Kami dekat tidak dari awal masa perkuliahan. Awal jumpa biasa-biasa saja. Aku cupu kayaknya, sementara ia begitu istimewa. Namun, waktu membuat kami lebih memahami dan belajar menginspirasi. Berada dalam dua organisasi bersama lantas menjadikan kami si kembar siam yang kerap tertukar sapa.
Kakak. Aku memanggilnya begitu bukan karena dia lebih tua. Bukan karena dia lebih dewasa. Apalagi karena ingin menguji kesabarannya dengan bersikap manja. Bukan, kak :) sedari kecil aku hanya anak pertama, kakak menginspirasiku luar biasa. Maka bolehkah, aku menyanjungnya, sosok terkasih dalam dirimu yang kusayang secukupnya, dengan panggilan itu?
Tentang belajar menghargai setiap orang bagaimanapun latar belakang dan kondisinya. Tentang sikap positif yang kemudian mengakar dalam diri kita. Tentang tidak menghakimi orang lain dan memahami bahwa standar-nilai kita berbeda-beda. Tentang self motivation. Membalas pesan segera karena khawatir pengirimnya menanti, seremeh apapun pembicaraannya. Menghargai waktu tapi tetap riang-riang melaluinya. Tsiqoh tapi tetap lantang dan berani menjadi diri sendiri. Dan senyum lebar khas yang selalu mengakhirawali percakapan kita.
Pernah beberapa kali berdebat dan berbeda pendapat mungkin membuat kita bingung. Kadang aku menjadi lemah karenanya. Tapi semua seperti biasa, selalu mengawali pembelajaran baru bagi diri ini
Terkadang pemikirannya begitu unik atau rumit, tak kumengerti. Begitu kompleks dan berbeda dari semua. Tapi itu yang membuatnya istimewa. Tidak usah memaksakan diri memahami atau mengerti, cukup sediakan waktu untuk mengamati, maka akan lahir inspirasi-inspirasi.
Ia juga terlibat dalam acara sastra yang kuketuai ketika itu. Menjadi komponen utama, ia sangat bisa diandalkan. Menegur dengan sindiran manis, mengambil alih ketika kondisi membutuhkan, marah dengan penuh keanggunan, mempersuasi dengan kemampuan tingkat tinggi.
Mimpi besar telah jelas dirangkainya. Silaunya masa depan kerap menjadi kekuatan terbesarnya. Roti kacang kesuakaan yang sering kujadikan sogokan sangat lahap disantapnya pelan-pelan. Sikap sangat memperhatikan dan menghargai hal-hal detail membuatku mawas akan sikap cerobohku kini. Pelan-pelan perbaiki, sebagaimana nasihatnya menyentuh hati.
Secukupnya, sesuai takaran saja. Karena dengan begitulah, sayuran menjadi gurih karena garam, roti menjadi pas mengembang, dan langit menjadi biru tenang, tidak terik atau mendung kelam. Begitu sayang paling benar yang kekasih ayahku ajarkan, maka ijinkan kakak menjadi salah satunya.
Semoga kita begini selamanya. Tetap saling menginspirasi dan senyum kelinci. Salam sayang, jerapah. :D
