Saturday, November 27, 2010

redupnya satu bintang

Rabu, 25 November 2010

ketika otakku mulai lelah dengan geopolitik,geostrategi,pancasila,ham,apalah.pelajaran yang membuat pemikiranku mengawang bebas antara terapung dan tenggelam.ku berhenti sejenak, duduk, dan memulai kebiasaan lama yang kulakukan dalam kelamnya hari.merenung

membuka lembaran memori.yang tertumpuk, terhimpit, berdebu dalam fana ku.membalik-balik hari kemarin, warna-warni masa lalu.hingga kutemukan satu potret.potret kelabu yang entah kenapa tidak berdebu.ku amati tiap titik potret itu dengan ragu-ragu.mengingat kembali momen redupmu

saat kemilau gemintang lainnya begitu terang.menyambut gembira pesta perayaan bersama rembulan.satu bintang disitu malah meredup dan kelam.tak ada kata.namun aku lebih dari sekedar mengerti untuk memahami.bahwa terangnya hilang hanya karena kejora mendadak pergi.kejora yang selalu paling terang.dikelilingi gemintang lain yang ingin bersenang-senang.membuatnya redup, seperti sedih dan menyadari.sadar diri tentang kejora yang terlalu menyilaukan.

aku tahu.aku disini, cuma setitik kecil dalam jarak ribuan tahun cahaya dari satu bintang itu.terlalu jauh bahkan untuk sebuah pesawat luar angkasa tempuh dengan kecepatan supernya.namun redupnya, bahkan melebihi kecepatan cahaya, menghantarkan beribu luka ke bawah rusuk terakhirku.membuat segumpal hati disitu remuk redam, tenggelam dalam tangisan.

namun, seperti biasa, yang perlu dan boleh kulakukan hanya berusaha tersenyum, mengalihkan pandangan dari langit malam itu, dan mengirimkan pesan singkat kepada Tuhan.

No comments:

Post a Comment