Dibawa gemuruh langit malam, menanti pagi tak tenang.
bulan suci itu pergi saja, begitu, tak menantiku perbaiki hati dan diri sedikit lebih lama lagi. Eh, mungkin aku yang santai, terlalu lalai seakan hidupku memang terbengkalai seperti belalai (?). Aaah. iya, aku yang pasai. Aku harap datang lagi, bersama bulan suci yang akan selalu lebih kuhargai. bagai badai. hanya tiba sekali kali.
tapi seru sekali. adrenalinku berlari-lari selama sebulan berharga yang kulalui. tidak, aku tidak mendaki gunung merapi. ooh, bukan pula menjelajahi hutan dan semua ngarai. hanya saja, bertemu matahari dan bintang-bintang selalu membuatku sempurna kembali. mereka selalu saja.
menghangatkan.
hei, jangan menatapku begitu, ini bukan tentang yang satu itu. (memangnya hanya dia yang bintang?! :P)
matahariku itu, tak bisa dibandingkan dengan semesta. ia yang paling terang, meski demikian, sinarnya tak pernah sedikit pun menyakitiku. dalam siang, tumpahlah segala sinar yang mampu ia berikan. biar, biarkan saja helium dan semua yang ada didalamnya terbakar, biar biar saja, biar aku sempurna, katanya. bakar bakar saja, agar aku tak gamang, serunya.
matahariku itu, tak ada duanya di jagad raya. hei jangan hiraukan bentuknya. memang hanya segumpal bola, seakan sama dengan planet dan derivat benda langit lainnya. bagiku, bukan. bukan sama, tapi sangat istimewa. karena, dalam malam, meski ia jauh di mata, namun sesungguhnya tak semikrodetik pun ia tinggal ku sendiri. meski dengan cara berbeda, sinarnya selalu saja. ada disana. meski dengan wujud tak biasa, hadirnya senantiasa. temaniku bersama.
aah. matahari. aku sungguh rindu. hingga pagi dimana langit enggan lagi berdiri gemilang dan bumi enggan lagi seharmoni dengannya,
tolong.
jangan tinggalkan aku ya?
- teruntuk mama tersegalanya yang kupunya. :) -
bintang-bintang?? haha. tunggu ceritanya.

No comments:
Post a Comment