh dalam keputusan, hm?" balasku dengan senyuman meyakinkan.
"Semua akan baik-baik saja, okey? Meski aku ketua keputrian" kuharap demikian..
Tidak juga. Tiga tahun, tidak. Tepatnya tiga tahun tiga bulan, tak ada komunikasi dengan Andra. Bukan salahnya atau sinyal internet Indonesia. Aku, aku saja yang menghentikan. Jangan tanya mengapa, karena aku tak akan bisa menjelaskannya sesempurna aku melafazkan ayat suci atau mendebatkan kebijakan anggaran kesehatan negri kita. Hanya saja, firasatku berkata,
Semua ini tak pantas.
Mendewasalah, dan segera pulang, An.
Karena firasatku berkata..
**
Subscribe to:
Posts (Atom)