Wednesday, August 7, 2013

25Hari25Tulisan #4 Permainanmu

Aku tidak mengerti.

Aku tidak memahami bagaimana peraturan permainan ini. Kata mereka kejar bolanya, bola yang satu itu. Maka ada 22 pemuda dengan baju rapi-rapi dan pelindung tangan kaki mengejar benda bundar ini. Mereka kesana kemari, menggiring dengan kaki ditonton para penggemar yang mulai gigit jari.

Apa yang mereka pikirkan? Bawa bola itu sana sini, menuju gawang, benda berbenang bak jemuran tali temali. Kata Ayah, "ini permainan laki-laki, Ras! kamu ndak ngerti. jantan ini, seru lagi". Laki-laki semua sih yang main, di hamparan rumput hijau dengan panjang tak berbilang ini. Dijaga satu dua wasit di tiap sudut baris melempar bola kalau lari.

Aku sebenarnya tidak mau memaksa diri. Tentang kartu merah kartu kuning dan peluit panjang. Hukuman karena melakukan hal terlarang. Apa? Ndak tau. Nanti mereka lari lagi, ganti pemain sama yang lebih tampan. Pelatih berbaju kece lipat tangan di pinggir lapangan, manggut-manggut, kadangteriak tunjuk-tunjuk tak karuan, atau lompat kegirangan.

Hihi. Aku tidak mau memaksa diri memahami. Tapi jika ini permainanmu, maka bolehkah aku?
Mungkin suatu hari, meski hanya dari tepi, dengan permainan yang tak sepenuhnya kumengerti, aku akan berteriak keras sok hepi "Hei, Aku bangga padamu!"

- teruntuk si pemuja tim bola, dari sang nona pembelajar.

Sunday, August 4, 2013

25Hari25Tulisan #3 Langit Kota Padang

hahaa. sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang berbau agak sastra. aku sekarang mau bahas tentang yang lebih realita. tapi ndak seilmiah beberapa tulisan lainnya. hehe. maapkeun kalau misalnya aneh yak.

voila.

ini dia yang ingin aku persembahkan. langit kota Padang. hahaha. ndak penting ya? diskip ndakpapa. abis aku bingung, aku ndak punya banyak ilmu tentang langit. dan aku ndak suka-suka banget juga sampe bisa menghasilkan karya sastra luar biasa darinya. tapi mengingat salah seorang teman kesayanganku suka banget langit, aku akhir-akhir ini jadi sering memperhatikan.

nah. langit kota padang, terutama di tempatku tinggal, ini nama daerahnya Gunung Pangilun. meski ndak sesempurna tanah lahir Eli, perumahanku juga berhadap-hadapan dengan pegunungan. dibawahnya ada sedikit hamparan sawah, terkadang kerbau dan anjing ada disekitarannya. nah agak kedepan sedikit, udah ada perumahan-perumahan.

langit. sekarang fokus ke langit. berikut beberapa fenomena langit di Padang #versitiara

a. Langit Lagi Baik
nah, langit disini seringnya lagi baik begini. biasanya terjadi pagi hari sekitar pk 07.00-10.00. itu jam-jamnya Chelsea (red. anjing adikku) minta diajak jalan-jalan, jadi biasanya aku bakal menelusuri jalan menuju pegunungan yang disamping-sampingnya berhiaskan sawah itu sambil menarik ulur kekang lehernya. kalau diperhatikan, langit lagi baik ini, warna birunya berdegradasi, sedikit putih di garis maya batas antara langit dengan pegunungannya. semakin ke atas, semakin jauh, semakin biru pekat. bedanya si langit lagi baik ini dengan langit lagi tenang adalah di awannya. kalau langit lagi baik, awannya banyak. biasanya jenis cumulus atau cumulonimbus. gumpel-gumpel padet kayak kembang gula gitu. kalau di gambar bawah yang judulnya 'Langit Lagi Baik' sama 'Langit Lagi Baik Lagi'. yang gambar 'Langit dari Atas Langit' itu aku ambil waktu di pesawat, kayaknya termasuk golongan ini juga.

b. Langit Lagi Tenang
ini kalau udah agak lebih siang biasanya, pk 13.00-15.00. tapi belum masuk senja. agak ada sedikit variasi, jadi biasanya kalau di awal waktu dia maish ada awannya dikit, misalnya di gambar bawah yang judulnya 'Langit Hampir Tenang'. biasanya awan jenis cirrostratus atau cirrus. cuma lewat-lewat gitu awannya, kayak bulu ayam. kalau udah lebih siangan dikit, awannya hilang sama sekali kayak di gambar 'Langit Tenang dibalik Jeruji Kamar'. bisa biru doang pekat. lucu juga. abisnya bingung langit enggak ada awannya. nah kalau udah agak sore, muncul deh awan dengan semburat jingga, kayak di 'Langit Senja'.

c. Langit Lagi Marah
hahaha. ini lucu lagi, dapetnya biasanya waktu mau hujan. atau di jalan antara Padang-Bukitinggi. awannya cumulonimbus atau cumulus berantakan, padet, sampe langitnya penuh, gak kelihatan biru-birunya. suka sih, tapi agak serem juga, soalnya habis itu biasanya hujan, badai, atau cuaca dingin. kayak di gambar bawah 'Langit Lagi Marah'.

udaah hahaha. sembarangan banget ya nentuin perasaan langit. maap juga ngaco, namanya juga #versitiara. terus dari penjelasannya juga kebanyakan malah jelasin awan. kapan-kapan mau bahas jenis-jenis awan aaah #seenaknya #pengalihantopik. hehe. tapi beneran lho, mengamati langit itu mood maker banget. semoga, kita bisa saling merasa dan bahagia, di bawah langit yang sama. :D


Langit Lagi Baik pk 08.00

Langit Hampir Tenang

Langit Tenang dibalik Jeruji Kamar
Langit Lagi Marah


Langit dari Atas Langit
Langit Menjelang Senja

25Hari25Tulisan #2 Bu, Aku ndak Suka Susan!

susan.

tentang boneka fenomenal satu itu, memang sempat menjadi populer beberapa dekade lalu. imut, rambut panjang, suara menggemaskan, ya hampir semua anak perempuan ketika itu menjadikan susan panutan. maka jadilah, si dalang dengan berani menjadikan susan teladan, melalui lagu-lagu dan penceritaannya.

sandra.
sedikit berbeda, dia tidak suka. dia tidak suka susan. entahlah, mungkin kehidupan mendidiknya begitu keras. rambut panjang terurai indah itu, ia benci sekali. mengapa orang-orang menghabiskan uang untuk membeli sisir dan mendandani susan. suara menggemaskan yang menggema dari kotak kaca itu, dengan cerita-cerita penuh tawanya. mengapa orang-orang menghabiskan waktu untuk menonton semua paradoks kehidupan, gumamnya.

ditambah pula, satu bait lagu,
"susan, susan, susan, kalau udah gede mau jadi apa?"

huh. mengapa orang begitu peduli boneka itu mau jadi apa? mengapa orang lain begitu serakah ingin mengatur masa depan mereka?
***

ibu,
aku tidak benci susan. hanya saja, begitu sulit bagiku untuk memiliki hati yang lapang. sembari mencuci piring di warung ibu Martinah, aku kerap mencuri lihat gambarnya di televisi. kotak kaca itu penuh warna-warni ibu, mereka bernyanyi disana, tertawa-tawa membicarakan masa depan. tapi tak sempat kuperhatikan semuanya secara sempurna, ibu-ibu tua itu sudah keburu memarahiku karena salah satu gelas bututnya berderai di lantai, tanganku licin bu.

ibu,
aku mau temenan sama susan sebenarnya, toh nama kami sama. susan boneka itu mungkin akan senang jika tau ibu menyukainya dan menjadikan namaku susandra. namun, mengingat ibu begitu menderita melahirkanku, melihat betapa ayah menyalahkanku atas takdir kehidupan Tuhan, membaca sulitnya kehidupan kami berdua setelah itu, aku jadi benci dipanggil susan. aku mau sandra saja. meski kata mereka tidak cocok karena aku bukan anak gedongan. mereka menyebalkan bu.

ibu,
aku gak suka kalau susan udah mulai membahas masa depan. satu bait lagu itu terus terngiang di kepala dan mulut teman-temanku. aku ndak suka mereka membicarakan masa depan. apalagi jawaban susan, dia bilang dokter bu. dia niru-niru cita-citaku. cita-cita semu, yang kata mbakyu jangan dipupuk, nanti sakit kalau ga tercapai. kenapa orang-orang sekarang begitu serakah bu, bagiku dan ayah dan mbakyu dan mungkin orang di perkampungan kumuh ini, masa depan hanyalah esok hari. esok dikala mentari pagi, tentang apakah kehidupan masih menyapa kami. sesederhana itu.

ibu,
bukan susan yang salah. aku tau. hanya saja aku mau, hidup sebaik dia. bisa ya bu? ceritakan pada Tuhan ceritaku, agar Ia dengar dan renungkan. siapa tahu Ia berbaik hati, menyamakan nasibku dengan boneka kecil porselen itu. aku akan bersyukur sekali :)

kecup sayang penuh cinta,
semoga ibu selalu disayang Allah.
-Susandra. dibawah langit dengan semburat jingga, dihadapan nisan tanpa nama.

Thursday, August 1, 2013

25Hari25Tulisan #1 Di Hadapan Diri Sendiri

Lagi ada proyek sama teman2 sekelompok ngaji. :D bismillah yaa :)

Tema: "Tempat Merenung Paling Cihuy", Usul: Tiara

Cermin.
Karena dengan hanya melihat diri sendiri, aku bisa memegang kendali
Dengan memahami diri sendiri, aku dapat memaklumi kondisi
Terkadang berbicara sendiri pun, sangat membantu sekali.

Refleksi.
Tentang hari-hari panjang yang orang habiskan dengan keluhan.
Mengenai bagaimana seharusnya bersikap menjawab tantangan
Berlatih agar saat rasanya ingin berlari atau memperdebatkan kehidupan, aku tidak gelagapan

Duduk. Mengamat-amati. Menuliskan. Menangkap bayang seseorang yang sama di seberang sana.
Lalu berbicara.

Saturday, June 22, 2013

si kakak

Sesosok sempurna yang kusayang secukupnya 

Kami dekat tidak dari awal masa perkuliahan. Awal jumpa biasa-biasa saja. Aku cupu kayaknya, sementara ia begitu istimewa. Namun, waktu membuat kami lebih memahami dan belajar menginspirasi. Berada dalam dua organisasi bersama lantas menjadikan kami si kembar siam yang kerap tertukar sapa. 

Kakak. Aku memanggilnya begitu bukan karena dia lebih tua. Bukan karena dia lebih dewasa. Apalagi karena ingin menguji kesabarannya dengan bersikap manja. Bukan, kak :) sedari kecil aku hanya anak pertama, kakak menginspirasiku luar biasa. Maka bolehkah, aku menyanjungnya, sosok terkasih dalam dirimu yang kusayang secukupnya, dengan panggilan itu?

Tentang belajar menghargai setiap orang bagaimanapun latar belakang dan kondisinya. Tentang sikap positif yang kemudian mengakar dalam diri kita. Tentang tidak menghakimi orang lain dan memahami bahwa standar-nilai kita berbeda-beda. Tentang self motivation. Membalas pesan segera karena khawatir pengirimnya menanti, seremeh apapun pembicaraannya. Menghargai waktu tapi tetap riang-riang melaluinya. Tsiqoh tapi tetap lantang dan berani menjadi diri sendiri. Dan senyum lebar khas yang selalu mengakhirawali percakapan kita.

Pernah beberapa kali berdebat dan berbeda pendapat mungkin membuat kita bingung. Kadang aku menjadi lemah karenanya. Tapi semua seperti biasa, selalu mengawali pembelajaran baru bagi diri ini 

Terkadang pemikirannya begitu unik atau rumit, tak kumengerti. Begitu kompleks dan berbeda dari semua. Tapi itu yang membuatnya istimewa. Tidak usah memaksakan diri memahami atau mengerti, cukup sediakan waktu untuk mengamati, maka akan lahir inspirasi-inspirasi. 

Ia juga terlibat dalam acara sastra yang kuketuai ketika itu. Menjadi komponen utama, ia sangat bisa diandalkan. Menegur dengan sindiran manis, mengambil alih ketika kondisi membutuhkan, marah dengan penuh keanggunan, mempersuasi dengan kemampuan tingkat tinggi. 

Mimpi besar telah jelas dirangkainya. Silaunya masa depan kerap menjadi kekuatan terbesarnya. Roti kacang kesuakaan yang sering kujadikan sogokan sangat lahap disantapnya pelan-pelan. Sikap sangat memperhatikan dan menghargai hal-hal detail membuatku mawas akan sikap cerobohku kini. Pelan-pelan perbaiki, sebagaimana nasihatnya menyentuh hati. 

Secukupnya, sesuai takaran saja. Karena dengan begitulah, sayuran menjadi gurih karena garam, roti menjadi pas mengembang, dan langit menjadi biru tenang, tidak terik atau mendung kelam. Begitu sayang paling benar yang kekasih ayahku ajarkan, maka ijinkan kakak menjadi salah satunya. 

Semoga kita begini selamanya. Tetap saling menginspirasi dan senyum kelinci. Salam sayang, jerapah. :D

Sunday, May 12, 2013

gagpapa ya? :D

haloha.

belakangan orang-orang suka komentar "kok kamu hipotim? enggak secerah biasa.", "kenapa enggak ketawa-ketawa? banyak banget amanahnya ya", "kamu kok sedih, pasti gara-gara aku gak becus. maaf ya" (yang terakhir ini dari Panda, ga abis-abis gombalnya).

kenapa? saya kenapa?
hei temantemin maaciw banget udah peduli :") soalnya sebenernya saya gagpapa haha. kalian sensitif sekali atas perubahan yang saya rasa ga banyak ini. saya hipotim ya? kalian suka ga? saya pikir, ini adalah wujud normalnya. sebelum-sebelumnya saya cuma berlebihan aja, karena saya memang begitu kata beberapa berkali-kali.

saya pikir.

lalu ada yang berkata-kata "gagpapa tahu hipertim, menghibur. as always"
well, kita ga bisa nyenengin semua orang dalam satu waktu, right? jadi saya apa adanya aja gimana? hehe. hiper atau hipo, tapi ini saya. jadi gagpapa ya? :) saya sayang kalian semua *peluk*

buat diri saya, cepat besar :*

Tuesday, May 7, 2013

Senja dan Semburat Jingga Tanpa Kata

Terjatuh bagai daun berguguran, aku di hadapan pintu. Entah bagaimana pertahananku runtuh dengan hanya sebuah telpon singkat dari negri seberang sana. Pinggiran gaun hitam telah menjadi binasa atas remuk tanganku. Dan dengan hati-hati aku menutup mulut, agar isak lemahku tak terdengar. 
**

Entah bagaimana selama ini aku mencintai hujan. Mereka kadang membawa banjir dan kelam langit bak malam. Mereka kadang becek membingungkan dan menyiratkan kesedihan. Tak sedikit orang merutuki fenomena alam satu ini. Pejalan kaki yang terciprat basah di tepi jalan. Pengendara yang berdecak kesal karena macet dan ributnya perempatan. Ibuibu rewel yang berebutan dengan alam menyelamatkan cucian di temaram tepi perumahan. Haa...

Di sudut jalan...
Aku malah menghirup wewangian. 

Andra selalu berkata, dulu, hujan ini menyukaiku. Membuntutiku kemana-mana mengganggu permainan basketnya. Tak pernah kukatakan memang, tapi kurasa senja menyenanginya, bak hujan mencintaiku katanya, senja dengan semburat jingga itulah waktu terbaik baginya. 

Ketika senyum ribuan wattnya menerangi permainan kami. Waktu terbaik baginya menghabiskan masa membunuh senggang bersama gugur daun tepi lapangan. Senja dan semburat jingganya, bagiku adalah selalu dia. Mengantarkanku pada malam, tempat paling kusenangi, sekaligus masa paling kutakuti. 
**

Maka harus bagaimanalah aku? 
Andika. Ia selalu tahu segalanya. Mulai dari bagaimana itu bentuk asal usul guna rupa dan segala rasi bintang di langit sana, hingga jenis nama ras dan keturunan asli berbagai anjing kesayangan. Mulai dari tajwid dan hafalan qur'an hingga dimana letak taman bunga dengan tulip dominan. Ia, manusia paling tahu yang pernah kukenal. 

"seperti apa rupa alien?", "bisakah bintang suatu hari hilang dan muncul lagi?", "dapatkah kita membuat matahari sendiri?", "kenapa senja warnanya jingga?"

Segelintir dari segenap pertanyaan bodoh yang selalu dengan sabar Andika jawabkan untukku. Dengan penuh kesabaran, dengan penjelasan paling logis yang bisa ia berikan, dengan gaya menyenangkan dan tidak menuntut komentar panjang dari si bawel macam aku. Tak jarang ia tak mengerti pertanyaannya atau tak bisa menjawab segala, dengan gumam "hmm" panjang, ia sogok aku dengan senyuman. 

Andika. 
Bolehkah aku bertanya untuk begitu banyak kali?
Bagaimana caranya, menghilangkan fase senja dalam siklus harian? Bukankah ia tak pernah ada dalam tiga mata rantai periodik utama siklus perputaran pagi-siang-malam?

Karena kini tiap aku melewatinya, tak mampu lagi ada kata. Bahkan untuk memahaminya, aku kini putus asa. Untuk keserbatahuanmu yang luar biasa, dapatkah kau tolong aku melaluinya?
**