child care? yeee \^o^/ i'm a good mother wanna be. amin :)
sumber : google picture
Tuesday, January 31, 2012
The Good-natured Realist
tes kepribadian ini bagus lho.
hasilku :
Good-natured Realists like you are warm-hearted, helpful personalities. You do your work conscientiously and you have a pronounced organising talent. You are committed to traditional values. The family in particular is extremely important to Good-natured Realists. Your greatest pleasure is making yourself useful and taking care of other people. But you do not like pushing yourself to the fore; you prefer to fulfil your tasks out of the limelight. Good-natured Realists are real workaholics; you are very reliable and nothing is too much for you when it is a question of completing a project. Thoroughness, conscientiousness and sense of duty are your strongest points. You prefer established and familiar situations to new and unknown situations.In dealing with others, Good-natured Realists are considerate and obliging; you are always happy to put aside your own requirements in the interest of your family and friends. Your home very well cared-for, cosy and tidy. Your perfectionism on the one hand and your aversion to delegating tasks on the other hand often lead to you taking on too much both professionally and privately. You cannot stand discord; conflicts make you very unhappy. One could almost describe you as being harmony-addicted - and this sometimes leads you to strongly neglect yourself and your own wishes because you are unable to bring yourself to put up a fight.
As a Good-natured Realist you are one of the introverted personality types. Consequently, you don’t appreciate too much commotion around you so you can devote yourself to your task with sufficient intensity and concentration. You can work very well alone and while being immersed in a task, you don’t appreciate to be continuously interrupted or disturbed.
Nevertheless, your need for harmony and your adaptability make you a good team worker if necessary. Therefore, you are relatively flexible when choosing your working environment, and have the ability to decide which setting you prefer. A profession that gives you the feeling that you are doing something for other people is important to you. Good-natured Realists are very caring people and enjoy taking care of others. Despite your introverted personality and because you are a feeler-type, it is easy for you to put yourself in the place of others and sense their needs. You are most comfortable in a one-on-one situation; you are less enthusiastic about delivering speeches to major groups. At any rate, when choosing your profession, make sure to surround yourself with people who share your personal ideals and convictions, and on whom you can count to work with you. Too many obstacles to your caring for and supporting others make you unhappy.
For you, it is important to depend on a clear and structured workflow. You need time to prepare yourself for new demands, possibly acquire new competencies, and finish one task after the other. As a matter of fact, you are less opposed to routine work than many other personality types. To a certain extent, you don’t mind dealing with them. In your workday, some diversions should naturally be available, but juggling three balls at the same time isn’t something you enjoy doing because you would be concerned that the quality of your work would suffer. That would be a nightmare for your perfectionist expectations of yourself and your accomplishments.
how is it? do you think it's really me? :)
kamu? silahkan : www.ipersonic.com
Tuesday, January 24, 2012
why did the disease choose me?
pagi hari yang wangi seperti ani-ani
sebenarnya saya sedang turun semangat. saya mengalami suatu penurunan yang menurut saya cukup drastis dalam hal pendidikan, belakangan ini. beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan rencana. hal yang saya janjikan pada orangtua pun, akhirnya untuk kali ini, terlanggar oleh saya. saya benar-benar tidak enak. kecewa pada diri sendiri.
namun keisengan tadi malam membuat motivasi saya menjadi dokter bangkit kembali
tau apa? tadi malam saya begadang, hampir tidak tidur sama sekali semalaman. saya iseng, menonton sebuah drama jepang yang berjudul "1 Litre of Tears". baru beberapa episode awal, saya sudah salut pada pemberi judul drama tersebut karena tisu-tisu saya memang sudah berhamburan karenanya.
saya suka sekali. suka sekali drama ini. dulu waktu diadaptasi oleh indonesia menjadi sebuah film berdurasi singkat, saya juga suka sekali. saya belajar banyak karenanya, apalagi pas denger sebuah pertanyaan dari tokoh Aya :
lalu apa?
lalu apa yang bisa saya lakukan jika keadaannya memang demikian? jika memang penyakit ini belum ada penyebabnya, belum ada terapinya. lalu apa yang bisa saya lakukan. baiklah, biar biar saja kata orang apa tentang nilai-nilai saya, biar saja kata orang apa tentang kesibukan yang mengurangi sebagian volume pipi tembem saya, biar saja mereka bilang apa tentang remedial yang saya jatuh bangun hadapi. biar biar saja.
toh, saya menjadi dokter bukan untuk mereka.
tapi untuk pasien-pasien saya kelak di masa depan. untuk pasien-pasien seperti Aya yang menatap mata saya penuh harap atas jawab pertanyaannya. saya tak rela membiarkan mereka berperang melawan penyakitnya, hanya dengan sepenggal kata "takdir" dari mulut saya. saya akan baca, pahami, pelajari, teliti, selidiki, sampai suatu saat saya temukan jawaban lebih dari sekedar takdir, sampai suatu saat saya temukan terapi lebih dari sekedar semangat. walaupun harus jatuh dan bangun, tertawa dan menangis, bahkan berdarah dan terluka, perjalanan ini tidak akan terhenti, saya janji. pada diri sendiri. saya janji. jika Allah mengijinkan, saya harap saya dapat menjadi perantara kesembuhan dariNya. amin.
ganbate yoo \^O^/
sebenarnya saya sedang turun semangat. saya mengalami suatu penurunan yang menurut saya cukup drastis dalam hal pendidikan, belakangan ini. beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan rencana. hal yang saya janjikan pada orangtua pun, akhirnya untuk kali ini, terlanggar oleh saya. saya benar-benar tidak enak. kecewa pada diri sendiri.
namun keisengan tadi malam membuat motivasi saya menjadi dokter bangkit kembali
tau apa? tadi malam saya begadang, hampir tidak tidur sama sekali semalaman. saya iseng, menonton sebuah drama jepang yang berjudul "1 Litre of Tears". baru beberapa episode awal, saya sudah salut pada pemberi judul drama tersebut karena tisu-tisu saya memang sudah berhamburan karenanya.
saya suka sekali. suka sekali drama ini. dulu waktu diadaptasi oleh indonesia menjadi sebuah film berdurasi singkat, saya juga suka sekali. saya belajar banyak karenanya, apalagi pas denger sebuah pertanyaan dari tokoh Aya :
Why did the disease choose me? I cannot carry it, if it's just for the word "fate".ketika itu. mata saya benar-benar berkaca-kaca. tahu apa yang membuat saya merasa sangat sedih? karena saya seorang dokter. seorang calon dokter yang seharusnya kelak mampu menjawab pertanyaan Aya. "Mengapa penyakit ini memilih saya, Dokter? Saya tidak dapat menanggungnya, jika anda hanya bisa menjawab bahwa ini takdir". tidak. saya pun tidak sanggup menjawab demikian saja. tidak untuk pasien-pasien saya yang akan menghadapi badai besar dalam kehidupannya. untuk pasien-pasien saya yang menaruh harapan besar dalam tiap tutur kata saya, saya tidak sanggup hanya menjawab demikian.
lalu apa?
lalu apa yang bisa saya lakukan jika keadaannya memang demikian? jika memang penyakit ini belum ada penyebabnya, belum ada terapinya. lalu apa yang bisa saya lakukan. baiklah, biar biar saja kata orang apa tentang nilai-nilai saya, biar saja kata orang apa tentang kesibukan yang mengurangi sebagian volume pipi tembem saya, biar saja mereka bilang apa tentang remedial yang saya jatuh bangun hadapi. biar biar saja.
toh, saya menjadi dokter bukan untuk mereka.
tapi untuk pasien-pasien saya kelak di masa depan. untuk pasien-pasien seperti Aya yang menatap mata saya penuh harap atas jawab pertanyaannya. saya tak rela membiarkan mereka berperang melawan penyakitnya, hanya dengan sepenggal kata "takdir" dari mulut saya. saya akan baca, pahami, pelajari, teliti, selidiki, sampai suatu saat saya temukan jawaban lebih dari sekedar takdir, sampai suatu saat saya temukan terapi lebih dari sekedar semangat. walaupun harus jatuh dan bangun, tertawa dan menangis, bahkan berdarah dan terluka, perjalanan ini tidak akan terhenti, saya janji. pada diri sendiri. saya janji. jika Allah mengijinkan, saya harap saya dapat menjadi perantara kesembuhan dariNya. amin.
“Ya Alloh Robb sekalian manusia, hilangkanlah malapetaka. Sembuhkanlah karena sesungguhnya Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit”
(Shahih Bukhori: 5743, Shahih Muslim: 2191).
ganbate yoo \^O^/
Thursday, January 12, 2012
serpihan
saya malu.
terutama kepada diri saya sendiri.
karena telah terlalu angkuh membaca tanda-tanda langit. karena telah terlalu sombong meraba warna-warni temaram malam. sayap saya telah patah. melambungkan diri terlalu tinggi adalah kesalahan saya sendiri. tidak, tidak apa. kini, ketika langit tidak lagi menjadi atap bagi dunia saya, Anda cukup menjauh saja. sungguh. tinggalkan saya sendiri, dan semua akan benar-benar baik-baik saja.
dan
saya berjanji, untuk bangkit lagi, jauh lebih tinggi. dari Anda dan dunia Anda. hingga menjadi debu saja bintang saya selama ini. saya berjanji, untuk tidak ada tangis lagi, setelah malam ini. selamanya. hingga hati saya menjadi baal akan luka, sebesar apapun itu. saya berjanji untuk menjadi yang terbaik. dari mereka yang Anda beri hati. hingga sayalah bintang bagi seseorang yang akan sangat amat saya hargai, esok hari. saya berjanji.
lagipula
saya punya Allah. Ia yang menciptakan Anda dan saya. Ia punya kekuatan tak terbayangkan. maka mudah bagiNya, menjatuhkan serpihan kekuatan itu kedalam jiwa saya. saya punya Mama. yang entah dengan apa, mampu menopang beban hidup sebesar dunia hanya dengan pundak hangatnya. maka sempurna baginya, menyelusupi kemampuan itu kedalam pribadi saya.
hingga suatu hari nanti. saya mampu menghadapi dunia dengan berani (lagi).
:)
ps. terimakasih dan maaf. untuk diri saya sendiri. terimakasih untuk perjuangannya. maaf untuk luka-lukanya. semoga cepat sembuh, semoga cepat dewasa.
Saturday, October 29, 2011
cahaya. 2
“Ya Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi yang lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan ? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, atau kah kepada musuh yang akan menguasai diriku ? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.“
ini adalah sepotong doa Rasulullah ketika beliau merasa sangat kepayahan.
hari ini, aku mengikuti sebuah kajian. agak jauh sih tempatnya, tapi karena diwajibkan dan aku tsiqoh, ya aku datang. awalnya aku kira akan seperti biasa saja, bahas, tanya, jawab, selesai. hambar. tawar. namun ternyata, kajian ini mengingatkaku pada sebuah doa, yang semenjak dulu aku jadikan senjata untuk tetap kuat, yang semenjak dewasa aku baca tulis ulang resapi setiap hari untuk tetap bertahan, yang belakangan karena gegap gempitanya duniaku mulai kulupakan, yang beberapa waktu kemarin tak lagi lisanku ucapkan.
pipiku hangat, wajahku memerah, dan tangisku seperti biasa tumpah.
aku merasa jadi hamba tercengeng di dunia. malu.
tapi biarkan saja. biarkan saja.
aku sedang rindu padaNya
padaNya yang ku cinta sepenuh jiwa
padaNya yang dengan tega telah kulupakan beberapa masa
padaNya yang masih saja kumintai nikmat berjuta juta
Allah. awa sayang banget :")
Sunday, October 16, 2011
maaf, bintang
sementara otak ku harus terus memikirkan milestone atau dosis-dosis albendazole dan mebendazole.
aku hanya ingin memastikan, harusnya aku minta maaf.
untuk perasaan yang sembarangan menentukan bahwa hanya kamu seorang yang bersinar terang. untuk pengharapan yang seenaknya menetapkan bahwa tidak apa-apa hanya melihatmu dari kejauhan. untuk jiwa yang tak tenang hanya karena satu kalimat dalam pesanmu. untuk pipi yang memerah karena salam sapa selamat pagimu.
untuk ketidaksanggupanku melihat tangismu.
untuk membuncahnya kebahagiaanku merasakan tawamu.
untuk kesetiaan tidak bertuan.
yang harusnya (sudah) aku hentikan.
aku hanya ingin memastikan, harusnya aku minta maaf.
untuk perasaan yang sembarangan menentukan bahwa hanya kamu seorang yang bersinar terang. untuk pengharapan yang seenaknya menetapkan bahwa tidak apa-apa hanya melihatmu dari kejauhan. untuk jiwa yang tak tenang hanya karena satu kalimat dalam pesanmu. untuk pipi yang memerah karena salam sapa selamat pagimu.
untuk ketidaksanggupanku melihat tangismu.
untuk membuncahnya kebahagiaanku merasakan tawamu.
untuk kesetiaan tidak bertuan.
yang harusnya (sudah) aku hentikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)



