liburan tanpa kegiatan, membuat kebiasaan lama timbul kembali
dulu, kau begitu semangat menjelaskannya. "sastra itu indah, awa. mungkin bukan bagimu, tapi buatku, sastra itu indah. sangat". kalimat panjang yang kau tuturkan sambil menerawang langit. membuatku pun tanpa henti menatap binar mata itu. sastra ya. hmm. aku tidak berbakat memang. tapi aku juga tahu bintang, sastra itu indah. dan itulah, binar yang menghiasi kedua bola mata itu, yang membuatku belajar sastra. haha. jangan tertawa. aku memang anak kedokteran. corpora quadrigemina, arbor vitae et cerebellum, atau foramina cribosa ossis ethmoidales adalah penghias hariku. tak luput anencephaly, spina bifida occulta, atau microsephalus dengan meningoencephalocele dari ingatanku. tapi itu tak menghalangiku memainkan kata-kata, bintang. penaku selalu disini, menari-nari di atas catatan anatomi atau lembar laporan embriologi, sesekali ia juga mengerti, bahwa aku ingin melihat binar mata itu. maka ketika itu pula, ia akan melakukan tugasnya, menuliskan warna hatiku.
tapi kau tahu?
dari beribu kata di dunia, ada satu yang menjadi keahlianku. menuliskan itu berulang kali, membuatku mahir melakukannya. kau tahu? ok, kau selalu tahu segalanya. ya, spasi. aku mahir sekali membuat spasi. aku suka sekali menuliskannya. karena ketika itu, akan ada jarak diantara kata-kata yang kemudian membuat mereka saling mengerti, bahwa untuk bertatapan, terkadang kita harus menjauh sedikit. atau untuk memahami keindahan, terkadang kita harus memberi ruang pandang.
namun sepertinya,
terlalu banyak spasi antara kata-kata kita, hingga perlahan semua menghilang begtu saja. tanpa titik atau koma, aku kini hanya sastra tanpa nama. mungkin, akan selalu lebih baik begitu, karena harusnya, aku berhenti menuliskanmu.
masihkan tentang bintang yang lama, kak?
ReplyDelete*like sangat >_<
haha. zahra. :)
ReplyDelete