Seperti gugur dedaunan di senja musim panas. Satu per satu terjatuh, bagai hujan kebingungan.
***
“Hahaha, kamu masih saja bodoh, Han. Ketika maju, engkau harus sedikit berlari dan kemudian melompat agar dapat melakukan shoot yang benar. Dan tinggi badanmu itu, apa-apaan”, diiringi senyum khasnya yang menghentikan kekesalanku.
Tawa lebarmu itu membuatku hampir menangis, An. bodoh!
Tak ada senja yang lebih kunanti, dibanding senja musim panas kita. Ketika kakiku masih setinggi tanaman kaktus dihalaman rumah. Saat senyummu membuat kedua mata sipit itu tenggelam dalam-dalam. Tak ada permainan yang lebih kugemari, dibanding pertandingan basket kita. Yang meski jarang sekali ku menangi, namun selalu membuatku bermain kembali. Ketika rambut-hitam-ala-putriku masih boleh dikuncir kuda dan menari-nari. Saat suara rendahmu masih saja mengutuki permainan bodohku.
“Engkau akan takjub suatu hari, An!”, kataku sembari kembali merebut bola
“Akan apa?”
“Aku”
Sebelah alis mata hitam itu meninggi, diiringi kembali tawa renyah tanpa hentinya. Yang ternyata memanggil hujan.
“Sepertinya mereka tidak suka kita berdua”
“Hm? Siapa?”
“Senja dan Hujan. Ingat, saat kita berlatih untuk pertandingan basket paling penting di sekolah, hujan juga datang. Menghentikan permainan. Ah, bukan. Kurasa, hujan menyukaimu. Namun ia membenciku”
Kadang-kadang aku tidak mengerti perkataan lelaki sombong ini, pikirku. Mengapa pula ia kemudian membicarakan hujan dan senja. Suka dan benci. Heh, aku tidak suka hal-hal melankolis itu. Ah. Mungkin harusnya aku sedikit memperkenalkan diri.
Namaku Hana. Jangan tanya. Memang hanya Hana. Terus, kenapa? Kedua orangtuaku mungkin terlalu sederhana. Mereka menyukai bunga dan jadilah namaku Hana. Jangan bayangkan aku gadis manis penyuka boneka. Hanya pemain basket putri yang tidak suka baca cerita. Bagiku, musik hip-hop lebih penting dibanding baju-baju indah ala putri kerajaan itu. Maka jadilah aku. Dan ini, Andra.
***
From: Andra
“Siapa?”
Aku tahu. Aku tahu Andra akan bertanya. Aku tahu ia akan tahu. Hanya saja aku tidak mau, harus bagaimanalah aku menghadapinya. Sejenak ingin kuhapus pesan singkatnya dan melupakan saja. Tapi sesuatu dari dalam diriku marah, menolak kebodohan itu. “Balas saja! Memang kenapa?” bentak seorang Hana didalam sana.
To: Andra
“Assalammualaikum. Apa?”
Bodoh.
From: Andra
“Waalaikumsalam. Tidakkah engkau berubah, Hana? Sesekali hentikan keluguanmu itu. Aku susah, Hana. Susah mengumpulkan keberanian kembali bertanya, setelah semua perubahanmu. Tidakkah engkau berubah, Hana? Setelah mengambil keputusan besar itu, aku pikir kita tidak akan sesusah ini. Katakanlah, wahai sahabatku jika engkau masih seorang Hana, siapa lelaki itu yang telah melamarmu?”
Haha. Bukankah selama ini, engkau yang terlalu lugu, An? Aku yang terlalu bodoh, memang. Namun keluguan telah menahanmu dari pertanda senja dan hujan. Bermalam-malam aku hantarkan pesan padaNya, agar hujan sampaikan padamu tentang kita.
Allah melarangku, Andra. Karena ketika aku mengatakannya, Ia tahu hatiku akan goyah.
To: Andra
“Andika, namanya”
Saudara lelakimu.
***
Gaun hitam kesukaanku memang indah. Sedikit aksen bunga dipinggir pinggang membuatnya semakin manis. Hijab berwarna perak yang menghiasi wajahku sedikit perlu dirapikan. Maka kuletakkan saja bros serupa tetesan hujan dipinggirannya. Hujan yang menyukaiku. Hujan yang kusukai.
Handphone berdering.
From: Andika
“Assalammualaikum, Na. Sudahkah engkau siap? Bersiaplah sedikit lebih lama ya :) Adik-adikmu mengajakku bermain bola terlebih dahulu. Kata Ayah, mereka akan merajuk jika aku pergi begitu saja membawamu. Di seberang pagar. Tidak apa-apakah?”
Aku juga akan merajuk tentunya, Dika.
To: Andika
“Waalaikmsalam. tentu :)”
Seberang pagar? Lapangan basket ya. Jendela kamarku membuat pemandangan itu semakin jelas. Aku
merasa gamang. Lelaki itu, yang sedang bermain dengan adik-adikku,
benarkah ia imam kehidupanku? Sudahkah aku pantas mendapatkan
kesempurnaannya? Dengan senyum ribuan watt-nya saja aku bahkan merasa
rendah diri. Kegamanganku bukan hanya karena aku merasa belum siap.
Namun juga karena aku tidak punya rasa. Rasa yang seharusnya seorang
muslimah jaga untuk imam kehidupannya. Rasa yang teramat berharga
seperti kasih Aisyah pada Rasulullah. Seperti sayang Laila pada
Majnunnnya. Namun aku, Hana, tidak punya. Untuk Dika.
Kembali berdering.
From: Andra
“Jangan. Kumohon. Aku akan pulang. Sekarang!”Seperti gugur dedaunan di senja musim panas. Satu per satu terjatuh, bagai hujan kebingungan..
No comments:
Post a Comment