"don't
judge others feeling, we don't even know how painful it is"
Ayash membuka matanya, sedikit sulit karena
memang kini kedua bola mata indahnya sedang bengkak dan memerah. Sisa semalam.
Ayash meraba-raba tepian meja yang mampu dijangkaunya, meski kemudian hanya
memperparah keadaan karena gelasnya jadi berantakan.
"..."
Ayash terduduk. Bersandarkan bantal yang
telah basah. Menutupi kedua belah telinga dengan telapak tangan mungilnya,
Ayash berusaha tak mendengarkan apapun. Sedikit bersiul menyenandungkan melodi soundtrack anime kesukaannya, berusaha
menyelusupi ruang hampa langit-langit kamar.
Menelusuri detik-detik waktu kebelakang,
yang telah berlalu namun tak mampu meninggalkan Ayash begitu saja. Mereka
berputar-putar menarikan serangkaian tarian klasik dikepalanya. Pusing. Ayash
dan usianya yang belum genap sepuluh, sudah pusing. Mengusir memori buruk
dikepalanya tentang bagaimana, seorang lelaki bejat penuh amarah menampar Ibu
yang sangat dimuliakannya.
Tahu letak arteri karotis? mungkin tak
pernah orang lain bayangkan, anak perempuan kecil berambut kepang dua yang
manis itu, tahu. dan pernah memikirkan bagaimana cara menyayatnya. atau
bagaimana ketika usianya baru beranjak bangku sekolah dasar, ia telah memahami
cara menciptakan fenomena syok hemorragik yang heboh sembari tetap
memperpanjang waktu kematian. ironi?
Karena dibalik senyum selamat pagi setiap
harinya, tersimpan amarah diam sarat makna? Karena dibalik tawa ceria setiap
bermain bola, terbenam pikiran cerdas seorang pembalas dendam yang kejam? Atau
karena dia hanya anak kecil polos yang berubah seram, korban dari
ketidaksempurnaan orangtuanya?
Senandung dan setapak kenangannya terputus
begitu saja, lelaki itu membanting pintu kamarnya. Serpihan gelas bergetar
karena geraman lelaki tua paruh baya. Ayash menarik selimut hangatnya jauh
menutupi mata, tak sanggup menatap langsung mata merah penuh murka. Detak
jantungnya seakan berhenti ketika kemudian selimut nyaman tersebut ditarik
paksa lelaki tua. Seraya menggumamkan entah kata-kata kutukan apa, ia
mengenggam tangan mungil Ayash, memaksanya keluar dari persembunyian.
“Enggak. Enggak. Apa sih, pa!”
Tak sanggup
mempertahankan gejolak hati kecilnya, bola mata Ayash basah berkaca-kaca.
Dengan keras tarikan itu tak dapat ditolaknya, entah apa lagi yang akan
dilakukan lelaki tua ini, pikirnya. Sepanjang koridor dihadapan kamarnya, Ayash
mengikuti saja. Terlihat ibu penuh tangis seperti biasa, disudut meja makan, meringkuk
kedua belah lutut dan kakinya. Geram. Tapi, belum saatnya, pikir gadis manis
berkepang kusut itu kini.
Melewati tatapan
ibu yang khawatir begitu saja, sang lelaki menuju dapur dan menggenggam sesuatu
yang baru saja ditarik-kasarnya dari rak perabot. Kilau dan tajamnya begitu
jelas di mata Ayash yang kini telah menjadi banjir akan air mata.
Meronta-ronta, setengah tidak percaya bahwa lelaki bejat ini akan benar-benar
melakukan hal-hal bodoh yang selama ini hanya dalam bayangannya.
“Kau, Arni! Tidakkah kau kira aku serius, hah? Hentikan pekerjaan
bodohmu itu, atau aku akan bunuh anak kecil cengeng ini! Dengar!!”
Hahaha. Sulit.
Hahahaha. Entah dengan cara apalagi aku harus menggambarkan bagaimana kacaunya
hati Ayash. Seakan tak sudi disentuh tangan kotor lelaki tersebut, Ayash
menggigit pinggiran jari-jarinya, hingga Ayash dapat berlari dan bersembunyi
didalam lemari kuali, menghiraukan teriakan histeris ibu yang entah sejak kapan
mulai menyemarakkan drama sempurna ini.
Ayash.lelah.
Dalam hati, beribu
kali mungkin ia juga telah bertanya
“Tidakkah ibu juga lelah?”
Maka mengapa ibu
tidak mengakhiri semuanya? Sulit memang baginya yang belum memahami hal-hal
gila yang bisa dilakukan orang dewasa atas nama rasa. Maka, dengan nafas yang
tersisa, ditengah hiruk pikuk klimaks drama malam ini, Ayash berlari keluar
dari tempat persembunyian. Berlari lurus menuju kamar. Menggenggam sesuatu yang
sekejap saja menimbulkan luka di genggamnya.
Ceritanya, hidupnya, ayahnya, ibunya,
bantalnya, kamarnya, kepang rambutnya, mejanya, lantainya, langitnya...
ah. pecahan gelasnya. semua akan segera menjadi diam.
No comments:
Post a Comment