Sahabat Hebat
20 Maret 2010...
Usianya hanya terpaut beberapa tahun denganku. Meski terlihat lebih muda, tapi sungguh selama ini, ialah yang selalu menguatkanku, menjagaku untuk tetap berdiri setelah jatuh, menopangku agar tetap berlari setelah berhenti.
***
4 Januari 2011...
Sudah semenjak berkaki empat kami bersahabat. Ibuku dan Ayah Aini adalah teman sekelas sewaktu SMA dan seakan tak ingin kehilangan hubungan, kami mewarisi persahabatan itu. Bahkan persahabatan itu dihiasi dengan nama kami yang mirip, Ainindya dan Anindita. Haha. Aku menikmati persahabatan ini. Aku menyukai kebersamaan kami. Terutama saat ia menghentikan waktu. Yup, ia menghentikan waktu. Senyumnya, tawanya, lesung pipitnya, ceria dan riang gembiranya seakan selalu menghentikan perputaran masa. Memesonakan semua makhluk Tuhan yang memandangnya. Beda sekali denganku yang pendiam, pemalu, yang bisanya cuma belajar atau baca buku disudut kelas. Tapi gapapa, paling tidak, ia sahabatku.
***
18 Juni 2011...
Lagi. Aku kalah dalam perlombaan. Yang kesekian kalinya dalam tahun ini. Membuat aku merasa bahwa semua mata menatap tajam kepadaku, menuntut seorang juara bertahan ini untuk mebuktikan kemampuannya. Itu membuatku sesak. Dadaku serasa panas dan akan meledak.
Lagi. Aku gagal menjadi juara kelas. Yang kesekian kalinya dalam beberapa semester belakangan. Membuat aku merasa bahkan guru-guru pun bertanya degan tegas, apa yang terjadi pada anak emas mereka ini. Itu membuatku terisak. Kerongkonganku terasa penuh, asam.
Lagi. Lelaki yang aku kagumi semenjak masih berpakaian putih merah, ternyata kagum kepada wanita lain. Wanita yang kesekian dalam belasan tahun persahabatan kami. Ia bahkan memarahiku dan mengatakan bahwa aku murahan. Itu membuat mukaku memerah. Mataku bengkak, hingga berhari-hari berikutnya.
Dan lagi-lagi.semua seakan tidak berhenti. Ibu pergi. Setelah ayah menuduhnya selingkuh.
Kenapa hidupku yang sempurna berubah secepat ini menjadi neraka. Rasanya aku mau menghilang saja. Rasanya aku mau pergi saja. Ini gara-gara dia, dia yang selalu menang sekarang. Dia yang selalu saja bahagia, bahkan diatas penderitaanku. Dia yang selalu saja dibanggakan, bahkan oleh Ayah dan Ibuku. Aku benci, muak. Kapan ini akan berakhir. Kalau Tuhan tidak bertindak, biar aku saja.
***
22 Juni 2011...
“Dear Anindya, sahabat yang paling Aini sayang...
Anin, Aini selalu nganggep kamu tu sahabat Aini yang paling baik. Aini selalu jadiin kamu sebagai panutan Aini. Aini berjuang keras supaya bisa jadi juara kelas dan berprestasi seperti kamu. Supaya Aini pantas jadi temen kamu, Anin. Aini juga nolak pernyataan cinta Ryo, karena Aini mau kayak Anin. Mau fokus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sabar Anin, Aini tau Anin sayang banget ama ibu, tapi ibu pasti udah tenang di surga sana. Mulai sekarang, Anin boleh anggap ibu Aini, ibu Anin juga.
Makasi ya Anin, udah mau jadi sahabat Aini. Meski banyak orang bilang kita ga selevel, Aini gapapa kok. Aini justru mau bilang, Apapun kata orang lain atau bagaimanapun pandangan mereka tentang Anin, Aini selalu bangga sama Anin. Sahabat Aini yang paling hebat.”
Potongan surat Aini.
Remuk dalam genggamanku.
Berlumur bercak darahnya dan tetesan airmata terakhirku.