**
Entah bagaimana selama ini aku mencintai hujan. Mereka kadang membawa banjir dan kelam langit bak malam. Mereka kadang becek membingungkan dan menyiratkan kesedihan. Tak sedikit orang merutuki fenomena alam satu ini. Pejalan kaki yang terciprat basah di tepi jalan. Pengendara yang berdecak kesal karena macet dan ributnya perempatan. Ibuibu rewel yang berebutan dengan alam menyelamatkan cucian di temaram tepi perumahan. Haa...
Di sudut jalan...
Aku malah menghirup wewangian.
Andra selalu berkata, dulu, hujan ini menyukaiku. Membuntutiku kemana-mana mengganggu permainan basketnya. Tak pernah kukatakan memang, tapi kurasa senja menyenanginya, bak hujan mencintaiku katanya, senja dengan semburat jingga itulah waktu terbaik baginya.
Ketika senyum ribuan wattnya menerangi permainan kami. Waktu terbaik baginya menghabiskan masa membunuh senggang bersama gugur daun tepi lapangan. Senja dan semburat jingganya, bagiku adalah selalu dia. Mengantarkanku pada malam, tempat paling kusenangi, sekaligus masa paling kutakuti.
**
Maka harus bagaimanalah aku?
Andika. Ia selalu tahu segalanya. Mulai dari bagaimana itu bentuk asal usul guna rupa dan segala rasi bintang di langit sana, hingga jenis nama ras dan keturunan asli berbagai anjing kesayangan. Mulai dari tajwid dan hafalan qur'an hingga dimana letak taman bunga dengan tulip dominan. Ia, manusia paling tahu yang pernah kukenal.
"seperti apa rupa alien?", "bisakah bintang suatu hari hilang dan muncul lagi?", "dapatkah kita membuat matahari sendiri?", "kenapa senja warnanya jingga?"
Segelintir dari segenap pertanyaan bodoh yang selalu dengan sabar Andika jawabkan untukku. Dengan penuh kesabaran, dengan penjelasan paling logis yang bisa ia berikan, dengan gaya menyenangkan dan tidak menuntut komentar panjang dari si bawel macam aku. Tak jarang ia tak mengerti pertanyaannya atau tak bisa menjawab segala, dengan gumam "hmm" panjang, ia sogok aku dengan senyuman.
Andika.
Bolehkah aku bertanya untuk begitu banyak kali?
Bagaimana caranya, menghilangkan fase senja dalam siklus harian? Bukankah ia tak pernah ada dalam tiga mata rantai periodik utama siklus perputaran pagi-siang-malam?
Karena kini tiap aku melewatinya, tak mampu lagi ada kata. Bahkan untuk memahaminya, aku kini putus asa. Untuk keserbatahuanmu yang luar biasa, dapatkah kau tolong aku melaluinya?
**
No comments:
Post a Comment