Tuesday, January 24, 2012

why did the disease choose me?

pagi hari yang wangi seperti ani-ani

sebenarnya saya sedang turun semangat. saya mengalami suatu penurunan yang menurut saya cukup drastis dalam hal pendidikan, belakangan ini. beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan rencana. hal yang saya janjikan pada orangtua pun, akhirnya untuk kali ini, terlanggar oleh saya. saya benar-benar tidak enak. kecewa pada diri sendiri.

namun keisengan tadi malam membuat motivasi saya menjadi dokter bangkit kembali
tau apa? tadi malam saya begadang, hampir tidak tidur sama sekali semalaman. saya iseng, menonton sebuah drama jepang yang berjudul "1 Litre of Tears". baru beberapa episode awal, saya sudah salut pada pemberi judul drama tersebut karena tisu-tisu saya memang sudah berhamburan karenanya.


saya suka sekali. suka sekali drama ini. dulu waktu diadaptasi oleh indonesia menjadi sebuah film berdurasi singkat, saya juga suka sekali. saya belajar banyak karenanya, apalagi pas denger sebuah pertanyaan dari tokoh Aya :
Why did the disease choose me? I cannot carry it, if it's just for the word "fate".
ketika itu. mata saya benar-benar berkaca-kaca. tahu apa yang membuat saya merasa sangat sedih? karena saya seorang dokter. seorang calon dokter yang seharusnya kelak mampu menjawab pertanyaan Aya. "Mengapa penyakit ini memilih saya, Dokter? Saya tidak dapat menanggungnya, jika anda hanya bisa menjawab bahwa ini takdir". tidak. saya pun tidak sanggup menjawab demikian saja. tidak untuk pasien-pasien saya yang akan menghadapi badai besar dalam kehidupannya. untuk pasien-pasien saya yang menaruh harapan besar dalam tiap tutur kata saya, saya tidak sanggup hanya menjawab demikian.

lalu apa?

lalu apa yang bisa saya lakukan jika keadaannya memang demikian? jika memang penyakit ini belum ada penyebabnya, belum ada terapinya. lalu apa yang bisa saya lakukan. baiklah, biar biar saja kata orang apa tentang nilai-nilai saya, biar saja kata orang apa tentang kesibukan yang mengurangi sebagian volume pipi tembem saya, biar saja mereka bilang apa tentang remedial yang saya jatuh bangun hadapi. biar biar saja.
toh, saya menjadi dokter bukan untuk mereka.

tapi untuk pasien-pasien saya kelak di masa depan. untuk pasien-pasien seperti Aya yang menatap mata saya penuh harap atas jawab pertanyaannya. saya tak rela membiarkan mereka berperang melawan penyakitnya, hanya dengan sepenggal kata "takdir" dari mulut saya. saya akan baca, pahami, pelajari, teliti, selidiki, sampai suatu saat saya temukan jawaban lebih dari sekedar takdir, sampai suatu saat saya temukan terapi lebih dari sekedar semangat. walaupun harus jatuh dan bangun, tertawa dan menangis, bahkan berdarah dan terluka, perjalanan ini tidak akan terhenti, saya janji. pada diri sendiri. saya janji. jika Allah mengijinkan, saya harap saya dapat menjadi perantara kesembuhan dariNya. amin.

“Ya Alloh Robb sekalian manusia, hilangkanlah malapetaka. Sembuhkanlah karena sesungguhnya Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit” 
(Shahih Bukhori: 5743, Shahih Muslim: 2191).

ganbate yoo \^O^/

No comments:

Post a Comment