Saturday, April 28, 2012

Gelas

"don't judge others feeling, we don't even know how painful it is"

          Ayash membuka matanya, sedikit sulit karena memang kini kedua bola mata indahnya sedang bengkak dan memerah. Sisa semalam. Ayash meraba-raba tepian meja yang mampu dijangkaunya, meski kemudian hanya memperparah keadaan karena gelasnya jadi berantakan. 
"..." 
          Ayash terduduk. Bersandarkan bantal yang telah basah. Menutupi kedua belah telinga dengan telapak tangan mungilnya, Ayash berusaha tak mendengarkan apapun. Sedikit bersiul menyenandungkan melodi soundtrack anime kesukaannya, berusaha menyelusupi ruang hampa langit-langit kamar. 
          Menelusuri detik-detik waktu kebelakang, yang telah berlalu namun tak mampu meninggalkan Ayash begitu saja. Mereka berputar-putar menarikan serangkaian tarian klasik dikepalanya. Pusing. Ayash dan usianya yang belum genap sepuluh, sudah pusing. Mengusir memori buruk dikepalanya tentang bagaimana, seorang lelaki bejat penuh amarah menampar Ibu yang sangat dimuliakannya. 
          Tahu letak arteri karotis? mungkin tak pernah orang lain bayangkan, anak perempuan kecil berambut kepang dua yang manis itu, tahu. dan pernah memikirkan bagaimana cara menyayatnya. atau bagaimana ketika usianya baru beranjak bangku sekolah dasar, ia telah memahami cara menciptakan fenomena syok hemorragik yang heboh sembari tetap memperpanjang waktu kematian. ironi? 
          Karena dibalik senyum selamat pagi setiap harinya, tersimpan amarah diam sarat makna? Karena dibalik tawa ceria setiap bermain bola, terbenam pikiran cerdas seorang pembalas dendam yang kejam? Atau karena dia hanya anak kecil polos yang berubah seram, korban dari ketidaksempurnaan orangtuanya? 
          Senandung dan setapak kenangannya terputus begitu saja, lelaki itu membanting pintu kamarnya. Serpihan gelas bergetar karena geraman lelaki tua paruh baya. Ayash menarik selimut hangatnya jauh menutupi mata, tak sanggup menatap langsung mata merah penuh murka. Detak jantungnya seakan berhenti ketika kemudian selimut nyaman tersebut ditarik paksa lelaki tua. Seraya menggumamkan entah kata-kata kutukan apa, ia mengenggam tangan mungil Ayash, memaksanya keluar dari persembunyian.
“Enggak. Enggak. Apa sih, pa!”
          Tak sanggup mempertahankan gejolak hati kecilnya, bola mata Ayash basah berkaca-kaca. Dengan keras tarikan itu tak dapat ditolaknya, entah apa lagi yang akan dilakukan lelaki tua ini, pikirnya. Sepanjang koridor dihadapan kamarnya, Ayash mengikuti saja. Terlihat ibu penuh tangis seperti biasa, disudut meja makan, meringkuk kedua belah lutut dan kakinya. Geram. Tapi, belum saatnya, pikir gadis manis berkepang kusut itu kini.
          Melewati tatapan ibu yang khawatir begitu saja, sang lelaki menuju dapur dan menggenggam sesuatu yang baru saja ditarik-kasarnya dari rak perabot. Kilau dan tajamnya begitu jelas di mata Ayash yang kini telah menjadi banjir akan air mata. Meronta-ronta, setengah tidak percaya bahwa lelaki bejat ini akan benar-benar melakukan hal-hal bodoh yang selama ini hanya dalam bayangannya.
“Kau, Arni! Tidakkah kau kira aku serius, hah? Hentikan pekerjaan bodohmu itu, atau aku akan bunuh anak kecil cengeng ini! Dengar!!”
          Hahaha. Sulit. Hahahaha. Entah dengan cara apalagi aku harus menggambarkan bagaimana kacaunya hati Ayash. Seakan tak sudi disentuh tangan kotor lelaki tersebut, Ayash menggigit pinggiran jari-jarinya, hingga Ayash dapat berlari dan bersembunyi didalam lemari kuali, menghiraukan teriakan histeris ibu yang entah sejak kapan mulai menyemarakkan drama sempurna ini.
          Ayash.lelah.
          Dalam hati, beribu kali mungkin ia juga telah bertanya
“Tidakkah ibu juga lelah?”
          Maka mengapa ibu tidak mengakhiri semuanya? Sulit memang baginya yang belum memahami hal-hal gila yang bisa dilakukan orang dewasa atas nama rasa. Maka, dengan nafas yang tersisa, ditengah hiruk pikuk klimaks drama malam ini, Ayash berlari keluar dari tempat persembunyian. Berlari lurus menuju kamar. Menggenggam sesuatu yang sekejap saja menimbulkan luka di genggamnya.
          Ceritanya, hidupnya, ayahnya, ibunya, bantalnya, kamarnya, kepang rambutnya, mejanya, lantainya, langitnya...
ah. pecahan gelasnya. semua akan segera menjadi diam.

No comments:

Post a Comment