Saturday, November 27, 2010

dan ketika aku lelah

sewaktu kita kecil, bahkan mungkin hingga kini, acapkali kita terheran dan terkadang mengeluh dengan banyaknya bentuk dan jumlah ibadah yang mesti kita lakukan.apa lagi di saat bulan suci ramadhan sperti ini. dulu kita bertanya, mengapa ibu memaksa maksa kita mengikuti TPA atau pesantren ramadhan yang membosankan itu. apalagi ayah yang dengan kerasnya tidak memperdulikan mata kita yang susah payah menahan kantuk, terus mendorong untuk pergi tarawih berbelas-belas rakaat.huff.

mungkin, dulu kita begitu.
tapi aku, terus bertanya, haruskah? mengapa?
hingga suatu hari aku temukan jawabanku.

di barisan panjang salat tarawih suatu malam, kutemui sesosok perempuan berkerudung merah muda. dia tidak cantik. tapi yang menarik perhatianku padanya adalah senyum itu. kuperhatikan, di tengah ibu2 yang menguap lebar sepanjang ceramah, atau nenek2 yang bersandar hingga tertidur menunggu takbir, bahkan adik2 kecil yang tertawa girang dan makan sate dikala ustadz berteriak-teriak marah, ia tersenyum. memegang qur'an mungil ditangannya dan terus membaca. di saat ustadz mulai berceramah, ia berhenti, dan memperhatikan, tersenyum sesekali dan membuka-buka lembar qur'annya, mencari rujukan pasti. di saat tarawih pun, walau terkadang matanya tak kuasa untuk tetap terjaga, ia bersikeras, menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali tersenyum menatap lembut ujung sajadah. aku heran dan bertanya akan arti senyum itu.

tanpa ragu, usai salat, ku ulurkan tanganku dan ku ucap salam. ia membalas dan kembali tersenyum. kami berkenalan dan lalu berbincang. hingga akhirnya kutanyakan apa arti semua senyuman itu. dan kau tahu? jawabnya...

"ukhti, senyum itu adalah bentuk sindiranku pada diri sendiri dan bentuk syukurku padaNya. kita manusia kadang lelah dan merasa bahwa kelelahan itu adalah satu bentuk keterbatasan kita yang sudah menjadi suratan, hingga kita menyerah dan berhenti. namun, rasanya bukan begitu. dan ketika aku lelah, yang terpikir olehku adalah...
'pernahkah Ia lelah memberiku udara dan semua?'
'pernahkah Ia lelah mengiringi detak jantung dan denyut nadiku?'
atau 'PERNAHKAH IA LELAH MENCINTAIKU?'
maka di saat itulah aku tersenyum. menyindir diriku sendiri yang menjadikan lelah sebagai alasan semu untuk bermalas-malasan, dan mensyukuri semua cintaNya padaku yang tak pernah lelah, menyerah, bahkan berhenti"

subhanallah, tuhan. bulu kudukku merinding. mendengar jawabnya. dan menyadari telah seberapa sering aku mengeluh lelah dalam sujudku. ya allah, tak kenal lelah engkau mencintaiku, sedangkan aku? untuk sujud beberapa belas kali saja aku mengeluh. betapa bodohnya diri ini. tapi aku bersyukur untuk menyadari hal itu kini.


*kutulis dengan beberapa perubahan. semoga dapat menjadi renungan
maaf jika terdapat keslahan.

No comments:

Post a Comment