Saturday, August 4, 2012

bukammal

"bersama orang-orang yang tidurnya memikirkan umat, apalagi bangunnya" 
-adrin-
ini acara buka puasa bersama sebenarnya. bukammal itu akronim dari Buka Puasa Kader, PMM dan Alumni. okesip, maksa? emang. acara ini baru pertama kali diadakan lho. kebetulan aku dan Avita (yak si tinggi cantik yang suka merah) terpilih menjadi Project Officer-nya. pas mau bikin awal-awal sante aja emang. kayak tiba-tiba ada ide "eh bikin yuk!" terus ayuk aja deh semua. haha. dasar kader, spontanisme sejati. 

setelah beberapa minggu menjelang hari H kita panik, banyak halangan soalnya. jadwalnya tabrakan sama jadwal buka puasa angkatan dan buka puasa CERIA. terus tiba-tiba tempat yang kita rencanakan dari awal; rumah kak afifah, gag bisa dipakai karena ada keluarganya yang sedang nginep jadi rempong. terus katering yang awalnya di dokter D gak bisa H-2 karena emang dokternya mau pelatihan ke luar kota sampai seminggu. belum lagi yang konfirmasi datang cuma 11 orang. kyaaa. kalau bukan karena ada mereka-red.anak kader-awa mungkin udh cancel aja deh nih acara. 

rencana Allah emang selalu oke. masalah tabrakan jadwal bisa disiasati dengan jiwa baja dan kesiapan mental serta raga untuk bolak-balik dari satu acara ke acara lainnya. masalah tempat alhamdulillah to the max, ustad abdullah dr ARH ngasih pinjam ruangan cuma-cuma dengan syarat hanya bikin surat. tentang katering, dengan amaizing-nya Avi mengatasi hal itu dengan cara memesan katering mama temen kita, yang mana eh ternyata tidak mau menerima bayaran. tentang yang konfirmasi hadir sedikit ternyata memang karena mereka lagi apatis mau ujian atau pulsa enggak ada, tapi tetep hadir di hari H. alhamdulillah ya Rabb. 

beberapa menit sebelum mulai acara, sempat galau galau juga. yang mau jd MC enggak ada, yang mau tausiyah enggak ada. kyaaa. yaudah, nekat, biarpun akhwat, apasalahnya toh aku jd MC? terus soal tausiyah thanks to Allah yang menciptakan seorang abang adrin paling pintar bikin tausiyah dadakan bahkan dengan tema by request. haaa, i love you full saudara-saudari kader, pmm dan alumni. acaranya meski kurang disana-sini (enggak ada tisu, rundown agak molor, pembawaanku yang terlalu bebas-baru sadar belakangan-sebagai seorang akhwat dan lain lain lain), tapi seru alhamdulillah. 

bertemu dengan pejuang dan pembina sumber daya muslim seperti ini, membakar semangat dakwahku kembali. mungkin aku tidak sehebat mereka, sekuat mereka, semultitalented mereka. tapi aku mau. jadi harus bisa. semangat, allahu akbar!

special thanks to: Avita (yang udh dengan sangat sabar menerima kecerewetanku), da In (yang udah maksa buat tetep diadain hari itu juga), kak Halida (meski gak ikut bukammal, tapi mengijinkanku untuk bolak balik dari acaranya [buka puasa CERIA] ke bukammal), dan semua yang hadir; kak afifah, kak yolan, kak dina, kak kazai, kak amel, gadis, kak wahyu, kak aravinda, kak maha, kak didi, kak adrin, kak azlan, gema, fahrul, faris, kak riky, kak faisal, kak imam dan semua yang mungkin gak bisa aku sebut satu-satu. 

last but not least, special syukur to: Allah yang teramat kurindukan. :)

buka puasa CERIA ;D

"anak-anak adalah warna-warni dunia. aku sayang mereka"
acara ini merupakan penutupan kegiatan belajar mengajar TPA Masjid At Tauhid ARH menjelang libur lebaran. dalam kegiatan ini, ada buka puasa bersama orangtua murid dan anak-anak TPA. dan yang paling amaizing (eaa) adalah adanya penampilan bakat dari anak-anak TPA nya. kebetulan aku diamanahi mengatasi keriwehan anak-anak yang mau nampil nari. awalnya blank to the max (kalau kamu kenal dekat sama aku, kamu gak bakal nyuruh aku nari haha). tapi untung ada adik kelasku yang pro masalah gini-ginian, namanya Nay dan Doria. makasih ya dik atas bantuannya.

setelah mereka pulang ke daerah, tinggalah aku sendirian (merana,eh?) mendidik adik-adik ini menari. awalnya banyak keluhan, seperti mereka sedikit yang datang latihan, sekali latihan banyak mainnya daripada narinya, suaranya pada kenceng-kenceng banget, belum lagi kebiasaan mereka yang suka peluk-peluk. tapi kalau mau sedikit merubah sudut pandang, aku bersyukur sekali, tidak seharusnya mengeluh, dari mereka aku belajar banyak. semuanya ada delapan orang, yuk kenalan.

Suri
kalau boleh dibilang, dia sosok paling dewasa di tim nari. selalu minta nari ketika yang lain minta main. selalu dicurhatin teman-teman lain bahkan yang udh lebih dewasa dibanding dia, selalu pengen cepat pulang karena harus ngurus adik dan buat PR haha. aku sayang dia. paling cantik juga soalnya
Krisni
kalau si chubby satu ini mirip aku. eaa. cerdas dan lincah. lari sana lari sini. tapi narinya oke, selain itu hal uniknya adalah dia punya kembaran yang ternyata adalah cowok yang mana bernama; krisnu. mereka sangat berbeda secara fisik, trust me. kalau sejauh pengamatanku, krisni ini bertingkah lebih sebagai kakak pada krisnu, mereka dekat sekali. bahkan 'nu', sering hadir ketika kami latihan
Fira
walau badannya paling mungil, namun penyuka warna pink ini pendiem. talk less do more kayaknya anaknya. narinya oke, latihan selalu datang, tapi sedikit sekali ribut atau mengeluh. aaah aku suka model yang kayak begini, gampang diatur hehe.
Dini dan Dina
setelah bertemu dengan mereka, aku percaya kembar ndak mesti sama. bukan cuma krisni dan krisnu kembar tidak identik dalam tim kami, dina dini ini kembar juga. tapi wuaah fisik, sikap, gaya beda to the max banget lah. haha. dini sedikit 'berisi', dengan gaya anak kecil selalu pengen tahunya. sementara dina dengan tubuh 'kemayu', selalu dengan jiwa ke-kakak-an nya,
Fia
fia ini gampang capek, dikit latihan langsung tidur-tiduran. aku cemasnya dia beneran sakit gampang capek. haha. semoga aja enggak. mungkin lebih karena mama papanya kerja, dia dirumah cuma sama neneknya, adik-adik dia yang ngurus semua, padahal baru umur segitu ya Allah :']
Dita
dita ini sedikit lebih tua dibandingkan yang lain, sekitaran SMP lah. anaknya baik, pinter juga. tapi mengalami retardasi mental, sedikit susah berkomunikasi. karena itu dia harus berhenti sekolah, mungkin diledekin temennya atau gak kekejar pelajarannya. padahal cantik dan pinter pula. ya Allah :'] berikanlah Ia banyak kesempatan dalam hidupnya, amin.
Fabi
yang ini suka banget banget sama girlband-girlband indonesia. ampe hapal nama-nama mereka. aku ingat waktu dia pertama kali bertemu, dia bilang aku mirip salah satu personel girlband apa gitu, trus dia malah minta tandatangan x_x bingung. haha.

seru banget lha pokoknya anak-anak ini. aku yang belajar banyak. mereka baik hati sekali, meski aku sempat terlambat atau tidak datang, mereka tetap berbaik sangka. dan tetap peluk-peluk.

makasih ya adik-adik.

euphoria :D

baca-baca blog orang lain, rasanya keren-keren dan bermanfaat. giliran blog sendiri, aku lihat-lihat lagi ternyata banyakan berisi tulisan gag jelas. ingin sekali menginspirasi orang lain dengan kebaikan. mungkin ada baiknya kalau mulai dipikirkan lagi tentang isi dari blog ini, harusnya bagaimana. mungkin bakal tetep ada tulisan gag jelasnya, tapi dikit-dikit mau cerita tentang dunia yang istimewa juga.

selama ini kayaknya aku terlalu berfokus pada apa yang terjadi didalam dada, banyak rasa yang sebenarnya semu semua. setelah direnung-renungi kalau mau cerita, diluar sana hariku sangaaaaat berwarnaaa. sejenak katakan saja 'bodo amat' pada kecamuk dalam dada, dan let's see hal menakjubkan yang beberapa hari belakangan ini aku alami

banyak lho, buka puasa CERIA, bukammal, MAtahari, teambuilding KKIA, bukpus Redaksi MA dan lain-lain. :) let me report.

Thursday, August 2, 2012

Pesan Hujan Pada Senja

Gemetar kakiku belum juga berhenti, meski pintu itu telah menutup sepenuhnya. Menyisakan bunyi gesekan antar engsel yang enggan marah namun tak bisa menolak. Cengkraman tangan ini merecoki susunan indah kelopak bunga di gaun hitamku, seakan mereka akan menahanku cukup kuat. Namun, salah.

Seperti gugur dedaunan di senja musim panas. Satu per satu terjatuh, bagai hujan kebingungan.

***

“Hahaha, kamu masih saja bodoh, Han. Ketika maju, engkau harus sedikit berlari dan kemudian melompat agar dapat melakukan shoot yang benar. Dan tinggi badanmu itu, apa-apaan”, diiringi senyum khasnya yang menghentikan kekesalanku.

Tawa lebarmu itu membuatku hampir menangis, An. bodoh!

Tak ada senja yang lebih kunanti, dibanding senja musim panas kita. Ketika kakiku masih setinggi tanaman kaktus dihalaman rumah. Saat senyummu membuat kedua mata sipit itu tenggelam dalam-dalam. Tak ada permainan yang lebih kugemari, dibanding pertandingan basket kita. Yang meski jarang sekali ku menangi, namun selalu membuatku bermain kembali. Ketika rambut-hitam-ala-putriku masih boleh dikuncir kuda dan menari-nari. Saat suara rendahmu masih saja mengutuki permainan bodohku.

“Engkau akan takjub suatu hari, An!”, kataku sembari kembali merebut bola
“Akan apa?”
“Aku”

Sebelah alis mata hitam itu meninggi, diiringi kembali tawa renyah tanpa hentinya. Yang ternyata memanggil hujan.

“Sepertinya mereka tidak suka kita berdua”
“Hm? Siapa?”
“Senja dan Hujan. Ingat, saat kita berlatih untuk pertandingan basket paling penting di sekolah, hujan juga datang. Menghentikan permainan. Ah, bukan. Kurasa, hujan menyukaimu. Namun ia membenciku”

Kadang-kadang aku tidak mengerti perkataan lelaki sombong ini, pikirku. Mengapa pula ia kemudian membicarakan hujan dan senja. Suka dan benci. Heh, aku tidak suka hal-hal melankolis itu. Ah. Mungkin harusnya aku sedikit memperkenalkan diri.

Namaku Hana. Jangan tanya. Memang hanya Hana. Terus, kenapa? Kedua orangtuaku mungkin terlalu sederhana. Mereka menyukai bunga dan jadilah namaku Hana. Jangan bayangkan aku gadis manis penyuka boneka. Hanya pemain basket putri yang tidak suka baca cerita. Bagiku, musik hip-hop lebih penting dibanding baju-baju indah ala putri kerajaan itu. Maka jadilah aku. Dan ini, Andra.

***
   From: Andra
   “Siapa?”

Aku tahu. Aku tahu Andra akan bertanya. Aku tahu ia akan tahu. Hanya saja aku tidak mau, harus bagaimanalah aku menghadapinya. Sejenak ingin kuhapus pesan singkatnya dan melupakan saja. Tapi sesuatu dari dalam diriku marah, menolak kebodohan itu. “Balas saja! Memang kenapa?” bentak seorang Hana didalam sana.

   To: Andra
   “Assalammualaikum. Apa?”

Bodoh.

   From: Andra
   “Waalaikumsalam. Tidakkah engkau berubah, Hana? Sesekali hentikan keluguanmu itu. Aku susah, Hana. Susah mengumpulkan keberanian kembali bertanya, setelah semua perubahanmu. Tidakkah engkau berubah, Hana? Setelah mengambil keputusan besar itu, aku pikir kita tidak akan sesusah ini. Katakanlah, wahai sahabatku jika engkau masih seorang Hana, siapa lelaki itu yang telah melamarmu?” 

Haha. Bukankah selama ini, engkau yang terlalu lugu, An? Aku yang terlalu bodoh, memang. Namun keluguan telah menahanmu dari pertanda senja dan hujan. Bermalam-malam aku hantarkan pesan padaNya, agar hujan sampaikan padamu tentang kita.
Allah melarangku, Andra. Karena ketika aku mengatakannya, Ia tahu hatiku akan goyah.

   To: Andra
   “Andika, namanya”

Saudara lelakimu.

***
Gaun hitam kesukaanku memang indah. Sedikit aksen bunga dipinggir pinggang membuatnya semakin manis. Hijab berwarna perak yang menghiasi wajahku sedikit perlu dirapikan. Maka kuletakkan saja bros serupa tetesan hujan dipinggirannya. Hujan yang menyukaiku. Hujan yang kusukai.
Handphone berdering.

   From: Andika
   “Assalammualaikum, Na. Sudahkah engkau siap? Bersiaplah sedikit lebih lama ya :) Adik-adikmu mengajakku bermain bola terlebih dahulu. Kata Ayah, mereka akan merajuk jika aku pergi begitu saja membawamu. Di seberang pagar. Tidak apa-apakah?” 

Aku juga akan merajuk tentunya, Dika.

   To: Andika
   “Waalaikmsalam. tentu :)”

Seberang pagar? Lapangan basket ya. Jendela kamarku membuat pemandangan itu semakin jelas. Aku merasa gamang. Lelaki itu, yang sedang bermain dengan adik-adikku, benarkah ia imam kehidupanku? Sudahkah aku pantas mendapatkan kesempurnaannya? Dengan senyum ribuan watt-nya saja aku bahkan merasa rendah diri. Kegamanganku bukan hanya karena aku merasa belum siap. Namun juga karena aku tidak punya rasa. Rasa yang seharusnya seorang muslimah jaga untuk imam kehidupannya. Rasa yang teramat berharga seperti kasih Aisyah pada Rasulullah. Seperti sayang Laila pada Majnunnnya. Namun aku, Hana, tidak punya. Untuk Dika.  
Kembali berdering.

   From: Andra
   “Jangan. Kumohon. Aku akan pulang. Sekarang!”
Seperti gugur dedaunan di senja musim panas. Satu per satu terjatuh, bagai hujan kebingungan..

Saturday, April 28, 2012

Gelas

"don't judge others feeling, we don't even know how painful it is"

          Ayash membuka matanya, sedikit sulit karena memang kini kedua bola mata indahnya sedang bengkak dan memerah. Sisa semalam. Ayash meraba-raba tepian meja yang mampu dijangkaunya, meski kemudian hanya memperparah keadaan karena gelasnya jadi berantakan. 
"..." 
          Ayash terduduk. Bersandarkan bantal yang telah basah. Menutupi kedua belah telinga dengan telapak tangan mungilnya, Ayash berusaha tak mendengarkan apapun. Sedikit bersiul menyenandungkan melodi soundtrack anime kesukaannya, berusaha menyelusupi ruang hampa langit-langit kamar. 
          Menelusuri detik-detik waktu kebelakang, yang telah berlalu namun tak mampu meninggalkan Ayash begitu saja. Mereka berputar-putar menarikan serangkaian tarian klasik dikepalanya. Pusing. Ayash dan usianya yang belum genap sepuluh, sudah pusing. Mengusir memori buruk dikepalanya tentang bagaimana, seorang lelaki bejat penuh amarah menampar Ibu yang sangat dimuliakannya. 
          Tahu letak arteri karotis? mungkin tak pernah orang lain bayangkan, anak perempuan kecil berambut kepang dua yang manis itu, tahu. dan pernah memikirkan bagaimana cara menyayatnya. atau bagaimana ketika usianya baru beranjak bangku sekolah dasar, ia telah memahami cara menciptakan fenomena syok hemorragik yang heboh sembari tetap memperpanjang waktu kematian. ironi? 
          Karena dibalik senyum selamat pagi setiap harinya, tersimpan amarah diam sarat makna? Karena dibalik tawa ceria setiap bermain bola, terbenam pikiran cerdas seorang pembalas dendam yang kejam? Atau karena dia hanya anak kecil polos yang berubah seram, korban dari ketidaksempurnaan orangtuanya? 
          Senandung dan setapak kenangannya terputus begitu saja, lelaki itu membanting pintu kamarnya. Serpihan gelas bergetar karena geraman lelaki tua paruh baya. Ayash menarik selimut hangatnya jauh menutupi mata, tak sanggup menatap langsung mata merah penuh murka. Detak jantungnya seakan berhenti ketika kemudian selimut nyaman tersebut ditarik paksa lelaki tua. Seraya menggumamkan entah kata-kata kutukan apa, ia mengenggam tangan mungil Ayash, memaksanya keluar dari persembunyian.
“Enggak. Enggak. Apa sih, pa!”
          Tak sanggup mempertahankan gejolak hati kecilnya, bola mata Ayash basah berkaca-kaca. Dengan keras tarikan itu tak dapat ditolaknya, entah apa lagi yang akan dilakukan lelaki tua ini, pikirnya. Sepanjang koridor dihadapan kamarnya, Ayash mengikuti saja. Terlihat ibu penuh tangis seperti biasa, disudut meja makan, meringkuk kedua belah lutut dan kakinya. Geram. Tapi, belum saatnya, pikir gadis manis berkepang kusut itu kini.
          Melewati tatapan ibu yang khawatir begitu saja, sang lelaki menuju dapur dan menggenggam sesuatu yang baru saja ditarik-kasarnya dari rak perabot. Kilau dan tajamnya begitu jelas di mata Ayash yang kini telah menjadi banjir akan air mata. Meronta-ronta, setengah tidak percaya bahwa lelaki bejat ini akan benar-benar melakukan hal-hal bodoh yang selama ini hanya dalam bayangannya.
“Kau, Arni! Tidakkah kau kira aku serius, hah? Hentikan pekerjaan bodohmu itu, atau aku akan bunuh anak kecil cengeng ini! Dengar!!”
          Hahaha. Sulit. Hahahaha. Entah dengan cara apalagi aku harus menggambarkan bagaimana kacaunya hati Ayash. Seakan tak sudi disentuh tangan kotor lelaki tersebut, Ayash menggigit pinggiran jari-jarinya, hingga Ayash dapat berlari dan bersembunyi didalam lemari kuali, menghiraukan teriakan histeris ibu yang entah sejak kapan mulai menyemarakkan drama sempurna ini.
          Ayash.lelah.
          Dalam hati, beribu kali mungkin ia juga telah bertanya
“Tidakkah ibu juga lelah?”
          Maka mengapa ibu tidak mengakhiri semuanya? Sulit memang baginya yang belum memahami hal-hal gila yang bisa dilakukan orang dewasa atas nama rasa. Maka, dengan nafas yang tersisa, ditengah hiruk pikuk klimaks drama malam ini, Ayash berlari keluar dari tempat persembunyian. Berlari lurus menuju kamar. Menggenggam sesuatu yang sekejap saja menimbulkan luka di genggamnya.
          Ceritanya, hidupnya, ayahnya, ibunya, bantalnya, kamarnya, kepang rambutnya, mejanya, lantainya, langitnya...
ah. pecahan gelasnya. semua akan segera menjadi diam.

Tuesday, March 20, 2012

idola nomor 5 saya :")


kaget?
haha. jarang-jarang kan saya pajang foto seseorang di blog pribadi ini. ada yang ga tau siapa idola nomor 5 saya ini? sebenarnya saya jarang mengidolakan sesorang lho. saya tipe yang skeptis kalau boleh dibilang. hehe. tapi setelah sedikit kepo-kepo, saya sangat terinspirasi dengan sesosok lelaki diatas.

let me begin...

beberapa waktu lalu, seperti biasa saya menonton film korea via youtube, tiba-tiba saya dengan iseng memilih salah satu m/v yang menjadi soundtrack dalam suatu film. judulnya Haru-Haru (maksudnya Day by Day). waah. lagunya bagus. nama boybandnya BIGBANG. tapi waktu itu saya masih biasa aja. disuatu kesempatan berbeda, ketika luang dan ga ada kerjaan, saya search di youtube dengan keyword BIGBANG. sesaat saya agak kaget. berapa biasanya jumlah views yang anda lihat pada sebuah video di youtube? 1000? 100.000? semua video BIGBANG di youtube diviews selalu hampir oleh 5 jutaan orang. spesial banget kayaknya. karena emang pada dasarnya saya kepo kan ya, saya tontonin semua m/v nya. eh, keren ternyata. m/v selesai saya beranjak ke reality show. wah menarik juga.

setelah beberapa lama kepo, saya sangat tertarik. pertama kali saya menunjukkan salah satu video musik mereka ke teman saya, ia langsung terkejut. selain karena memang saya dulunya dan memang seharusnya bukan tipe cewek yang mengidolakan boyband korea, namun ia juga terkejut karena menurutnya mereka jelek tidak cakep. teman saya itu bahkan tidak mendengarkan lagu mereka sampai selesai karena dandanan mereka yang nyentrik cukup mengganggunya. fuuh. ya saya memang tidak bisa memaksakannya, bukan? aneh memang. honestly, saya lebih suka main basket dibanding boneka barbie, lebih sering tanding bola berdarah-darah dibanding belajar nari, tapi saya memang bukan tipe cewek yang suka korea biasanya (dipikiran saya, biasanya cewek yang suka korea adalah cewek yang manis. believe me, saya gak manis). namun entah mengapa mulai saat itu, saya tertarik dengan boyband yang satu ini. sangat.

saya pun mengikuti perkembangan mereka. mulai dari m/v, reality show, news, album semua saya kepo-in selama beberapa bulan belakangan. awalnya saya suka BIGBANG karena mereka unik. jarang kan, boyband yang setiap personelnya juga ternyata punya album solo sendiri-sendiri, biasanya mereka berani rame-rame. jarang banget juga boyband korea yang mau ambil hip hop plus electronic pop, biasanya mereka mellow gitu kan lagu-lagunya. jarang lho boyband korea yang bisa punya fans fanatik hingga negeri paman Sam dan Eropa. pokoknya bagi saya waktu itu BIGBANG unik! jd saya suka, hahaha #selfish mode:on. tapi setelah kepo lebih jauh lagi, ke-idola-an saya menjadi agak spesifik, saya mulai tertarik dengan sosok dibelakang semua keunikan BIGBANG, their leaders, GD.

perkenalkan...
idola baru saya, idola nomor 5, GD atau G-Dragon, nama aslinya Kwon Ji Yong. ia lahir tahun 1988, itu artinya kini ia berusia sekitar 24 tahun (eh? bener gag ya?). yaah seumuran abang sepupu saya yang baik hati :P yap, in my opinion, dia dalah sosok besar yang melatarbelakangi keunikan BIGBANG sebagai sbeuah boyband. memang, personel lain ga kalah berbakat dan hebat, tapi GD menyatukan mereka dalam sebuah harmoni kesempurnaan. GD adalah pemimpin mereka. sebagai seorang idola saya rasa ia nyaris sempurna. suaranya, dance-nya, wajahnya, kepemimpinannya, perhatiannya, kecerdasannya, talentanya. oya, FYI, talentanya bukan hanya menyanyi, tapi juga menulis lagu. bukan hanya menari, namun juga menciptakan koreografi. bukan hanya perform dengan baik, melainkan juga menyempurnakan performa anggotanya. bukan hanya tampil modis, tetapi juga menjadi fashion stylist. mulai tertarik?

belum selesai. yang paling meyakinkan saya untuk meletakkan ia diposisi yang cukup tinggi (idola nomor 5) saya adalah  perjuangannya, kerja kerasnya. beberapa saat yang lalu saya menghabiskan waktu menonton serangkaian film dokumenter mengenai masa-masa dimana mereka menjadi trainee. di korea sebelum kamu boleh debut sebagai artis, kamu harus dilatih mati-matian untuk jadi artis yang pantas. ketika saya menonton episode khusus GD, saya benar-benar terinspirasi. dia, benar-benar membuat saya merasa pemalas. seriously, dia benar-benar pekerja keras. kalau melihatnya sekilas mungkin kita berpikir dia lebih sering belanja, jalan-jalan, tebar pesona dan lain-lain.

dari film dokumenter itu dan pengetahuan saya hasil kepo selama ini, ia sangat sering begadang justru untuk menulis lagu. ia tak pernah bolos kelas pada saat jd trainee dan selalu tampil maksimal meski itu cuma latihan. meski capek, ia justru menghibur dan menyemangati anggota-anggotanya. meski bosan, ia berlatih lagu yang sama, gerakan yang sama, beratus bahkan mungkin beribu kali hingga sempurna. skandal? sering banget, soal cewek, plagiarisme hingga yang baru-baru ini soal marijuana. tapi ia tak menyerah, meski jatuh berulang kali, berdiri dan berlari lagi selalu menjadi keahliannya. sakit? jangan tanya berapa kali, tapi meski demikian ia tetap menyanyi, menari, belajar. pasti dia pusing. :"]

penasaran? :)
silahkan cari tahu lebih banyak tentang dia, saya sudah kehabisan kata-kata, hehe. dengerin juga lagu-lagu mereka ya, dengan seksama rasakan dalam-dalam hasil kerja keras mereka. for you GD, keep up the good work dan terimakasih karena telah menginspirasi saya \^^ saya akan berjuang, fighting!

Monday, March 19, 2012

that random-cheerful little girl :D

ceria. kamu pikir saya ceria?
satu kata yang kamu selalu anggap merepresentasikan saya.

saya ceria. mungkin karena dulu, sewaktu kita anak anak baru beranjak dewasa saya masih suka mencubit lengan kekarmu karena mengejek saya tidak bisa main basket. mungkin karena saya masih suka melakukan high-five kita yang selalu berakhir tawa keras hingga sakit perut. mungkin karena saya masih bisa menginjak kaki kamu keras-keras karena menarik ujung rambut saya.

saya ceria. mungkin karena dulu, sewaktu kita remaja akan dewasa, saya masih bisa berbagi pembahasan soal biologi sambil sesekali mengatakan 'dasar bodoh'. mungkin karena saya masih bisa meneriakkan nama kamu keras-keras disamping lapangan sembari mengutuki "larinya yang kencang dong! haha". mungkin karena saya masih bisa mendengar cerita sastra kamu yang berputar-putar dan panjang saat kita duduk diteras asrama pelatihan.

jika hal-hal itu yang membuat kamu menyatakan saya ceria
maka kini maaf saja saya tidak lagi bisa. seceria yang kamu kira.
dan kamu tahu mengapa?

saya bukan lagi anak anak baru beranjak dewasa atau remaja akan dewasa.
lagipula, yang terpenting adalah karena..

entahlah saya tidak bisa menuliskannya.

our future will totally different. mine, is going to be rough and severely hard. just don't want to get you trapped here, looking sadly on me who keep falling down and stand up then falling down again
please just cheer your self up, always.