"Ada makna dibalik setiap pertanda. Firasat ini.."
"Australia"
Katanya, begitu saja. Tak menghiraukan gemetar kakiku yang tak henti sedari pertamanya pertemuan tak biasa ini. Andra, kita tak biasa bertemu bila tak senja. Andra, kita tak biasa bertemu bila tak main basket. Maka pertemuan malam ini sungguh tak biasa dan entah kenapa membuatku gamang.
Maka benarlah firasat itu, engkau bukan sedang gila ngidam bermain basket di malam hari. "Hana, Australia", ulangmu sekali lagi, buyarkan genangan hujan di pelupuk bola mataku.
"Ya, ya, aaa Australiaaa. Banyak kangguru, tentu. Aku ikut senang," kupamerkan gigi kelinci yang selama ini kerap kau ejek itu, An.
"Na..," ujarmu pelan dengan tatapan super aneh. Alismu turun, tapi matamu terang bagai bulan lengkap sempurna seperti biasa.
"Kenapa? Bukankah engkau amat menginginkannya. Sekolah teknik di Australia. Maka, apalagi yang kau khawatirkan, bro?" cobaku sedikit bercanda sembari mengamit lengan bak lobak raksasanya. Lalu aku mengoceh tak tentu arah tentang nanti akan saling mengunjungi, berkirim foto, dan tentu menelpon lewat skype. Bola mataku tak lagi fokus bergerak-gerik kesana kemari menghindari jatuhnya hujan malam ini.
Dia hanya diam, menatapku dalam-dalam.
***
Kami berjanji akan tetap saling komunikasi. Ia berjanji akan menelponku sesekali meceritakan hujan dan senja di sana. Enam tahun, karena ia akan melanjutkan S2, "itu tidak lama, hahaha" ujar kami berdua menghibur lara.
Dan inilah harinya
Aku tak tau akan seperti apa, hanya saja ada sesuatu yang kurasa namun tak kupercaya. Tak ingin kupercaya.
***
Keluarga adalah segalanya bagiku. Meski tomboy, anak basket, suka hip-hop, gadis 18 tahun ini memang anak manja. Tak segan peluk mama dari belakang ketika memasak atau tak peduli dengan wajah bersungut papa ketika malas-malasan mandi, sudah biasa. Keluarga adalah segalanya, dalam keluarga ini, tak akan ada yang ditinggal atau dilupakan. Begitu janjinya sebagai anak pertama.
Tapi, status itu.
Anak pertama.
Ternyata tak semudah mengatakannya. Semua tak seindah itu ketika kamu beranjak dewasa dan menyadari tanggung jawabnya. Tak ada keluarga yang sempurna. Bak gelas kaca.
Maka ketika gelas itu pecah,
Tugasmulah menyatukan satu demi satu serpihannya.
Terluka sudah biasa. Gelas ini harus satu. Karena tak ada yang sempurna, yang ada hanya mereka yang bersikeras mempertahankan dan memperbaikinya.
Jika semua ini rusak,
Bukan tempat sampah tempatnya. Bukan pula tukang servis atau pedagang loak di pojok pasar sana. Tapi telapak tanganmulah, lebar pundak dan hatimulah, tempat berlabuhnya. Beristirahat sejenak dan bertahan. Menyelesaikan permasalahan dengan senyuman.
Aku bukan anak yang baik. Aku bukan kakak yang sempurna. Maka, akulah perubahan.
***
"Kau yakin?"
"Apa, menjadi ketua keputrian Rohis SMA kita? Haha, Di. Ayolah, kau sahabatku semenjak SD. Kapan aku tak bersungguh-sungguh dalam keputusan, hm?" balasku dengan senyuman meyakinkan.
"Semua akan baik-baik saja, okey? Meski aku ketua keputrian" kuharap demikian..
Tidak juga. Tiga tahun, tidak. Tepatnya tiga tahun tiga bulan, tak ada komunikasi dengan Andra. Bukan salahnya atau sinyal internet Indonesia. Aku, aku saja yang menghentikan. Jangan tanya mengapa, karena aku tak akan bisa menjelaskannya sesempurna aku melafazkan ayat suci atau mendebatkan kebijakan anggaran kesehatan negri kita. Hanya saja, firasatku berkata,
Semua ini tak pantas.
Mendewasalah, dan segera pulang, An.
Karena firasatku berkata..
**
No comments:
Post a Comment