Sunday, August 4, 2013

25Hari25Tulisan #2 Bu, Aku ndak Suka Susan!

susan.

tentang boneka fenomenal satu itu, memang sempat menjadi populer beberapa dekade lalu. imut, rambut panjang, suara menggemaskan, ya hampir semua anak perempuan ketika itu menjadikan susan panutan. maka jadilah, si dalang dengan berani menjadikan susan teladan, melalui lagu-lagu dan penceritaannya.

sandra.
sedikit berbeda, dia tidak suka. dia tidak suka susan. entahlah, mungkin kehidupan mendidiknya begitu keras. rambut panjang terurai indah itu, ia benci sekali. mengapa orang-orang menghabiskan uang untuk membeli sisir dan mendandani susan. suara menggemaskan yang menggema dari kotak kaca itu, dengan cerita-cerita penuh tawanya. mengapa orang-orang menghabiskan waktu untuk menonton semua paradoks kehidupan, gumamnya.

ditambah pula, satu bait lagu,
"susan, susan, susan, kalau udah gede mau jadi apa?"

huh. mengapa orang begitu peduli boneka itu mau jadi apa? mengapa orang lain begitu serakah ingin mengatur masa depan mereka?
***

ibu,
aku tidak benci susan. hanya saja, begitu sulit bagiku untuk memiliki hati yang lapang. sembari mencuci piring di warung ibu Martinah, aku kerap mencuri lihat gambarnya di televisi. kotak kaca itu penuh warna-warni ibu, mereka bernyanyi disana, tertawa-tawa membicarakan masa depan. tapi tak sempat kuperhatikan semuanya secara sempurna, ibu-ibu tua itu sudah keburu memarahiku karena salah satu gelas bututnya berderai di lantai, tanganku licin bu.

ibu,
aku mau temenan sama susan sebenarnya, toh nama kami sama. susan boneka itu mungkin akan senang jika tau ibu menyukainya dan menjadikan namaku susandra. namun, mengingat ibu begitu menderita melahirkanku, melihat betapa ayah menyalahkanku atas takdir kehidupan Tuhan, membaca sulitnya kehidupan kami berdua setelah itu, aku jadi benci dipanggil susan. aku mau sandra saja. meski kata mereka tidak cocok karena aku bukan anak gedongan. mereka menyebalkan bu.

ibu,
aku gak suka kalau susan udah mulai membahas masa depan. satu bait lagu itu terus terngiang di kepala dan mulut teman-temanku. aku ndak suka mereka membicarakan masa depan. apalagi jawaban susan, dia bilang dokter bu. dia niru-niru cita-citaku. cita-cita semu, yang kata mbakyu jangan dipupuk, nanti sakit kalau ga tercapai. kenapa orang-orang sekarang begitu serakah bu, bagiku dan ayah dan mbakyu dan mungkin orang di perkampungan kumuh ini, masa depan hanyalah esok hari. esok dikala mentari pagi, tentang apakah kehidupan masih menyapa kami. sesederhana itu.

ibu,
bukan susan yang salah. aku tau. hanya saja aku mau, hidup sebaik dia. bisa ya bu? ceritakan pada Tuhan ceritaku, agar Ia dengar dan renungkan. siapa tahu Ia berbaik hati, menyamakan nasibku dengan boneka kecil porselen itu. aku akan bersyukur sekali :)

kecup sayang penuh cinta,
semoga ibu selalu disayang Allah.
-Susandra. dibawah langit dengan semburat jingga, dihadapan nisan tanpa nama.

No comments:

Post a Comment