Wednesday, August 7, 2013

25Hari25Tulisan #6 Lalala Yeyeye :D

Malu?

agak sedikit beda dengan temenku si cantik Yani, aku orangnya gak pemalu. kyahahaha. jadi kalau
disuru milih cerita paling memalukan selama masa muda ya jadi bingung milih yang mana, abisnya
banyak, dan akunya ndak malu-malu bener juga sih :p

satu-satu dulu kali ya, bismillah mudah-mudahn ada hikmahnya buat temen2 dan para pembaca
sekalian (adases!). yaah setidaknya menghibur.

TK
aku dulu kecil rambutnya pendek, pirang karena sering main dibawah terik matahari sore-sore.
terus suka main sama anak laki-laki, sepak bola, takraw, gundu, dll. tapi agak heran juga
sebenernya banyak case kayak gini yang mungkin agak memalukan -->

Tiara dan Nenek berjalan menuju Mushalla dalam rangka jalan-jalan sore. Tiara melihat
segerombolan anak lelaki sedang bermain bola di halaman Mushalla, hal ini sangat menarik
perhatiannya, sehingga ia berlari mendekati sekumpulan anak lelaki tersebut dan dengan lantang...
"TEMEN-TEMEN, AKU IKUT YA MAIN BOLANYAAAA!!!"

zzzz
semua bocah lelaki terdiam melihat ke arah Tiara yang siap menerjang benda bundar itu. ternyata,
satu dua tiga! semua lenyap. si pemilik bola mengambil langkah seribu menyelamatkan bolanya, si
teman-temannya yang tadi bengong karena sumber suara aneh itu adalah seorang bocah
perempuan rambut pendek dan pirang dan tidak mereka kenal pun berlari pontang panting,
menyelesaikan permainan.

syuu
angin bertiup pelan menggulirkan dedaunan di halaman. semua hilang.
"Sudah, kamu main sama nenek saja ya" ucap Nenek mengalihkan :p (love u nek!)

SD
kelas 6, aku kebagian nampilin tarian modifikasi antara tradisional ama modern, entahlah namanya
apa, yang jelas agak2 islami gitu. dalam penampilan kali ini kami diwajibkan menggunakan baju kurung yang panjang dan dalam, ceritanya islami, muslimah sejati. kami latihan berhari-hari, aku sampe hapal lagunya dalam hati :p

hari H, kyaaa aku semangat sekali. musik mengiringi dan kami mulai menari. teman-temanku lancar sekali. mereka cantik dan wangi. padahal aku paling tinggi, tapi baju kurung ini, rasanya agak aneh, kepanjangan sekali. firasatku benar...

beberapa saat setelah suara hati, aku menginjak ujung baju kurung yang membuatku jatuh ke belakang panggung. disana ada tirai warna warni yang ikut berai tertimpa badanku. orang-orang diam, panik, was wes wos, bahkan teman-temanku berhenti menari.

aku kaget...
tapi lagunya masih bunyi. entah apa yang aku pikirkan ketika itu, aku ke depan. sakit, sedikit, tapi lagunya masih bunyi. aku naik panggung lagi. bediri di posisi, nari. hihi. pak kepala sekolah bingung, alih-alih bertanya, suara musik membuatnya bingung harus gimana. yaudah, teman-temanku juga nari lagi. semua seperti tak pernah terjadi! :D senang mereka memaklumi.

hmm meski tirai panggung jadi berai...

TO BE CONTINUED (may be) dengan cerita memalukan SMP, SMA, Kuliah dan selanjutnya :D :D

25Hari25Tulisan #5 Miiko and Me

tema hari ini seru ya.

mau cerita sedikit kenapa aku suka dan sangat menanti-nanti serial Hai Miiko atau Namaku Miiko. sebenernya ini komik udah lama, tetapi aku baru mengenalnya beberapa tahun belakangan dan langsung niat mau baca semua episode :3

1. pipi tembem
nah kalau dari tokoh Miiko satu ini emang ciri khasnya (selain tubuh yang #ehem tidak terlalu tinggi) adalah pipi bak bakpaonya. bikin gemes? iyaaa. kelihatan kenyal? iyaaa. minta dicubit? tidaaak. kenapa aku suka, soalnya dulu semenjak kecil aku punya pipi rada-rada begini. tembem. dicubit orang-orang terus memerah deh. hihi. untunglah kulitku tidak terlalu cerah sehingga tidak terlalu tampak jejak cubitannya.

2. sifat ceria dan positif
haduu kalau udah ketawa, orang-orang disekitarnya bisa terbang. saking lebarnya itu mulut kalau ketawa, si Tappei suka ngejekin. kadang digambarkan kalau misalnya ketawa mulut Miiko bisa menutupi hampir keseluruhan wajahnya. yah, meski suka ketawa, Miiko juga ceria dalam suasana tidak menyenangkan. misalnya dia terus berusaha menghibur diri dan teman-temannya meski yang datang latihan untuk pertunjukkan musik hari anak di tempat penitipan sedikit, atau ketika ia gugup menantikan kelahiran adik barunya, atau ketika ia tidak bisa mengerjakan ujian matematika. dia tetep positif. hihi. meski beberapa, terlalu positif malah jadi santai :p

3. setia [pake banget] ama kawan
tau temannya kan, siapa tu yang komikus. duh, ga ngerti ya, kalau aku lihat-lihat kok kadang-kadang temannya ini bossy, suka nyuruh, sombong, ambi, hahaha. suudzhon, astaghfirullah. beberapa temen lain beneran kadang-kadang ga suka lho ama si komikus satu ini. tapi Miiko, dengan setia selalu jadi asisten dia dalam membuat komik meski hanya berbalas kue. mereka begadang bersama bahkan sampe ga tidur sama sekali demi komik si temannya ini yang ternyata deadlinenya pun udah lewat. duileee. dia bahkan sampe ragu akan mimpi atau cita-citanya di masa depan, karena terlalu banyak mikirin orang lain, termasuk si komikus ini. tapi gagpapa, orang baik pasti disayang Allah, Miiko mungkin bisa jadi asisten komikus terkenal (?), atau guru TK cantik yang istri seorang fotografer (hihi), atau tukang jual kue dango :D

4. suka makan
entahlah ya, kurus begini (eaa) aku sebenernya suka makan, banyaaak, coklat, blueberry, bengbeng, susu, roti, nu green tea, banyaaak banget. sampe2 orang2 kaget. cuma, kadang2 ga sempat atau lupa ajaaa. he? kok jd bahas aku? hahaha. intinya Miiko ini suka makanlah ya. ga mikirin berat badan dan postur tubuh, mirip ama seseorang ihik.

nah tapi eh tapi. ada beberapa sifat Miiko yang tak patut dicontoh. misalnya dia kadang-kadang pemalas, kadang-kadang moody, kadang-kadang ga peka atau ga nyambung, kadang-kadang konsumtif, kadang-kadang ga dewasa bahkan dianggap adik sama Mamoru :D moga2 Miiko cepat besar dan bahagia selalu :)

Lihat tuh mulut besarnya ampe nutupin muka :D

25Hari25Tulisan #4 Permainanmu

Aku tidak mengerti.

Aku tidak memahami bagaimana peraturan permainan ini. Kata mereka kejar bolanya, bola yang satu itu. Maka ada 22 pemuda dengan baju rapi-rapi dan pelindung tangan kaki mengejar benda bundar ini. Mereka kesana kemari, menggiring dengan kaki ditonton para penggemar yang mulai gigit jari.

Apa yang mereka pikirkan? Bawa bola itu sana sini, menuju gawang, benda berbenang bak jemuran tali temali. Kata Ayah, "ini permainan laki-laki, Ras! kamu ndak ngerti. jantan ini, seru lagi". Laki-laki semua sih yang main, di hamparan rumput hijau dengan panjang tak berbilang ini. Dijaga satu dua wasit di tiap sudut baris melempar bola kalau lari.

Aku sebenarnya tidak mau memaksa diri. Tentang kartu merah kartu kuning dan peluit panjang. Hukuman karena melakukan hal terlarang. Apa? Ndak tau. Nanti mereka lari lagi, ganti pemain sama yang lebih tampan. Pelatih berbaju kece lipat tangan di pinggir lapangan, manggut-manggut, kadangteriak tunjuk-tunjuk tak karuan, atau lompat kegirangan.

Hihi. Aku tidak mau memaksa diri memahami. Tapi jika ini permainanmu, maka bolehkah aku?
Mungkin suatu hari, meski hanya dari tepi, dengan permainan yang tak sepenuhnya kumengerti, aku akan berteriak keras sok hepi "Hei, Aku bangga padamu!"

- teruntuk si pemuja tim bola, dari sang nona pembelajar.

Sunday, August 4, 2013

25Hari25Tulisan #3 Langit Kota Padang

hahaa. sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang berbau agak sastra. aku sekarang mau bahas tentang yang lebih realita. tapi ndak seilmiah beberapa tulisan lainnya. hehe. maapkeun kalau misalnya aneh yak.

voila.

ini dia yang ingin aku persembahkan. langit kota Padang. hahaha. ndak penting ya? diskip ndakpapa. abis aku bingung, aku ndak punya banyak ilmu tentang langit. dan aku ndak suka-suka banget juga sampe bisa menghasilkan karya sastra luar biasa darinya. tapi mengingat salah seorang teman kesayanganku suka banget langit, aku akhir-akhir ini jadi sering memperhatikan.

nah. langit kota padang, terutama di tempatku tinggal, ini nama daerahnya Gunung Pangilun. meski ndak sesempurna tanah lahir Eli, perumahanku juga berhadap-hadapan dengan pegunungan. dibawahnya ada sedikit hamparan sawah, terkadang kerbau dan anjing ada disekitarannya. nah agak kedepan sedikit, udah ada perumahan-perumahan.

langit. sekarang fokus ke langit. berikut beberapa fenomena langit di Padang #versitiara

a. Langit Lagi Baik
nah, langit disini seringnya lagi baik begini. biasanya terjadi pagi hari sekitar pk 07.00-10.00. itu jam-jamnya Chelsea (red. anjing adikku) minta diajak jalan-jalan, jadi biasanya aku bakal menelusuri jalan menuju pegunungan yang disamping-sampingnya berhiaskan sawah itu sambil menarik ulur kekang lehernya. kalau diperhatikan, langit lagi baik ini, warna birunya berdegradasi, sedikit putih di garis maya batas antara langit dengan pegunungannya. semakin ke atas, semakin jauh, semakin biru pekat. bedanya si langit lagi baik ini dengan langit lagi tenang adalah di awannya. kalau langit lagi baik, awannya banyak. biasanya jenis cumulus atau cumulonimbus. gumpel-gumpel padet kayak kembang gula gitu. kalau di gambar bawah yang judulnya 'Langit Lagi Baik' sama 'Langit Lagi Baik Lagi'. yang gambar 'Langit dari Atas Langit' itu aku ambil waktu di pesawat, kayaknya termasuk golongan ini juga.

b. Langit Lagi Tenang
ini kalau udah agak lebih siang biasanya, pk 13.00-15.00. tapi belum masuk senja. agak ada sedikit variasi, jadi biasanya kalau di awal waktu dia maish ada awannya dikit, misalnya di gambar bawah yang judulnya 'Langit Hampir Tenang'. biasanya awan jenis cirrostratus atau cirrus. cuma lewat-lewat gitu awannya, kayak bulu ayam. kalau udah lebih siangan dikit, awannya hilang sama sekali kayak di gambar 'Langit Tenang dibalik Jeruji Kamar'. bisa biru doang pekat. lucu juga. abisnya bingung langit enggak ada awannya. nah kalau udah agak sore, muncul deh awan dengan semburat jingga, kayak di 'Langit Senja'.

c. Langit Lagi Marah
hahaha. ini lucu lagi, dapetnya biasanya waktu mau hujan. atau di jalan antara Padang-Bukitinggi. awannya cumulonimbus atau cumulus berantakan, padet, sampe langitnya penuh, gak kelihatan biru-birunya. suka sih, tapi agak serem juga, soalnya habis itu biasanya hujan, badai, atau cuaca dingin. kayak di gambar bawah 'Langit Lagi Marah'.

udaah hahaha. sembarangan banget ya nentuin perasaan langit. maap juga ngaco, namanya juga #versitiara. terus dari penjelasannya juga kebanyakan malah jelasin awan. kapan-kapan mau bahas jenis-jenis awan aaah #seenaknya #pengalihantopik. hehe. tapi beneran lho, mengamati langit itu mood maker banget. semoga, kita bisa saling merasa dan bahagia, di bawah langit yang sama. :D


Langit Lagi Baik pk 08.00

Langit Hampir Tenang

Langit Tenang dibalik Jeruji Kamar
Langit Lagi Marah


Langit dari Atas Langit
Langit Menjelang Senja

25Hari25Tulisan #2 Bu, Aku ndak Suka Susan!

susan.

tentang boneka fenomenal satu itu, memang sempat menjadi populer beberapa dekade lalu. imut, rambut panjang, suara menggemaskan, ya hampir semua anak perempuan ketika itu menjadikan susan panutan. maka jadilah, si dalang dengan berani menjadikan susan teladan, melalui lagu-lagu dan penceritaannya.

sandra.
sedikit berbeda, dia tidak suka. dia tidak suka susan. entahlah, mungkin kehidupan mendidiknya begitu keras. rambut panjang terurai indah itu, ia benci sekali. mengapa orang-orang menghabiskan uang untuk membeli sisir dan mendandani susan. suara menggemaskan yang menggema dari kotak kaca itu, dengan cerita-cerita penuh tawanya. mengapa orang-orang menghabiskan waktu untuk menonton semua paradoks kehidupan, gumamnya.

ditambah pula, satu bait lagu,
"susan, susan, susan, kalau udah gede mau jadi apa?"

huh. mengapa orang begitu peduli boneka itu mau jadi apa? mengapa orang lain begitu serakah ingin mengatur masa depan mereka?
***

ibu,
aku tidak benci susan. hanya saja, begitu sulit bagiku untuk memiliki hati yang lapang. sembari mencuci piring di warung ibu Martinah, aku kerap mencuri lihat gambarnya di televisi. kotak kaca itu penuh warna-warni ibu, mereka bernyanyi disana, tertawa-tawa membicarakan masa depan. tapi tak sempat kuperhatikan semuanya secara sempurna, ibu-ibu tua itu sudah keburu memarahiku karena salah satu gelas bututnya berderai di lantai, tanganku licin bu.

ibu,
aku mau temenan sama susan sebenarnya, toh nama kami sama. susan boneka itu mungkin akan senang jika tau ibu menyukainya dan menjadikan namaku susandra. namun, mengingat ibu begitu menderita melahirkanku, melihat betapa ayah menyalahkanku atas takdir kehidupan Tuhan, membaca sulitnya kehidupan kami berdua setelah itu, aku jadi benci dipanggil susan. aku mau sandra saja. meski kata mereka tidak cocok karena aku bukan anak gedongan. mereka menyebalkan bu.

ibu,
aku gak suka kalau susan udah mulai membahas masa depan. satu bait lagu itu terus terngiang di kepala dan mulut teman-temanku. aku ndak suka mereka membicarakan masa depan. apalagi jawaban susan, dia bilang dokter bu. dia niru-niru cita-citaku. cita-cita semu, yang kata mbakyu jangan dipupuk, nanti sakit kalau ga tercapai. kenapa orang-orang sekarang begitu serakah bu, bagiku dan ayah dan mbakyu dan mungkin orang di perkampungan kumuh ini, masa depan hanyalah esok hari. esok dikala mentari pagi, tentang apakah kehidupan masih menyapa kami. sesederhana itu.

ibu,
bukan susan yang salah. aku tau. hanya saja aku mau, hidup sebaik dia. bisa ya bu? ceritakan pada Tuhan ceritaku, agar Ia dengar dan renungkan. siapa tahu Ia berbaik hati, menyamakan nasibku dengan boneka kecil porselen itu. aku akan bersyukur sekali :)

kecup sayang penuh cinta,
semoga ibu selalu disayang Allah.
-Susandra. dibawah langit dengan semburat jingga, dihadapan nisan tanpa nama.

Thursday, August 1, 2013

25Hari25Tulisan #1 Di Hadapan Diri Sendiri

Lagi ada proyek sama teman2 sekelompok ngaji. :D bismillah yaa :)

Tema: "Tempat Merenung Paling Cihuy", Usul: Tiara

Cermin.
Karena dengan hanya melihat diri sendiri, aku bisa memegang kendali
Dengan memahami diri sendiri, aku dapat memaklumi kondisi
Terkadang berbicara sendiri pun, sangat membantu sekali.

Refleksi.
Tentang hari-hari panjang yang orang habiskan dengan keluhan.
Mengenai bagaimana seharusnya bersikap menjawab tantangan
Berlatih agar saat rasanya ingin berlari atau memperdebatkan kehidupan, aku tidak gelagapan

Duduk. Mengamat-amati. Menuliskan. Menangkap bayang seseorang yang sama di seberang sana.
Lalu berbicara.

Saturday, June 22, 2013

si kakak

Sesosok sempurna yang kusayang secukupnya 

Kami dekat tidak dari awal masa perkuliahan. Awal jumpa biasa-biasa saja. Aku cupu kayaknya, sementara ia begitu istimewa. Namun, waktu membuat kami lebih memahami dan belajar menginspirasi. Berada dalam dua organisasi bersama lantas menjadikan kami si kembar siam yang kerap tertukar sapa. 

Kakak. Aku memanggilnya begitu bukan karena dia lebih tua. Bukan karena dia lebih dewasa. Apalagi karena ingin menguji kesabarannya dengan bersikap manja. Bukan, kak :) sedari kecil aku hanya anak pertama, kakak menginspirasiku luar biasa. Maka bolehkah, aku menyanjungnya, sosok terkasih dalam dirimu yang kusayang secukupnya, dengan panggilan itu?

Tentang belajar menghargai setiap orang bagaimanapun latar belakang dan kondisinya. Tentang sikap positif yang kemudian mengakar dalam diri kita. Tentang tidak menghakimi orang lain dan memahami bahwa standar-nilai kita berbeda-beda. Tentang self motivation. Membalas pesan segera karena khawatir pengirimnya menanti, seremeh apapun pembicaraannya. Menghargai waktu tapi tetap riang-riang melaluinya. Tsiqoh tapi tetap lantang dan berani menjadi diri sendiri. Dan senyum lebar khas yang selalu mengakhirawali percakapan kita.

Pernah beberapa kali berdebat dan berbeda pendapat mungkin membuat kita bingung. Kadang aku menjadi lemah karenanya. Tapi semua seperti biasa, selalu mengawali pembelajaran baru bagi diri ini 

Terkadang pemikirannya begitu unik atau rumit, tak kumengerti. Begitu kompleks dan berbeda dari semua. Tapi itu yang membuatnya istimewa. Tidak usah memaksakan diri memahami atau mengerti, cukup sediakan waktu untuk mengamati, maka akan lahir inspirasi-inspirasi. 

Ia juga terlibat dalam acara sastra yang kuketuai ketika itu. Menjadi komponen utama, ia sangat bisa diandalkan. Menegur dengan sindiran manis, mengambil alih ketika kondisi membutuhkan, marah dengan penuh keanggunan, mempersuasi dengan kemampuan tingkat tinggi. 

Mimpi besar telah jelas dirangkainya. Silaunya masa depan kerap menjadi kekuatan terbesarnya. Roti kacang kesuakaan yang sering kujadikan sogokan sangat lahap disantapnya pelan-pelan. Sikap sangat memperhatikan dan menghargai hal-hal detail membuatku mawas akan sikap cerobohku kini. Pelan-pelan perbaiki, sebagaimana nasihatnya menyentuh hati. 

Secukupnya, sesuai takaran saja. Karena dengan begitulah, sayuran menjadi gurih karena garam, roti menjadi pas mengembang, dan langit menjadi biru tenang, tidak terik atau mendung kelam. Begitu sayang paling benar yang kekasih ayahku ajarkan, maka ijinkan kakak menjadi salah satunya. 

Semoga kita begini selamanya. Tetap saling menginspirasi dan senyum kelinci. Salam sayang, jerapah. :D