"Tetes hujan kebingungan, berjatuhan menghantam bumi. Maka dimanakah cahaya senja kala itu?"
biasanya setiap pagi aku akan berdiri di beranda sana menikmati matahari pertama. sejenak melupakan suntuk semalam yang ku pendam dalam-dalam. namun belakangan pagi mulai menakutkan, perpisahanku dengan malam yang diprakarsainya membuatku mulai menghindari pagi. belum lagi semakin banyak pagi, berarti semakin habis hari. seragam putih abu harus tak kukenakan lagi.
Hana, sebagai anak pertama engkau seharusnya sadar, menjadi tulang punggung keluarga suatu saat nanti merupakan takdirmu. maka mengejar mimpi setinggi langit menjadi kutukanmu. tak ada waktu untuk melampaui semua masa remaja penuh warna-warni itu. hanya biru dan kelabu buku, yang patut menjadi sahabatmu kini.
belum pula tentang Ia, yang baru kausadari besar cintaNya. melihatNya selalu ada untukmu, seharusnya membuatmu sadar akan waktu. tentang akan tiba masa dimana wajahNya merupakan hadiah terbesar atas pengabdian tiada akhirmu. maka nikmatNya yang manakah yang dapat engkau dustakan?
ketika itulah aku berubah, kawan. masa putih abu menjadi saksi perubahan drastisku. sejenak kutinggalkan permainan basket kesayangan. sejenak kutinggalkan senja dan hujan waktu permainan. konsentrasi menghadapi masa depan menjadi fokusku kala itu. hingga hati pun ku kunci rapat-rapat, untuk orang tuaku dan Tuhan saja cukuplah semua itu.
***
"Ada apa dengan jilbabmu, Hana? mengapa menjadi semakin panjang dan tertutup, lama-lama aku takut melihatnya" gumam Diana, sahabat kesayanganku.
"Di, belakangan aku sadar, aku sayang banget sama Allah. nah, Di. Allah minta aku mengulurkan jilbab hingga punggung dan dadaku, maka apalah yang dapat kuperbuat selain menaatiNya? seperti seorang pecinta yang mematuhi kekasihNya"
Didi (begitu aku biasa memanggilnya) terdiam.
"Lagi pula, heey. apa yang engkau takuti, Di. aku masih mengalahkanmu dalam hal bermain basket. dan aku masih hafal lagu favorit kita. tenang, ini tidak akan sedikitpun mempengaruhi kita, oke?"
Hanya saja, itu mempengaruhi aku.
dengan Andra
***
To: Andra
"Apa yang jangan? Mengapa pula engkau harus pulang?"
lagi-lagi pertanyaan bodoh ala putri lugu itu terucap dari bibirku, tanpa menghiraukan pikiran yang merutuki kelemahan hati. cih, bukankah aku yang dahulu menasihati adik-adikku di rohis, tentang bagaimana seharusnya hati wanita terutama muslimah, itu harusnya menjadi tangguh. maka kini kemana hilangnya ketangguhan itu.
To: Hana
"Bodoh. Tunggu saja, Aku akan bicara pada Dika. Tentang kita. Tenang saja, ia kakakku dan ia akan mengerti"
kita? sejak kapan ada kita? sejak kapan ada kamu yang disandingkan dalam kita. selama ini kita hanya tentang pesanku pada senja, tentang hujan yang berusaha menyampaikannya. tapi itu tidak pernah nyata. sejak kapan pula engkau berani menggunakan term itu.
tidak.
pernah.
tidak akan.
pernah. ada kita.
Tetes hujan kebingungan, berjatuhan menghantam bumi. Maka dimanakah cahaya senja kala itu?
No comments:
Post a Comment