Aku tidak mengerti.
Aku tidak memahami bagaimana peraturan permainan ini. Kata mereka kejar bolanya, bola yang satu itu. Maka ada 22 pemuda dengan baju rapi-rapi dan pelindung tangan kaki mengejar benda bundar ini. Mereka kesana kemari, menggiring dengan kaki ditonton para penggemar yang mulai gigit jari.
Apa yang mereka pikirkan? Bawa bola itu sana sini, menuju gawang, benda berbenang bak jemuran tali temali. Kata Ayah, "ini permainan laki-laki, Ras! kamu ndak ngerti. jantan ini, seru lagi". Laki-laki semua sih yang main, di hamparan rumput hijau dengan panjang tak berbilang ini. Dijaga satu dua wasit di tiap sudut baris melempar bola kalau lari.
Aku sebenarnya tidak mau memaksa diri. Tentang kartu merah kartu kuning dan peluit panjang. Hukuman karena melakukan hal terlarang. Apa? Ndak tau. Nanti mereka lari lagi, ganti pemain sama yang lebih tampan. Pelatih berbaju kece lipat tangan di pinggir lapangan, manggut-manggut, kadangteriak tunjuk-tunjuk tak karuan, atau lompat kegirangan.
Hihi. Aku tidak mau memaksa diri memahami. Tapi jika ini permainanmu, maka bolehkah aku?
Mungkin suatu hari, meski hanya dari tepi, dengan permainan yang tak sepenuhnya kumengerti, aku akan berteriak keras sok hepi "Hei, Aku bangga padamu!"
- teruntuk si pemuja tim bola, dari sang nona pembelajar.
No comments:
Post a Comment