apa menurut mereka dewasa itu. bagaimana ruparupanya. bagaimana cara mencapainya. tidak semua mampu menjawab. sebagian besar jawaban tidak memberi sedikit pun kepuasan pada gadis kecil itu. kebanyakan teoritis. dan rasarasanya Hanum tidak akan mampu mencapainya, itu yang paling membuatnya tidak puas.
menjadi anak pertama, membuat Hanum seharusnya dewasa kan? namun beberapa mereka bilang Hanum kekanakan, bahkan dengan lantang menyebut manja. haha. entah dengan alasan sejuta tingkahnya yang terlalu berlebihan, gaya bicara yang tak juga rapi-rapi, gaya berpakaian asal yang masih ga pedulian, tertawa yang terlalu lepas, atau kelalaian-kelalaiannya atas tugas-tugas.
awalnya resah.
pendapat mereka-mereka mempengaruhi Hanum. Hanum merasa tidak enak pada adik sendiri karena tidak juga dewasa-dewasa. tidak membimbingnya dengan baik, tidak menjadi tempat nyaman baginya untuk bercerita gundah gulana. entah mengapa, tapi begitulah adanya.
namun,
bertemu banyak orang, mengamati, dan mempelajari manusia membuat Hanum tidak lagi resah. kenapa? santai saja. they don't know what she has been through. Allah paling tahu. Mama disampingnya selalu. Keluarga menerima apa adanya dan membantu. maka apa pedulinya? telah duapuluhan tahun Hanum bertahan menghadapi banyak hal. dan Hanum bersyukur atas segala sesuatu. meski tampilannya begitu, siapa yang tahu bisa sekuat apa ia didalam sana. meski gayanya begini, siapa yang tahu telah sedewasa apa ia selama ini.
ia tidak pula merasa sebal. terima kasih, begitu ucapnya. dengan penilaian mereka, Hanum belajar bahwa tidak ada yang bisa menghakimi manusia. tidak ada yang bisa melihat apa yang disimpan di dalam dada. Allah saja yang tahu semua. dan cukuplah itu baginya.
dan terima kasih. menjadi dewasa kini adalah pembuktian berikutnya :)
semangat!
"Allah menunda penilaian tiap manusia hingga akhir masa, maka apa kuasa kita menilai orang lain hanya dari secuplik kisah kehidupannya?"