Disamping kotak sulap penuh gambar dan suara, gaduh mengganggu imajiku
hai. hai. hola
datang juga kau september. aku menantimu, kau tahu. mengapa begitu lama ha? terbenam dalam jalanan becek lembeknya desember? atau terganggu angin dan guguran dedaun-dedaun Juni? aaah. biar sajalah, yang penting engkau sudah disini, tiba dengan gempita. horee \^u^/
hai hai september. satu tahun bukan lamanya kita tak berjumpa? atau aku hanya euforia dan tak sadar bahwa engkau sudah disini semenjak kemarin, lusanya dan semasa. apakah waktu terhenti? atau aku saja yang bermimpi tak ingin kau pergi. aaa. biar sajalah, yang penting engkau bersamaku kini, jumpa dan ceria. yeeaa \^o^/
eh eh september. kini aku dewasa lho. sudah hampir kepala dua (atau tiga?). aku sudah bisa menyentuh kelopak penuh rambut disamping pipi gemukku. aku sudah bisa menggapai langit-langit pintu depan ruang tidurku, eh itu tinggi lho, setidaknya sejengkal diatas kepala jerapah (?) eh salah. aku juga sudah bisa menyisir rambut temali ku sendiri, meski agak sulit dibagian ujungnya (ya, kau tahu sendiri bagaimana mereka, buat ribut saja, tak mau kupangkas sehelai pun temannya). aku senang sekali. sedih sekali. eh?
harusnya aku bagaimana ya september? deraian hujan diluar sana selalu saja memacu dopamin dalam tubuh mungil ini. tak bisa kutahan laju kaki yang tertuntun hati, menari-nari dibawahnya. meski basah, ah, itu tak pernah jadi masalah. dulu. saat aku masih kecil.
kini aku sudah dewasa
kata mereka
harusnya aku duduk saja, perhatikan. atau jika terpaksa, pasang payung, jaket dan syalnya, maka aku boleh menyentuh.
sentuh?
padahal aku tak pernah alpa, meraba rasakan melodi rinai dan gerimisnya. padahal aku tak pernah lupa, menghidu resapi wewangi dan deraian tiap tetesnya. tapi aku sudah dewasa, kata mereka.
haruskah aku duduk saja?
ataukah aku boleh kesana? deraian hujan memanggil-manggil jiwa kehidupanku.
- dilema hari ulang tahun -
No comments:
Post a Comment